Fatimah binti Rasulullah SAW


Fatimah adalah pemimpin wanita dunia pada zamannya, yaitu pada masa kenabian.
Dia adalah wanita pilihan, Ummu Abiha,126 putri Rasulullah SAW, Al Qurasyiyah, Al Hasyimiyah, dan Ummu Al Husain.

Dilahirkan beberapa saat sebelum Rasulullah SAW diutus sebagai nabi.
Dia dinikahi oleh Ali bin Abu Thalib pada bulan Dzulqa’dah, atau sebelumnya dua tahun setelah perang Badar.

Nabi SAW sangat mencintainya dan memuliakannya. Dia memiliki banyak keistimewaan. Dia sosok yang sabar, baik hati, menjaga diri, menerima, dan bersyukur kepada Allah. Nabi SAW pernah marah kepadanya ketika sampai berita bahwa Abu Hasan (Ali bin Abu Thalib) ingin menikahi putri Abu Jahal. Ketika itu beliau bersabda, “Demi Allah, putri Nabiyullah tidak boleh dicampur dengan putri musuh Allah. Sesungguhnya Fatimah merupakan bagian dariku. Sesuatu yang meragukanku berarti meragukannya dan sesuatu yang menyakitiku berarti menyakitinya.”

Ali akhirnya tidak jadi meminang putri Abu Jahal karena menjaga kehormatan Fatimah. Oleh karena itu, Ali tidak menikah dengan wanita lain dan tidak membeli budak perempuan. Setelah Fatimah meninggal, Ali menikah lagi dan membeli budak perempuan.

Ketika Rasulullah SAW meninggal, dia sangat terpukul lalu menangis, seraya berkata, “Wahai Ayahku, kepada Jibril aku mengeluh. Wahai Ayahku, yang doanya dikabulkan oleh Tuhan jika berdoa, semoga surga Firdaus menjadi tempat tinggalmu.”

Setelah Rasulullah SAW dikubur, Fatimah berkata, “Wahai Anas, mengapa jiwamu biasa-biasa saja ketika engkau menimbun tanah ke jasad Rasulullah?”

Rasulullah SAW bersabda kepada Fatimah ketika beliau sakit, “Sesungguhnya aku akan meninggal karena sakitku ini.” Mendengar itu, Fatimah menangis. Namun beliau menenangkan dirinya dengan memberitahukan bahwa dia adalah keluarga Rasulullah yang pertama kali bertemu dengan beliau.” Ketika itu dia adalah pemimpin wanita dunia ini.” Dia pun terima dan menyembunyikannya. Ketika Rasulullah SAW telah wafat, Aisyah bertanya kepadanya, lalu dia bercerita kepadanya tentang berita itu.

Aisyah RA berkata, “Jika Fatimah datang sambil berjalan, gaya jalannya terlihat sama dengan gaya berjalan Rasulullah SAW. Lalu beliau berdiri seraya berkata, ‘Selamat datang wahai putriku!’.”

Ketika ayahnya meninggal, Fatimah berharap dirinya mendapat harta warisan, maka dia menemui Abu Bakar untuk memintah haknya. Abu Bakar lalu memberitahukan kepadanya bahwa dia mendengar Nabi SAW bersabda,  “Kami tidak mewariskan, dan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.”  Setelah itu dia nampak sedikit marah kepadanya lalu meratapi dirinya.

Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi, dia berkata, “Ketika Fatimah sakit, Abu Bakar datang lalu meminta izin. Ali lantas berkata, ‘Wahai Fatimah, ini ada Abu Bakar meminta izin menemui dirimu’. Fatimah berkata, ‘Apakah kamu ingin aku mengizinkannya?’ Ali menjawab, ‘Ya’.” 

Menurut aku, dia ketika itu mempraktekkan Sunnah Nabi SAW, tidak mengizinkan seorang pun masuk rumah suaminya kecuali atas izin suaminya.

Asy-Sya’bi berkata, “Setelah itu Fatimah mengizinkan Abu Bakar. Abu Bakar pun menemuinya untuk meminta ridhanya, ia berkata, ‘Demi Allah, aku tidak meninggalkan rumah, harta, keluarga, dan kerabat kecuali untuk mencari keridhaan Allah, Rasul-Nya, dan Ahlul Bait’.”

Asy-Sya’bi berkata, “Abu Bakar kemudian meminta ridha kepada Fatimah hingga dia pun meridhainya.”127
Fatimah meninggal dunia sekitar lima bulan setelah Nabi SAW wafat, saat berusia 24 atau 25 tahun.
Nasab Nabi SAW telah terputus kecuali nasab dari pihak Fatimah.

Diriwayatkan dalam hadits shahih bahwa Nabi SAW mengagungkan Fatimah, Ali bin Abu Thalib, dan kedua putranya dengan pakaian lalu berdoa, “Ya Allah, mereka adalah keluargaku, maka jauhkan segala yang keji dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.”
Diriwayatkan dari Abu Sa’id, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, 

‘Tidak seorang pun yang menjadikan Ahlul Bait (keluargaku) marah kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam neraka’.”

Diriwayatkan dari Tsauban, dia berkata: Rasulullah SAW pernah menemui Fatimah saat aku bersamanya. Fatimah kemudian mengambil kalung emas dari lehernya lalu berkata, “Ini adalah kalung yang dihadiahkan Abu Hasan (Ali) kepadaku.” Nabi SAW lantas bersabda, “Wahai Fatimah, apakah engkau senang orang berkata, ‘Inilah Fatimah binti Muhammad yang di tangannya ada kalung dari api neraka?’.” Setelah itu beliau keluar. Tak lama kemudian Fatimah membeli seorang budak dengan kalung emas itu lalu memerdekakannya. Tatkala itu Nabi SAW bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fatimah dari api neraka.” (HR. Abu Daud)

Fatimah mempunyai dua orang putri, yaitu Ummu Kultsum (istri Umar bin Khaththab) dan Zainab (istri Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib). 

Diriwayatkan dari Abu Al Bukhturi, dia berkata, “Ali berkata kepada ibunya, ‘Cegahlah Fatimah untuk mengabdi di luar rumah, tetapi cukuplah dia bekerja di dalam rumah, membuat adonan roti dan tepung’.” 

Diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang perkataan dan pembicaraannya menyerupai Rasulullah SAW selain Fatimah, dan jika Fatimah menghadap Rasulullah SAW, maka beliau berdiri lalu menciumnya dan memanjakan dirinya. Begitu juga Fatimah memperlakukan Nabi SAW.”

Aisyah berkata, “Fatimah hidup selama enam bulan setelah Nabi SAW wafat. Kemudian dia dimakamkan pada malam hari.” 

Al Waqidi berkata, “Ini adalah pendapat yang paling kuat menurut kami. Al Abbas ikut menshalatinya. Kemudian Al Abbas, Ali, dan Al Fadhl turun ke liang lahadnya saat jasadnya dikubur.” 

Diriwayatkan dari Masruq, bahwa Aisyah pernah berkata kepadaku: Suatu hari istri-istri Rasulullah SAW berkumpul di sisinya, tidak satu pun di antara mereka yang pergi. Kemudian Fatimah datang dengan langkah yang jauh berbeda dengan langkahnya Rasulullah SAW. Ketika beliau melihatnya, beliau menyambutnya seraya bersabda, “Selamat datang Anakku!” Kemudian dia didudukkan di samping kanan atau kirinya, lalu berbisik kepadanya hingga dia menangis. Setelah itu Rasulullah SAW berbisik lagi kepadanya hingga Fatimah tertawa. Ketika beliau berdiri, aku berkata kepada Fatimah, “Hanya karena Rasulullah berbisik kepadamu, kamu menangis. Aku sebenarnya ingin tahu, apa yang dibisikkan beliau kepadamu dan aku punya hak untuk mengetahuinya darimu.” Ketika dia ingin menjelaskan kepadaku apa yang menjadikannya tertawa dan menangis, dia berkata, “Aku tidak akan menyebarluaskan rahasia Rasulullah SAW.”

Setelah Rasulullah SAW wafat, aku bertanya kepadanya, “Aku masih ingin mengetahui sesuatu yang berhak aku ketahui darimu.” Fatimah menjawab, “Kalau sekarang aku mau menceritakannya. Pertama, Rasulullah SAW mengatakan kepadaku bahwa biasanya malaikat Jibril turun menemui beliau dengan Al Qur`an setiap tahun sekali, namun kemudian beliau mengatakan bahwa Jibril mendatanginya pada tahun ini setahun dua kali. Lalu beliau bersabda, ‘Maka aku tidak mengira kecuali bahwa ajalku telah dekat. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah’. Aku pun menangis. Ketika beliau melihatku sedih, beliau bersabda, ‘Apakah kamu tidak rela jika nanti kamu menjadi pemimpin wanita dunia atau pemimpin wanita umat ini?’ Aku pun tertawa.” (HR. Al Bukhari) 



-------------------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Artikel Terkait Fatimah binti Rasulullah SAW