Jarir bin Abdullah

Dia adalah Ibnu Jabir, Abu Amir Al Bajali Al Qasari.

Dia seorang pemimpin yang cerdas dan tampan. Dia termasuk orang yang mulia dari golongan para sahabat.
Jarir pernah berjanji kepada Nabi SAW untuk selalu memberikan nasihat kepada setiap muslim.

Diriwayatkan dari Al Mughirah bin Syibil, dia berkata: Jarir berkata: Ketika hampir tiba di Madinah, aku menambatkan tungganganku, kemudian membuka tasku lalu mengenakan pakaianku, lantas masuk masjid —ketika itu Rasulullah SAW sedang berkhutbah—
maka orang-orang memandangku dengan pandangan tajam. Aku kemudian berkata kepada orang yang berada di sebelahku, “Wahai hamba Allah, apakah Rasulullah menceritakan tentang masalahku?” Pria itu menjawab, “Ya, Nabi SAW menceritakan tentang kebaikanmu. Beliau bersabda, ‘Akan datang kepada kalian dari jalan ini orang terbaik dari Yaman, ketahuilah bahwa di wajahnya ada sentuhan malaikat’.” Mendengar itu, Jarir berkata, “Segala puji bagi Allah.”

Menurut aku, Jarir sahabat yang sangat baik dan berwajah tampan. 

Diriwayatkan dari Adi bin Hatim, dia berkata, “Ketika Jarir datang menemui Nabi SAW, dia diberikan bantal, tetapi dia justru memilih duduk di atas tanah. Kemudian Nabi SAW bersabda, ‘Aku bersaksi bahwa kamu tidak menginginkan suatu jabatan dan tidak pula kerusakan di bumi ini’. Setelah itu Jarir masuk Islam, lalu Nabi SAW bersabda, ‘Apabila orang mulia dari suatu kaum datang menemuimu maka perlakukanlah dengan hormat!’.” 

 Ibrahim An-Nakha’i meriwayatkan dari Hammam, bahwa Hammam pernah melihat Jarir buang air kecil kemudian berwudhu, dan dia mengusap kedua sepatunya. Setelah itu aku bertanya kepadanya tentang hal itu, dan dia menjawab, “Aku melihat Nabi SAW melakukannya.” 

Ibrahim kemudian berkata, “Hal itu mengherankan mereka, karena Jarir merupakan sahabat yang terakhir masuk Islam.” 

Diriwayatkan dari Jarir, bahwa Nabi SAW pernah berkata kepadanya, “Maukah kamu menjauhkanku dari Dzil Khalashah (Baitu Khat’am)?” Yang ketika itu dikenal dengan sebutan Al Ka’bah Al Yamaniyyah.

Kami pun menghancurkannya atau membakarnya hingga kami meninggalkannya dalam keadaan rusak layaknya kuda berkudis. Lalu dia mengutus seorang delegasi kepada Rasulullah SAW untuk memberikan kabar gembira kepadanya. Nabi SAW lantas memberikan berkah kepada kuda Ahmas beserta penunggangnya sebanyak lima kali.

Ibrahim meriwayatkan bahwa aku (Jarir) pernah berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak bisa naik kuda.” Nabi SAW lalu meletakkan tangannya di atas wajahku. 

Dalam hadits Yahya Al Qaththan dijelaskan bahwa Nabi SAW meletakkan tangannya di atas dadaku, seraya berdoa, “Ya Allah, jadikanlah dia seorang pemberi petunjuk dan yang ditunggu-tunggu.” 

Dalam riwayat lain disebutkan, “Aku (Jarir) berangkat dengan 150 penunggang kuda dari Ahmas.”

Jarir mengatakan bahwa Umar bin Khaththab pernah melihat diriku bertelanjang dada, maka Umar memanggilku dan berkata, “Ambillah serbanmu!” Aku pun mengambil serbanku. Kemudian aku mendatangi orang-orang lantas bertanya, “Ada apa dengannya?” Mereka menjawab, “Ketika beliau melihatmu telanjang dada, dia berkata, ‘Aku belum pernah melihat seorang manusia pun memiliki wajah setampan ini kecuali pria yang pernah diceritakan, yaitu Yusuf AS’.”

Diriwayatkan dari Abdul Malik bin Umair, dia berkata, “Ibrahim bin Jarir menceritakan kepadaku bahwa Umar pernah berkata, ‘Jarir adalah Yusuf umat ini’.”

Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi, dia berkata, “Pada waktu perang Qadisiyah, di dalam tenda Sa’ad bin Abu Waqqash ada Jarir bin Abdullah.”

Jarir bin Abdullah wafat tahun 51 Hijriyah.


sumber: an-nubala