Abu Hurairah

Dia adalah Abu Hurairah Ad-Dausi Al Yamani.

Ada banyak pendapat mengenai nama aslinya, dan yang paling kuat adalah Abdurrahman bin Shakhar. 

Gelarnya yang paling dikenal adalah Abu Hurairah (anak kucing). Abu Hurairah pernah berkata, “Aku dijuluki dengan sebutan Abu Hurairah karena ketika aku menemukan seekor anak kucing, aku memasukkannya ke dalam sakuku.”

Dia seorang imam yang faqih, mujtahid, Al Hafizh, sahabat Rasulullah SAW, dan sayyidul huffazh yang telah mendapat pengakuan.

Wa`il bin Hujur bin Sa’ad

Dia adalah Abu Hunaidah Al Hadrami, seorang bangsawan dan pembesar kaumnya. Dia pernah menjadi utusan. Dia juga meriwayatkan hadits.

Ketika Mu’awiyah datang ke Kufah, dia menemui Mu’awiyah lalu membai’atnya.

Diriwayatkan oleh Alqamah bin Wa‘il dari ayahnya, bahwa Wa‘il pernah mengirim seorang delegasi kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau memberinya sebidang tanah. Beliau menyuruh Mu’awiyah bin Abu Sufyan agar ikut bersamanya untuk menunjukkan tanah tersebut.

Abu Tsa’labah Al Khusyani

Dia adalah sahabat Nabi SAW dan lebih dikenal dengan julukannya karena nama aslinya masih diperdebatkan.

Abu Tsa’labah berkata, “Aku datang kepada Nabi SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, tuliskan untukku akta tanah ini dan itu di Syam’. Dikarenakan Nabi SAW tidak memahami dengan jelas maksud perkataannya itu, maka beliau bersabda, ‘Apakah kalian tidak mendengar perkataan Abu Tsa’labah ini?’ Abu Tsa’labah lalu berkata, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada dalam tangan-Nya, engkau akan mengetahuinya’. Nabi SAW kemudian menuliskannya untukku.” 

Shafwan bin Umayyah

Ibnu Khalaf Al Qurasyi Al Jumahi Al Makki.

Dia masuk Islam setelah pembebasan kota Makkah. Dia meriwayatkan beberapa hadits. Keislamannya baik dan ia menjadi amir di Kurdus. Ia juga ikut dalam perang Yarmuk.

Dia adalah tokoh bani Quraisy. Ayahnya dibunuh bersama Abu Jahal.

Dihyah Al Kalbi

Dia adalah putra Khalifah bin Farwah, Al Kalbi Al Qudha’i, sahabat Rasulullah SAW dan juga salah satu delegasi beliau yang ditugaskan membawa surat kepada penguasa Bashrah agar disampaikan kepada Hirqal.
Ibnu Sa’ad berkata, “Dihyah masuk Islam sebelum terjadi perang Badar, sehingga dia tidak sempat ikut perang Badar. Dia memiliki kemiripan dengan Jibril dan masih hidup hingga masa pemerintahan Mu’awiyyah.”

Jarir bin Abdullah

Dia adalah Ibnu Jabir, Abu Amir Al Bajali Al Qasari.

Dia seorang pemimpin yang cerdas dan tampan. Dia termasuk orang yang mulia dari golongan para sahabat.
Jarir pernah berjanji kepada Nabi SAW untuk selalu memberikan nasihat kepada setiap muslim.

Diriwayatkan dari Al Mughirah bin Syibil, dia berkata: Jarir berkata: Ketika hampir tiba di Madinah, aku menambatkan tungganganku, kemudian membuka tasku lalu mengenakan pakaianku, lantas masuk masjid —ketika itu Rasulullah SAW sedang berkhutbah—

Ka'ab bin Malik

Dia adalah Ibnu Abu Ka’ab Al Anshari Al Khazraji. Dia pernah ikut dalam perjanjian Aqabah dan perang Uhud.

Ka’ab adalah seorang penyair, sahabat Rasulullah SAW, dan salah satu dari tiga sahabat yang berkhianat kepada Rasulullah SAW. Namun kemudian dia bertobat kepada Allah.  

Ibnu Abu Hatim berkata, “Ka’ab adalah penduduk Shuffah, lalu dia mengalami kebutaan pada masa pemerintahan Mu’awiyah.”

Ar-Rahbi

Dia adalah seorang yang jenius, juga seorang ulama, pemimpin dalam ilmu medis, namanya adalah Radhi Ad-Din Yusuf bin Haidarah bin Hasan Ar-Rahbi Al Hakim.

Kedua orang tuanya adalah orang yang ahli dalam kedokteran dari penduduk Ar-Ruhbah, dia mempunyai anak yang bernama Yusuf di Al Jazirah Al Umariyah, dia tinggal di dua tempat yaitu Muddah dan Ar-Rahbah, kemudian mereka datang ke Damaskus pada tahun 555 H,