Al Khila’i


Dia adalah seorang Imam, ulama fikih yang dijadikan teladan, ahli sanad negeri Mesir, Al Qadhi Abu Al Hasan Ali bin Al Hasan bin Al Husain keturunan dari Maushil berkebangsaan Mesir, pengikut madzhab Syafi’i. Lahir di Mesir pada awal tahun 405 H.
Ibnu Sukkarah berkata, “Dia adalah seorang fakih yang memiliki banyak karya. Pernah menjabat sebagai sebagai hakim kemudian pensiun dan menyepi di Al Qarafah.14 Dia menjadi ahli sanad masyarakat Mesir setelah Al Habbal. 
Dia pernah dibai’at untuk menjadi raja Mesir.
Pada suatu hari Al Qadhi Al Khila’i membuat keputusan di antara jin. Mereka berjalan pelan selama seminggu dan mendatanginya. Mereka berkata, “Di rumahmu ada buah limau. Kami tidak memasuki rumah yang di dalamnya ada buah limau.”
Dari Abu Al Fadhl Al Jauhari, seorang penceramah, dia berkata, “Aku mendatangi Al Khila’i, kemudian aku bangun pada pada suatu malam terang bulan. Aku mengira itu Shubuh. Tiba-tiba di depan pintu masjidnya terdapat kuda yang bagus. Aku mendekat dan di depan Al Khila’i ada seorang remaja yang sangat tampan sedang membaca Al Qur`an. Aku duduk dan mendengarkan dia membaca hingga sampai satu juz. Pemuda itu berkata kepada Al Khila’i, “Semoga Allah memberimu pahala.” Al Khila’i menjawab, “Semoga bermanfaat bagimu.” Pemuda itu keluar dan aku pun mengikutinya di belakangnya. Ketika dia naik ke atas kuda, kuda itu terbang dan menghilang. Al Khila’i menyeru kepadaku, “Wahai Abu Al Fadhl naiklah.” Aku pun naik. Dia berkata, “Dia adalah di antara jin yang beriman, dia ke sini setiap minggu untuk membaca satu juz Al Qur`an.”
Abu Al Hasan Ali bin Ahmad Al Abid berkata, Aku mendengar Syaikh Ibnu Bakhisah berkata, “Kami menghadiri majlis Al Qadhi Abu Al Hasan Al Khila’i. Kami melihat dia memakai pakaian yang sama di musim panas dan musim dingin. Wajahnya tidak berubah karena dingin dan panas. Aku bertanya kepadanya tentang hal itu. Wajahnya berubah dan matanya berlinang air mata. Dia berkata, “Apakah kamu dapat menyembunyikan apa yang akan kukatakan?” Aku berkata, “Ya.” Al Khila’i berkata, “Pada suatu hari aku terjangkit penyakit demam. Aku tidur pada malam harinya, tiba-tiba ada suara menyeru dan memanggil namaku. Aku menjawab, ‘Ya, wahai penyeru Allah.’ Dia berkata, “Bukan, katakanlah, ‘Ya wahai Tuhanku, Allah.’ Kamu sudah tidak sakit lagi?” Aku menjawab, “Tuhanku, Tuanku. Aku terjangkit penyakit demam sebagaimana Engkau ketahui.” Dia berkata, “Aku telah perintahkan demam itu pergi darimu.” Aku berkata, “Tuhanku, rasa dingin itu juga kamu usir?” Dia berkata, “Aku juga perintahkan dingin untuk pergi darimu. Kamu tidak akan menemukan rasa dingin dan juga panas.” Al Khila’i berkata, “Demi Allah aku tidak merasakan panas dan dingin sebagaimana yang kalian rasakan.”
Al Khila’i wafat di Mesir pada tahun 492 H.
-------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Artikel Terkait Al Khila’i