Ibnu Hajar Al Asqalani

cara-global.blogspot.com: Beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al Kinani Al Asqalani. Ia lahir, tinggal dan meninggal dunia di Mesir. Ia adalah penganut madzhab Syafi’i, ia juga seorang hakim agung (Qadhi Qudhat) dan ulama besar Islam.
Murid beliau, Syaikh Ibnu Taghri Burdi mengatakan, bahwa Ibnu Hajar adalah orang yang memiliki dedikasi tinggi, berwibawa, bersahaja, cerdas, bijaksana, dan pandai bergaul.” Syaikh Al Biqa’i -muridnya juga- berkata, “Ibnu Hajar adalah orang yang memiliki pemahaman dan hafalan yang luar biasa, sehingga memungkinkan untuk mencapai derajat kasyaf, yang dapat menyingkap sesuatu yang tersembunyi. Ia juga memiliki kesabaran yang kokoh, semangat yang tinggi dan hati yang istiqamah.”
Najmuddin bin Fahd, seorang ahli hadits negeri Hijaz mengatakan,  “Beliau adalah muhaqqiq yang handal, pintar, fasih, berakhlak mulia dan teguh dalam melaksanakan perintah agama. Dalam syair dikatakan,
Mustahil akan datang suatu masa seorang seperti Ibnu Hajar
Sesungguhnya masa seperti itu sangatlah sulit.
Guru Beliau
Ibnu Hajar banyak melakukan perjalanan ke berbagai penjuru untuk mencari ilmu sehingga banyak bertemu dengan para ulama terkemuka yang ikhlas memberikan pelajaran kepadanya. Diantaranya adalah, Imam Balqini yang terkenal dengan banyak menghafal dan membaca, Ibnu Mulaqqin yang terkenal banyak karangannya, Syaikh Al Iraqi yang sangat menguasai ilmu hadits, Haitsami yang banyak hafal matan hadits, Fairuzabadi yang terkenal ahli bahasa, Ghamari yang menguasai bahasa Arab, Muhib bin Hisyam dan ‘Izz bin Jama’ah yang keduanya banyak menguasai berbagai disiplin ilmu, dan Tanwakhi yang terkenal dengan pengetahuan akan qira’at (bacaan dalam Al Qur`an) dan sanadnya.
Guru beliau banyak sekali dan dikumpulkan dalam kitabnya Al Mujamma’ Al Muassas li Al Mu’jam Al Mufahras.
Ibnu Hajar adalah seorang murid yang mempunyai semangat tinggi, pandai, memiliki hafalan yang kuat dan  pemahaman yang baik. Hal itu sangat memudahkannya untuk menguasai berbagai disiplin ilmu yang mereka ajarkan.
Ibnu Hajar adalah seorang ahli bahasa, nahwu dan sastra. Berikut ia memuji Rasulullah SAW dalam salah satu syairnya:
Muhammad adalah pembawa rahmat dan pemberi petunjuk bagi manusia,
Alangkah celakanya bagi yang memusuhinya karena ia tidak akan mendapat rahmat.
Kaum mukminin  mendapat keselamatan darinya,
Apabila berjalan di hadapan para pembangkang di neraka.
Allah-lah yang selalu menjaganya dari hawa nafsu,
Dalam memberikan perintah dan larangan.
Maka hati-hatilah orang yang menentang perintahnya,
Dari bencana dan siksaan yang sangat menyakitkan.
Memiliki mukjizat yang sangat banyak dan tanyakanlah,
Kepada kerikil-kerikil dan binatang-binatang yang membenarkan.
Beliau sangat menguasai ilmu nahwu dan memiliki kemampuan untuk memecahkan persoalan dengan mengambil syahid (contoh) dari Al Qur`an dan hadits untuk menguatkannya, bahkan terkadang beliau melakukan kritik terhadap ulama nahwu, sehingga di antara mereka ada yang mengatakan,
Kamu telah mempelajari ilmu nahwu dan menguasainya
Sehingga menjadi seorang malik (menguasai ilmu nahwu) dan Ibnu Malik (pengarang Alfiyah -penerj.).
Ibnu Hajar juga seorang Muarrikh (sejarawan). Beliau sangat senang mengkaji sejarah, peristiwa, dan kehidupan para perawi dengan teliti, obyektif dan pikiran yang cerdas.
Ibnu Hajar juga seorang Mufassir (ahli tafsir). Beliau menghafal dan memahami Al Qur`an, mengetahui qira’at (bacaan) Al Qur`an, kemudian mendalami ilmu Al Qur`an, tafsir, nasikh-mansukh, muthlaq-muqayyad, dan ‘aam-khash. Setelah itu beliau menafsirkan ayat-ayat Al Qur`an.
Ibnu Hajar juga seorang faqih (ahli Fikih). Dalam mendalami fikih beliau memiliki metode sendiri, yaitu dengan menggabungkan antara fikih dan hadits. Kedua ilmu ini sangat jarang dikuasai oleh satu orang sekaligus. Sebelumnya beliau menguasai ilmu hadits, setelah itu digabungkan dengan fikih sehingga menjadi fikih hadits, hal itu dilakukan karena beliau memiliki kemampuan dalam melakukan istinbath (mengambil kesimpulan hukum) dari nash, atau kemampuannya dalam menggabungkan beberapa pendapat, sehingga dengan kemampuan itu beliau termasuk muhaddits Al fuqaha` (ahli haditsnya ulama fikih) dan faqih Al Muhadditsin (ahli fikihnya ulama hadits) pada masanya.
Ibnu Hajar juga seorang Muhaddits (ahli hadits). Beliau menguasai ilmu hadits dirayah dan riwayah, mengetahui cacat sebuah hadits, kritik sanad, nama perawi hadits, biografi para perawi, jarh dan ta’dil, sehingga beliau menjadi seorang ulama ilmu hadits.
Hafizh Tajuddin bin Qarabili berkata, “Aku bersumpah atas nama Allah, tidak ada seorang di Damaskus yang banyak menghafal hadits setelah Ibnu Asakir kecuali Ibnu Hajar.” Pada kesempatan yang lain dia telah melebihkan beliau dari para ahli hadits yang lain, seperti Mazzi, Barzali dan Dzahabi, lalu ia berkata, “Dalam diri Ibnu Hajar terkumpul semua dari apa yang mereka miliki dalam memahami dan menghafal matan, sanad, dan melakukan istimbath hukum serta menyatukan dua dalil yang kontradiksi.”
Murid Beliau
1.      Al Hafizh As-Sakhawi (831-902 H), seorang ulama besar dan  sejarawan ahli hadits, tafsir, fikih, ilmu bahasa (linguistik), sastra Arab dan orang yang paling menguasai ilmu jarh wa ta’dil (kritik sanad dan matan).
Diantara kitab karangannya adalah, “Fath Al Mughits fi Syarh Alfiyah Al Iraqi”, “Syarh At-Taqrib li An-Nawawi”, “Maqashid Al Hasanah”, “Syarh Asy- Syama`il li At-Tirmidzi”,  dan lainnya.
2.      Zakaria Al Anshari (826-926 H). Syaikh Islam, Hakim Agung (Qadhi Qhudhat), dan penghafal hadits. Ia juga ahli tafsir, fikih, qira’at, tasawwuf, nahwu dan mantiq (logika).
Buku-buku karangannya adalah, “Fath Ar-Rahman bi Kasyfi ma Yaltabisu min Al Qur`an”, “Tuhfat Al Bari ‘ala Shahih Al Bukhari”, “Syarh Sudzuru Adz-Dzahab fi Nahwi”, “Ghayat Al Wushul fi Ushul Fiqh”, “Asna Al Mathalib fi Syarh Raudh Ath-Thalib fi Al Fiqh”, dan kitab-kitab lainnya.
  1. Al Kamal bin Hamam (790-861 H), seorang ulama dalam bidang fikih, ushul fikih, tafsir, faraidh, tasawuf, nahwu, sharaf dan yang lainnya.
Karangannya, “Fath Al Qadir fi Syarh Al Hidayah fi Al Fiqh Al Hanafi”, “Tahrir fi Ushul Fiqh”, “Zaad Al Faqir Mukhtashar fi Furu’ Al Hanafiah”, dan lainnya.
  1. Ibnu Taghri Burdi (813-874 H), seorang tokoh besar ahli sejarah. 
Diantara buku-buku karangannya, “Al Minhal Al Shafy wa Al Mustawfa ba’da Al Wafa”, “An-Nujum Az-Zahrah fi Muluk Mishri wa Al Qahirah”, “Hawadits Ad-Duhur fi Mada Al Ayyam wa Syuhur”, dan lainnya.
  1. Abu Al Fadhal bin Syahnah (804-890 H), seorang ahli fikih, ushul fikih, hadits, sastra dan sejarah. Karangannya adalah, “Thabaqat Al Hanafiah” dan “Nihayat fi Syarh Al Hidayah.”
 Karangan Ibnu Hajar
Syakhawi menyebutkan dalam kitabnya Al Jawhar wa Ad-Durar, bahwa karangan Ibnu Hajar berjumlah 270 kitab. As-Suyuthi dalam kitabnya Nazham Al Uqyan menyebutkan, karangannya berjumlah 198 kitab. Al Biqa’i mengatakan karangannya berjumlah 142 kitab dan Haji Khalifah dalam kitabnya Kasyfu Azh-Zhunun mengatakan, bahwa karangannya berjumlah 100 kitab.
1. Aqidah:
a. Al Ayat An-Niran Fi Ma’rifah Al Khawariq Wa Al Mu’jizat.
b. Al Bahts ‘An Ahwal Al Ba’tsi.
2. Ulum Al Qur`an
a. Al Itqan fi Jam’i Ahadits Fadha’il Al Qur`an.
b. Al Ahkam li Bayani  Ma Waqa’a fi Qira’at Min Al Ibham.
3. Ulum Al Hadits
a. Abdal Al Shafiyat Min Ats-Tsaqfiyat.
b. Ithaf Al Mahrah Bi Athraf Al ‘Asyrah.
c. Al Istidrak ‘Ala Al Hafizh Al Iraqi Fi Takhrij Ahadits Al Ihya`
d. Al Istidrak ‘Ala (Nakti Ibnu Shalah) Li Syaikh Al Iraqi.
e. Athraf Ash-Shahihain ‘Ala Al Abwab Wa Al Masanid.
f. Athraf Al Firdaus li Ad-Dailami
g. Afrad Muslim ‘An Bukhari.
h. Al Itqan Bi Tartib Ad-Daruquthni ‘Ala Al Anwar.
i. Tartib Al ‘Ilal ‘Ala Al Anwa’
j. Taghliq At-Ta’liq Wa Huwa Yubaiyin Ma Yahtajuhu Al Ba’its Min Syarh Al Jami’ Ash-Shahih Li Al Bukhari. Dalam kitab  ini Ibnu Hajar mengambil referensi sekitar 350 kitab.
k. Taqrib At-Tahdzib. Ringkasan dari kitab Tahdzib At-Tahdzib yang diambil dari kitab Tahdzib At-Tahdzib Al Kamal, kitab yang membicarakan tentang perawi-perawi hadits karangan Hafizh Al Maqdisi.
Adapun kitab Fath Al Bari Syarh Shahih Bukhari, Ibnu Hajar menerangkan hadits-haditsnya, menjawab problem yang berkaitan dengan sanad dan perawi hadits, serta menerangkan perawi dan derajatnya dengan cara jarh wa ta’dil (kritik sanad dan matan), disamping itu beliau juga menerangkan masalah-masalah fikih. Adapun penulisan buku ini, beliau membutuhkan waktu selama 25 tahun.
4. Sejarah (Tarikh)
a. Kitab Al Ishabah fi Tamyiz  Ash-Shahabah. Kitab ini terdiri dari 4 jilid besar,  yang membicarakan biografi 12.297 orang.
b. Ad-Durar Al Kaminah fi A’yan Al Mi`ah Ats-Tsaminah.
5. Bahasa Arab
a. Kitab Al Ashlah fi Al Imamah Al Afshah.
b. Bulugh Al Maram Min Adillah Al Ahkam.
Karangan yang disebutkan ini hanya sebagian kecil dari karangan beliau yang berjilid-jilid, sehingga kita berpikir bahwa Allah benar-benar telah memberikan kepadanya anugerah yang sangat banyak, yang dengan kemampuan, tenaga, waktu dan umurnya, beliau dapat menulis kitab-kitab dengan jumlah yang sangat besar, yang bagi kita pada masa sekarang ini sangat kekurangan waktu untuk membaca karangan-karangannya, apalagi untuk menulis kitab seperti yang beliau lakukan.
Syaikh Al Allamah Al Faqih Syaukani berkata tentang Ibnu Hajar, “Beliau adalah seorang ulama besar yang menguasai ilmu hadits, diakui hafalannya, mengetahui yang dekat dan jauh, musuh dan teman, sehingga pantas diberikan gelar ‘Al hafizh’. Murid-murid beliau berdatangan dari segala penjuru, karangan beliau pun telah tersebar di seluruh penjuru pada masa hidupnya.”

Semoga Allah memberikan rahmat kepada beliau dan meninggikan derajatnya, serta memberikan manfaat kepada kaum muslimin, walhamdulillahi rabbi Al’ alamin.
---------------------
ref. fathul baari
terb. pustaka azzam