Ibnu Nashir


Dia adalah seorang imam, ahli hadits, ulama Irak, Abu Al Fadhl Muhammad bin Nashir bin Muhammad As-Salami Al Baghdadi. Lahir pada tahun 467 H.
Dia telah membaca banyak kitab yang tidak terhitung jumlahnya, telah melahirkan beberapa kaidah, menyusun dan mengarang buku, dikenal kemasyhurannya. Dia seorang ulama yang fasih, bagus cara membacanya, mahir bahasa Arabnya, pandai dalam ilmu bahasa, dan terkumpul padanya banyak keutamaan.
As-Sam’ani berkata, “Ibnu Nashir adalah seorang ulama yang suka menilai orang. Sikapnya tersebut ditentang oleh Ibnu Al Jauzi, dan dia mencelanya seraya berkata, ‘Seorang ulama hadits yang suka melakukan jarh dan ta’dil, tidakkah engkau dapat membedakan antara jarh dan ghibah?!’ Ibnu Al Jauzi sendiri berhujjah dengan perkataan Ibnu Nashir dalam banyak hal tentang biografi para ulama dalam kitab Adz-Dzail karangannya. Bahkan Ibnu Al Jauzi telah berlebihan dalam merendahkan Abu Sa’ad, dan tidak diragukan lagi, Ibnu Nashir sangat menyayangkan sikap Ibnu Al Jauzi yang merendahkan para ulama, sedangkan Abu Sa’ad lebih tahu tentang sejarah dan lebih kuat hafalannya dari Ibnu Al Jauzi dan Ibnu Nashir. Berikut ini perkataannya tentang Ibnu Nashir dalam kitab Adz-Dzail. Ibnu Al Jauzi berkata, Dia seorang ulama yang tsiqah, kuat hafalannya, tekun beribadah, terpercaya, tsabit, pandai dalam hal bahasa, mengetahui banyak matan hadits berikut sanad-sanadnya, banyak shalat, dan membaca AlQuran, akan tetapi dia suka menilai orang, dia selalu benar dalam bacaan dan periwayatan.”
Telah diberitakan kepada kami dari Ibnu An-Najjar berkata, “Aku telah membaca dari tulisan Ibnu Nashir dan dia memberitahunya melalui pendengaranku tentang Yahya bin Al Husain, dia berkata, ‘Sudah bertahun-tahun aku tidak memasuki masjid Abu Manshur Al Khayyath, dan aku berusaha bersikap sopan terhadap At-Tibrizi. Pada suatu hari aku datang untuk membacakan sebuah hadits kepada Al Khayyath, kemudian dia berkata, ‘Wahai anakku, apakah engkau telah meninggalkan bacaan AlQuran dan sekarang engkau sibuk dengan bacaan selainnya?! Kembalilah, dan bacalah di hadapanku supaya engkau mendapatkan sanad.’  
Kemudian aku datang menghadapnya pada tahun 92 H, dan pada waktu itu aku berulang-ulang membaca: “Allahumma bayyin li ayya Al Madzahibi Khairun” (Ya Allah tunjukkanlah kepadaku madzhab mana yang paling baik). Dan berulang kali aku telah membaca dan melewati pendapat Al Qairawani seorang ulama ahli kalam dalam kitab At-Tamhid karya Al Baqilani, dan seolah-olah ada orang yang menyuruhku untuk menolak pendapatnya. Dia berkata, Kemudian aku bermimpi bahwa sepertinya aku telah memasuki masjid syaikh Abu Manshur, dan tepat di sampingnya seseorang dengan mengenakan pakaian putih dan di atas serbannya ada selendang, mirip dengan pakaian musim dingin, warnanya bercahaya, di atasnya terdapat cahaya dan keindahan, kemudian aku menyalaminya dan duduk di hadapannya. Aku merasakan bahwa orang tersebut memiliki wibawa, seolah-olah ia adalah Rasulullah SAW. ketika aku duduk, ia menoleh kepadaku dan berkata, ‘Hendaknya engkau mengikuti madzhab syaikh ini, hendaknya engkau mengikuti madzhab syaikh ini!’ dan terus diulangnya perkataan itu sampai tiga kali. Akhirnya aku terbangun dengan perasaan takut, tubuhku seketika bergoncang, kemudian aku ceritakan kejadian itu kepada ibuku. Keesokan harinya, pagi-pagi benar aku pergi menuju syaikh untuk membaca di hadapannya. Akhirnya aku ceritakan mimpiku kepadanya. Dia berkata, ‘Tidaklah madzhab Syafi’i itu melainkan ia madzhab yang baik. Dan aku tidak mengatakan kepadamu: Tinggalkanlah madzhab itu, akan tetapi hendaknya engkau tidak mengikuti keyakinan Asy’ary.’ Aku berkata, ‘Aku tidak ingin setengah-setengah. Aku bersaksi di hadapanmu,’ dan aku pun bersaksi di hadapan para jama’ah bahwa mulai saat ini aku akan mengikuti madzhab Imam Ahmad bin Hanbal dalam hal ushul dan furu’. Dia berkata, ‘Semoga Allah SWT memberkatimu. Kemudian mulai saat itu aku mendengarkan kitab-kitab Ahmad dan semua permasalahan fikihnya, dan aku berfikih dengan madzhabnya.’
Ibnu Al Jauzi dan ulama lainnya berkata, “Ahli fikih Abu Bakar bin Al Hushari Telah diberitakan kepadaku, dia berkata, ‘Aku bertemu dengan Ibnu Nashir dalam mimpi, kemudian aku bertanya padanya, ‘Apa yang telah Allah SWT lakukan padamu?’ Dia menjawab, ‘Allah telah mengampuni segala dosaku, dan Dia berkata kepadaku, ‘Aku telah mengampuni sepuluh ulama ahli hadits di zamanmu karena engkau adalah pemimpin mereka’.”

Artikel Terkait Ibnu Nashir