Umar bin Khaththab RA

cara-global.blogspot.com: Tindakan yang pertama kali dilakukan Umar adalah mencopot Khalid bin Walid dari kepemimpinan Syam dan diganti oleh Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Umar menulis surat kepadanya tentang keputusan tersebut.
Umar bin Khaththab bernama Ibnu Nufail, Amirul Mukminin, Abu Hafsh Al Qurasyi Al Adawi Al Faruq.
Ibunya bernama Hantamah binti Hisyam Al Makhzumiyah, saudara perempuan Abu Jahal. 
Umar masuk Islam pada tahun keenam kenabian, saat berusia 27 tahun.
Orang-orang yang meriwayatkan darinya adalah Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan perawi-perawi lainnya.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, ia berkata, “Ayahnya berkulit putih kemerah-merahan, tinggi besar, dan beruban.”
Abu Raja‘ Al Athari berkata, “Umar berpostur tinggi besar, kekar, sangat putih, dan kedua pundaknya bidang. Ketika dia tua ujung jenggotnya berwarna hitam kemerah-merahan. Jika dia menghadapi suatu masalah maka dia mampu menyelesaikannya.”
Simak berkata, “Umar sangat cepat jalannya.”
Diriwayatkan dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik, ia berkata, “Umar bisa menggapai telinga kirinya dengan tangan kanannya dan bisa naik ke atas kudanya tanpa memanjat.”
Diriwayatkan dari Ibnu Umar dan lain-lain —dengan sanad jayyid— bahwa Nabi SAW bersabda, 
“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan Umar bin Khaththab.”
Ikrimah berkata, “Islam tidak disampaikan secara terbuka kecuali setelah Umar masuk Islam.”
Sa’id bin Jabir berkata, “Firman Allah SWT, ‘Dan orang-orang mukmin yang baik’, (Qs. At-Tahriim [66]: 4) diturunkan khusus kepada Umar.”
Ibnu Mas’ud berkata, “Kami menjadi terhormat setelah Umar masuk Islam.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya aku mempunyai dua menteri dari penghuni langit dan dua menteri dari penghuni dunia. Menteriku dari penduduk langit adalah Jibril dan Mikail, sedangkan menteriku di dunia adalah Abu Bakar dan Umar’.”
Menurutku status hadits Ibnu Abbas ini hasan.
Diriwayatkan dari Hudzaifah, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, 
‘Patuhilah dua orang setelahku, yaitu Abu Bakar dan Umar’.”
Muhammad bin Sa’ad bin Abu Waqqash berkata dari ayahnya, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Ibnu Khaththab, demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, tidaklah syetan bertemu denganmu melewati suatu jalan kecuali dia akan melewati jalan lain.”
Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya syetan menjauhi Umar.”
Zirr berkata, “Ibnu Mas’ud pernah berkhutbah seraya berkata, ‘Sesungguhnya aku mengira syetan menjauh dari Umar untuk menyampaikan bisikan kepadanya karena dia akan menolaknya. Aku juga mengira di antara kedua mata Umar ada malaikat yang selalu meluruskan dan mengarahkannya’.”
Aisyah berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Pada umat-umat terdahulu ada orang-orang yang selalu memberi ilham. Jika ada di dalam umatku orang seperti itu, maka dialah Umar bin Khaththab’.”
Anas berkata: Umar pernah berkata, “Aku memiliki ketepatan pendapat dengan Tuhanku sebanyak tiga kali, yaitu tentang Maqam Ibrahim, tentang masalah hijab, dan tentang firman Allah SWT, ‘Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberikan ganti kapadanya...’.” (Qs. At-Tahriim [66]: 5)
Ibnu Umar berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ketika aku tidur, aku bermimpi membawa secangkir susu, lalu aku meminumnya hingga aku melihat ada susu yang mengalir di ujung-ujung jariku. Kemudian sisanya aku berikan kepada Umar.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana engkau menakwilkan mimpi itu?” Beliau menjawab, “Ilmu.”
Ibu Sa’id berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Ketika aku tidur, aku bermimpi manusia menampakkan diri di hadapanku dengan memakai pakaian yang sempit sampai ke dada dan ada yang di bawahnya. Tak lama kemudian Umar lewat di hadapanku dengan memakai pakaian panjang.’ Para sahabat bertanya, ‘Bagaimana engkau menakwilkan mimpi itu wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Agama’.”
Anas berkata, “Rasulullah SAW bersabda, 
‘Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar dan paling kuat dalam memegang agama Allah adalah Umar’.”
Abu Hurairah berkata dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Ketika aku tidur, aku bermimpi berada di surga. Tiba-tiba ada seorang perempuan berwudhu di samping istana. Aku bertanya, ‘Milik siapa istana ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik Umar.’ Lalu wanita itu menceritakan tentang semangat Umar, lantas aku pun cemburu kepada Umar dan aku pergi berpaling.”
Abu Hurairah berkata, “Umar kemudian menangis seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau masih punya rasa cemburu?’.”
Ali RA berkata di Kufah di atas mimbarnya di hadapan banyak orang pada masa kekhalifahannya, “Sebaik-baik umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar, dan sebaik-baiknya sesudah Abu Bakar adalah Umar. Jika aku boleh menyebut yang ketiga maka aku akan menyebutnya.” 
Status hadits ini mutawatir dari Ali RA, dan semoga Allah menghancurkan kelompok Rafidhah.
Aisyah berkata, “Abu Bakar pernah berkata, ‘Tidak ada di muka bumi ini orang yang lebih aku cintai daripada Umar’.”
Aisyah berkata: Orang-orang menghadap Abu Bakar ketika dia sedang sakit. Mereka bertanya, “Bagaimana jika engkau menyerahkan kepemimpinan kepada Umar karena engkau akan pergi menuju Tuhanmu? Bagaimana pendapatmu?” Dia berkata, “Menurutku, aku sebaiknya menyerahkan masalah ini kepada orang-orang, biar mereka yang memilih pemimpin terbaik di antara mereka.”
Az-Zuhri berkata, “Orang yang pertama kali mengucapkan selamat kepada Umar ketika diangkat menjadi Amirul Mukminin adalah Al Mughirah bin Syu’bah.”
Al Qasim bin Muhammad berkata, “Umar berkata, ‘Sudah selayaknya orang yang memimpin sesudahku mengetahui hal ini, bahwa dia akan dituntut oleh orang yang dekat dan jauh. Aku akan berperang dengan segenap jiwaku. Jika aku tahu ada orang yang lebih kuat dalam berpegang teguh kepada agama dariku, maka aku akan menyerahkan kepemimpinan kepadanya. Jika aku terbunuh, itu lebih aku senangi daripada aku merebut haknya’.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ketika Umar memegang kekhalifahan, dikatakan kepadanya, ‘Sebagian orang hampir saja menolak masalah ini darimu.’ Beliau bertanya, ‘Apa itu?’ Dia berkata, ‘Mereka mengira kamu orang yang keras.’ Beliau berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi hatiku dengan kasih sayang kepada mereka dan memenuhi hati mereka dengan rasa takut kepadaku’.”
Al Ahnaf bin Qais berkata, “Aku mendengar Umar berkata, ‘Hanya ada dua macam pakaian yang halal bagi Umar, yaitu pakaian musim dingin dan pakaian musim panas, yang dipakai untuk haji dan umrah. Sedangkan makanan keluargaku seperti makanan orang Quraisy yang tidak kaya, dan aku salah seorang muslim’.”
Urwah berkata, “Umar pernah menunaikan ibadah haji bersama yang lain saat dia memegang seluruh kepemimpinan.”
Ibnu Umar berkata, “Aku tidak pernah melihat sama sekali setelah Rasulullah SAW meninggal, orang yang lebih bersungguh-sungguh dan lebih baik daripada Umar.”
Az-Zuhri berkata, “Allah menaklukkan negeri Syam seluruhnya di tangan Umar. Begitu juga seluruh Jazirah Arab, Mesir, dan Irak. Dia juga membangun kantor-kantor setahun sebelum meninggal, dan membagikan harta fai` kepada masyarakat.”
Ibnu Mas’ud berkata, “Jika orang-orang shalih menyebut nama Umar maka mereka mengatakan bahwa Umar adalah orang yang paling tahu di antara kami tentang Kitabullah dan paling memahami agama Allah.”
Ibnu Umar berkata, “Umar belajar surah Al Baqarah selama 12 tahun> Setelah mempelajarinya dia menyembelih seekor domba.”
Mu’awiyah berkata, “Abu Bakar tidak menghendaki kemewahan dunia dan dunia pun tidak menginginkan dirinya. Sedangkan Umar dikehendaki dunia tetapi dia tidak menghendakinya. Sedangkan kami menghendakinya secara lahir untuk sesuatu yang bersifat batin.”
Ikrimah bin Khalid dan yang lain berkata, “Sesungguhnya Hafshah, Abdullah, dan yang lain, pernah berbicara kepada Umar, mereka berkata, ‘Jika kamu makan makanan yang baik (halal) maka hal itu akan menjadikanmu lebih kuat dalam berpegang teguh kepada kebenaran.’ Umar balik bertanya, ‘Apakah masing-masing kalian berpendapat seperti ini?’ Mereka menjawab, ‘Benar’. Aku sudah menyadari nasihat kalian, tetapi aku membiarkan kedua sahabat itu dalam kesungguhan, karena jika aku membiarkan sikap mereka berdua dalam kesungguhan, tentunya aku tidak akan menemukan mereka berdua di dalam rumah’.”
Dia berkata, “Ketika masa paceklik datang mendera, tidak ada seorang pun yang makan lemak dan tidak pula ada yang gemuk.”
Ibnu Abu Mulaikah berkata, “Utbah bin Farqad pernah berbicara dengan Umar mengenai makanannya, ia berkata, ‘Celaka kamu, aku memakan rezekiku dalam hidupku di dunia dan aku menikmatinya’.”
Mubarak meriwayatkan dari Al Hasan, ia berkata, “Umar pernah menghadap anaknya Ashim yang makan daging, ia berkata, ‘Apa ini?’ Dia menjawab, ‘Kami sangat menyukainya’. Ashim berkata, ‘Apakah setiap kali kamu menginginkan sesuatu maka kamu memakannya?! Seseorang cukup dianggap berlebih-lebihan jika dia memakan segala sesuatu yang diinginkan’.”
Abdurrahman bin Zaid bin Aslam meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Umar berkata, “Suatu ketika terdetik dalam diriku keinginan untuk memakan ikan segar, maka Yarfa` mengendarai kendaraannya dan pergi bersama empat orang, dua di depan dan dua di belakang. Setelah itu dia membeli sekeranjang ikan dan membawanya. Dia kemudian pergi ke kendaraannya dan memandikannya. Tak lama kemudian aku datang, lantas berkata, ‘Kembalilah hingga aku melihat tunggangan itu’. Umar melihat seraya berkata, ‘Engkau lupa mencuci keringat yang ada di bawah telinganya, sehingga dia tersiksa karena keinginan Umar. Tidak, demi Allah aku tidak akan mencicipi ikanmu.”
Qatadah berkata, “Ketika Umar menjadi khalifah, ia mengenakan jubah dari bahan wol yang sebagiannya ditambal dengan kulit yang disamak. Dia kemudian berjalan di pasar sambil membawa jagung di pundaknya untuk memberikan pelajaran kepada orang-orang. Apabila dia menemukan biji kurma maka ia memungutnya lantas melemparkannya ke rumah-rumah agar bisa dimanfaatkan.”
Anas berkata, “Aku melihat di antara kedua pundak Umar ada empat tambalan di bahunya.”
Abu Utsman An-Nahdi berkata, “Aku melihat Umar memakai sarung (kain) yang ditambal dengan kulit yang disamak.”
Abdullah bin Amir bin Rabi’ah berkata, “Aku pernah menunaikan ibadah haji bersama Umar. Ketika itu dia tidak mendirikan tenda dan tidak berteduh. Dia hanya membentangkan kain dan selendang di atas pohon dan berteduh di bawahnya.”
Diriwayatkan dari Abu Al Ghadiyah Asy-Syami, ia berkata, “Umar datang ke Jabiyah15 dengan naik seekor unta. Dia membiarkan barang-barangnya terkena panas matahari, sedangkan dia sendiri tidak memakai peci atau imamah. Kedua kakinya langsung bisa melangkah ke atas tunggangannya tanpa bantuan penyangga. Di atas punggungnya dilapisi dengan kain dari bahan wol, yang sekaligus dijadikan sebagai alas jika dia turun. Kopernya tipis dan dijadikan sebagai bantalnya jika tidur. Dia memakai pakaian dari kapas yang telah lusuh dan sakunya robek.  Dia berkata, ‘Panggillah kepala kampung agar menghadapku!’ Ketika kepala kampung datang, beliau berkata, ‘Cucilah pakaianku, jahitlah dan pinjamkan baju kepadaku.’ Kepala kampung itu kemudian membawakan pakaian dari katun. Dia lalu berkata, ‘Apa ini?’ Dijawab, ‘Pakaian dari bahan katun.’ Dia berkata, ‘Apa itu katun?’ Mereka kemudian memberitahukan kepadanya. Setelah itu beliau melepas pakaiannya dan mereka mencuci dan menambalnya. Setelah selesai dia memakainya lagi. Kepala desa itu lalu berkata kepadanya, ‘Engkau adalah penguasa Arab dan negeri ini, maka tidak cocok mengendarai unta’. Umar lantas diberi burdun16. Dia lalu membuang pelananya sehingga dia menaikinya tanpa pelana dan panjatan. Ketika dia telah berjalan sebentar, dia berkata, ‘Berhenti. Aku tidak mengira manusia naik syetan. Berikan untaku kepadaku’.”
Al Muththalib bin Ziyad berkata: Diriwayatkan dari Abdullah bin Isa, ia berkata, “Pada wajah Umar bin Khaththab ada dua garis hitam bekas tangisan.”
Diriwayatkan dari Al Hasan, ia berkata, “Pada saat sedang membaca wirid, Umar membaca sebuah ayat hingga dia jatuh pingsan dan baru siuman setelah beberapa hari.”
Anas berkata, “Aku pernah keluar bersama Umar, lalu beliau masuk ke sebuah kebun, sementara aku dan dia hanya dibatasi oleh dinding, sehingga aku tetap dapat mendengarnya berkata, ‘Umar bin Khaththab Amirul Mukminin, demi Allah, kamu semestinya takut kepada anakku Al Khaththab atau dia akan menyiksamu’.”
Abdullah bin Amir bin Rabi’ah berkata, “Aku melihat Umar mengambil jerami dari tanah seraya berkata, ‘Alangkah enaknya jerami ini, alangkah enaknya jika aku tidak menjadi apa-apa, dan alangkah enaknya jika Ibuku tidak melahirkanku’.”
Abdullah bin Umar bin Hafsh berkata, “Umar bin Khaththab pernah membawa binatang Kurban di atas pundaknya. Kemudian ketika ia ditanya tentang hal itu dia menjawab, ‘Aku takjub kepada diriku sendiri, maka aku ingin menghinakannya’.”
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku pernah ikut dalam perang Jalula‘, lalu aku menjual harta rampasan bagianku dengan nilai empat puluh ribu. Ketika aku menghadap Umar, beliau berkata, “Bagaimana jika aku diseret ke neraka, lantas dikatakan kepadamu, ‘Ikutilah dia’, apakah kamu akan mengikutinya?’.” Aku menjawab, “Demi Allah, tidak ada sesuatu yang menyakitimu kecuali aku akan mengikutimu.” Dia berkata, “Seakan-akan aku menyaksikan manusia ketika mereka membai’at, maka mereka berkata, ‘Abdullah bin Umar sahabat Rasulullah, Ibnu Amirul Mukminin, dan orang yang paling beliau dicintai. Begitu juga kamu. Bagi mereka, memberikan keringanan kepadamu lebih mereka senangi daripada membelenggumu. Aku adalah pembagi yang bertanggung jawab dan aku memberimu lebih banyak daripada keuntungan yang diperoleh oleh pedagang Quraisy. Kamu mendapatkan keuntungan setiap dirhamnya satu dirham’.” 
Beliau lalu memanggi para pedangang dan mereka membeli darinya empat ratus ribu dirham, kemudian membayar kepadaku delapan puluh ribu dirham dan sisanya diberikan kepada Sa’ad bin Abu Waqqash untuk dibagi.
Al Hasan berkata, “Suatu ketika Umar melihat seorang wanita yang kurus. Ia kemudian berkata, ‘Siapa itu?’ Abdullah menjawab, ‘Ini salah seorang anak perempuanmu’. Ia berkata, ‘Anak perempuan yang mana?’ Al Hasan menjawab, ‘Anak perempuanku.’ Umar berkata, ‘Ada apa dengannya?’ Al Hasan menjawab, ‘Karena kamu tidak memberinya nafkah.’ Umar berkata, ‘Aku tidak bertanggung jawab kepada anakmu, maka berusahalah untuk menghidupi mereka wahai anakku’.”
Muhammad bin Sirin berkata, “Suatu ketika besan Umar datang kepadanya, lalu meminta Umar agar memberinya harta dari Baitul Mal. Umar lalu menolaknya dengan berkata, ‘Apakah kamu ingin aku bertemu Allah sebagai pengkhianat!’ Setelah itu Umar memberinya sepuluh ribu dirham dari hartanya sendiri.”
Hudzaifah berkata, “Ketika kami sedang duduk di samping Umar, tiba-tiba beliau berkata, ‘Siapa di antara kalian yang paling hafal tentang sabda Rasulullah dalam masalah fitnah (cobaan)?’ Aku menjawab, ‘Aku’. Dia berkata, ‘Kamu sungguh pemberani’. Aku berkata, ‘Cobaan seseorang pada keluarga, harga, dan anaknya, dapat dihapus dengan shalat, puasa, sedekah, serta menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran’. Beliau berkata, ‘Aku tidak bertanya kepadamu tentang hal itu, tetapi fitnah besar seperti besarnya gelombang lautan’. Aku menjawab, ‘Tidak apa-apa, sesungguhnya antara kamu dengan cobaan itu ada pintu yang tertutup’. Beliau berkata, ‘Telah dirusak atau dibuka?’ Aku menjawab, ‘Pintu itu telah dirusak’. Beliau berkata, ‘Setelah itu tidak tertutup selamanya’. Kami kemudian berkata kepada Hudzaifah, ‘Apakah Umar mengetahui siapa pintu itu?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Masruq lalu bertanya, ‘Siapa yang dimaksud dengan pintu itu?’ Dia menjawab, ‘Pintu itu adalah Umar’.”
Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata, “Umar pernah membawa barang-barang simpanan Kaisar. Melihat itu, Abdullah berkata, ‘Apakah kamu akan meletakkannya di Baitul Mal sehingga bisa dibagikan?’ Umar menjawab, ‘Tidak, demi Allah, aku akan meletakkannya di langit-langit masjid hingga besok’. Ia kemudian meletakkannya di tengah masjid, dan para sahabat menjaganya malam itu. Ketika pagi harinya, ia membukanya, ternyata isinya adalah emas dan perak yang hampir tidak menyala. Melihat itu, ia menangis sehingga Ayahku bertanya kepadanya, ‘Mengapa engkau menangis wahai Amirul Mukminin? Demi Allah, ini adalah hari bersyukur dan hari kegembiraan’. Beliau menjawab, ‘Celaka kamu, sesungguhnya harta ini tidak diberikan kepada suatu kaum, kecuali aku telah menimbulkan permusuhan dan pertentangan di antara mereka’.”
Abu Hurairah berkata, “Umar pernah membuat kantor administrasi dan dia mewajibkan kepada orang-orang yang hijrah pertama kali untuk diberi masing-masing lima ribu dirham, untuk orang-orang Anshar masing-masing empat ribu dirham, dan untuk Ummahatul Mukminin masing-masing dua belas ribu dirham.”
Anas berkata: Suatu ketika perut Umar kembung lantaran makan minyak pada masa paceklik. Dia kemudian tidak mengonsumsi lemak. Dia memijat perutnya dengan jarinya seraya berkata, ‘Kamu tidak memiliki hak terhadap kami selainnya hingga manusia hidup’.”
Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, ia berkata, “Pada masa paceklik, orang Arab dari segala penjuru datang ke Madinah. Umar ketika itu menyuruh orang-orang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Lalu pada suatu malam aku mendengar beliau berkata, ‘Hitunglah berapa orang yang akan makan malam bersama kami’. Mereka pun menghitung jumlah satu kabilah. Ternyata mereka semua berjumlah tujuh ribu orang, sedangkan orang-orang yang sakit dan lemah berjumlah empat puluh ribu. Setelah beberapa hari, jumlah laki-laki dan keluarga seluruhnya mencapai enam puluh ribu. Tak lama kemudian Allah menurunkan hujan. Setelah hujan turun, aku melihat Umar menugaskan orang untuk mengembalikan mereka ke kampung masing-masing dan membekali mereka dengan makanan menuju kampung masing-masing. Ada di antara mereka yang meninggal, dan aku melihat jumlah yang meninggal hampir mencapai sepertiga dari jumlah mereka. Panci-panci milik Umar terus digunakan oleh beberapa orang pegawai untuk memasak makanan sejak waktu sahur.”
Diriwayatkan dari Aslam, ia berkata, “Kami pernah berkata, ‘Seandainya Allah tidak menurunkan hujan pada masa paceklik itu, maka kami mengira Umar pasti sudah menemui ajal’.”17
Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Barangsiapa mengira bahwa Ali lebih berhak menjadi khalifah daripada Abu Bakar dan Umar, berarti dia telah menyalahkan Abu Bakar, Umar, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar.”
Syarik berkata, “Sikap lebih mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar adalah tidak baik.”
Abu Usamah berkata, “Tahukah kalian siapa Abu Bakar dan Umar? Keduanya adalah bapak dan ibunya Islam.”
Hasan bin Shalih bin Hayyin berkata, “Aku pernah mendengar Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq berkata, ‘Aku tidak bertanggung jawab atas kalangan yang membicarakan tentang Abu Bakar dan Umar kecuali kebaikan’.”
Al-Laits bin Sa’ad berkata, “Pada masa Umar menjadi khalifah, ia berhasil menaklukkan kota Damaskus, kemudian Yarmuk pada tahun 15 Hijriyah, Jabiyah tahun 16 Hijriyah, Iliya dan Saragh tahun 17 Hijriyah, benteng Layun dan Qaisariyah di Syam, serta kematian Hirqal pada tahun 20 Hijriyah. Pada tahun tersebut Mesir ditaklukkan dan pada tahun 21 Hijriyah kota Nahawan ditaklukkan, lalu kota Iskandariyah pada tahun 22 Hijriyah. Pada tahun yang sama kota Isthakhar dan Hamdzan ditaklukkan. Kemudian Amr bin Al Ash menyerang Tharabulis di Maroko. Setelah itu terjadi perang Amuriyah. Pemimpin Mesir pada saat itu adalah Wahab bin Umair Al Jumahi, sedangkan pemimpin Syam ketika itu adalah Abu Al A’war, pada tahun 23 Hijriyah. Umar kemudian menyerang Masdaral Hajj pada akhir tahun.”
Sa’id bin Al Musayyib berkata, “Sesungguhnya ketika Umar bertolak dari Mina, beliau tinggal di Abthakh, kemudian menimbun tanah hingga menjadi gundukan dan berbaring di atasnya, lalu mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Ya Allah, usiaku telah tua, kekuatanku melemah, dan rakyatku menyebar luas, maka kembalikanlah aku kepada-Mu tanpa melakukan penganiayaan dan kezhaliman.’ Belum juga bulan Dzulhijjah habis, beliau ditusuk hingga wafat.”
Diriwayatkan dari Umar, bahwa beliau berkata, “Ya Allah, berilah aku rezeki kesyahidan di jalan-Mu dan jadikan kematianku di negeri Rasul-Mu.”
Ma’dan bin Abu Thalhah Al Ya’mari berkata, “Pada hari Jum’at Umar berkhutbah dan bercerita tentang Nabi SAW serta Abu Bakar. Setelah itu berkata, ‘Aku bermimpi melihat seekor ayam jago mematukku sekali atau dua kali dan aku tidak melihat bahwa itu adalah pertanda kematianku. Ada suatu kaum yang menyuruhku untuk menjadi khalifah. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan agamanya dan tidak pula kekhalifahannya. Jika aku segera dipanggil maka tampuk kepemimpinan khalifah diserahkan kepada enam orang yang ketika Rasulullah SAW meninggal beliau ridha kepada mereka.”
Az-Zuhri berkata, “Umar tidak mengizinkan tawanan yang telah mimpi untuk masuk Madinah hingga Al Mughirah bin Syu’bah, wali Kufah, menulis kepadanya dengan menjelaskan budaknya yang pandai dan meminta izin kepada beliau agar boleh masuk Madinah, ia berkata, ‘Dia mempunyai banyak amal yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Dia orang yang gigih, pandai berdebat, dan berprofesi sebagai tukang kayu’. Umar kemudian memberikan restu agar ia dikirim dan Al Mughirah mewajibkan ia membayar seratus dirham setiap bulan. Budak itu lalu datang menemui Umar dan melaporkan tentang kesulitannya membayar pajak. Umar lantas berkata, ‘Pajakmu tidak banyak’. Dia lalu kembali dalam keadaan kesal. Setelah beberapa malam Umar memanggilnya, dia berkata, ‘Bukankah aku pernah diberitahu bahwa kamu mengatakan bahwa seandainya mau maka aku akan membuat penggiling yang dijalankan dengan angin?’ Ia lantas menoleh ke arah Umar dengan wajah cemberut, seraya berkata, ‘Aku benar-benar akan membuat penggilingan untukmu yang bisa berbicara dengan manusia’. Ketika dia berpaling, Umar berkata kepada sahabat-sahabatnya, ‘Hamba ini berjanji kepadaku tadi’. Abu Lu`lu`ah lalu membuat tombak berkepala dua yang pegangannya berada di tengah, dan itu disembunyikannya di pojok masjid yang gelap.”
Amru bin Maimun Al Audi berkata, “Sesungguhnya Abu Lu`lu`ah, budak Al Mughirah, menusuk Umar dengan tombaknya yang bermata dua. Dia juga menusuk 12 orang yang bersama beliau, sementara jumlah yang meninggal enam orang. Kemudian seorang pria dari Irak melemparkan baju kepadanya. Maka ketika dia telah memakainya, dia pun bunuh diri.”
Amir bin Abdullah bin Zubair meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata, “Suatu ketika aku datang dari pasar, sedangkan Umar bersandar kepadaku. Tak lama kemudian Abu Lu`lu`ah lewat sambil melihat ke arah Umar dengan pandangan yang aku kira seandainya tidak ada aku maka dia akan menyerangnya. Setelah itu aku datang ke masjid untuk shalat Subuh. Pada saat itu aku dalam kondisi antara tidur dan bangun. Tiba-tiba aku mendengar Umar berkata, ‘Aku dibunuh oleh anjing’. Lalu dengan serentak orang-orang berdatangan. Kemudian shalat dilanjutkan oleh Abdurrahman bin Auf.”
Diriwayatkan dari Abu Rafi’, ia berkata, “Abu Lu`lu`ah adalah budak Al Mughirah yang membuat alat penumbuk. Al Mugirah menuntutnya agar menyerahkan kepadanya setiap hari empat dirham. Lalu dia bertemu dengan Umar, maka ia berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, sebenarnya Al Mughirah telah membuatku susah, maka bicaralah kepadanya’. Umar menjawab, ‘Bersikap baiklah kepada tuanmu’. Sebenarnya Umar berniat akan berbicara dengan Al Mughirah, tetapi budak itu telanjur marah dan berkata, ‘Keadilannya berlaku untuk semua orang kecuali aku’. Sejak itu dia berniat membunuhnya. Ia lalu mengambil tombak untuk diasah dan diberi racun. Sebelum bertakbir, Umar berkata, ‘Luruskan barisan kalian’. Tak lama kemudian Abu Lu`lu`ah masuk ke dalam shaf, lalu menusuk Umar di bagian pundak dan lambungnya, hingga Umar terjatuh. Dia juga menusuk tiga belas orang lainnya, hingga enam di antara mereka menemui ajal. Umar kemudian dibawa ke rumahnya saat matahari hampir terbit. Selanjutnya Ibnu Auf memimpin shalat berjamaah dengan membaca surah pendek. Umar lalu diberi sari anggur, beliau meminumnya hingga minuman tersebut keluar dari lukanya, tetapi beliau berusaha tidak menampakkannya. Mereka lantas memberinya susu hingga keluar dari lukanya, lalu mereka berkata, ‘Kamu tidak apa-apa?’ Beliau menjawab, ‘Jika bunuh diri diperbolehkan maka aku pasti sudah bunuh diri’. Orang-orang pun memujinya, seraya berkata, ‘Engkau bisa dan pasti bisa.” Beliau berkata, ‘Demi Allah, aku ingin keluar dari dunia ini dalam keadaan tenang serta bersih, dan persahabatan dengan Rasulullah telah menyelamatkanku’.”
Ketika memujinya, Ibnu Abbas berkata, “Seandainya aku mempunyai emas seberat bumi, maka aku akan menggunakaannya untuk menebus ketakutan orang-orang dan aku akan menjadikannya sebagai sarana musyawarah dengan Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman, dan Sa’ad. Umar telah menyuruh Shuhaib untuk memimpin shalat jamaah bersama orang-orang. Di antara enam orang itu ada tiga orang yang ditangguhkan.”
Diriwayatkan dari Amru bin Maimun, bahwa Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kematianku di tangan orang yang mengaku-ngaku Islam.” Setelah itu beliau berkata kepada Ibnu Abbas, “Kamu dan Ayahmu sama-sama senang memperbanyak budak di Madinah.” 
Ketika itu Abbas adalah orang yang paling banyak budaknya.
Kemudian beliau berkata, “Wahai Abdullah, hitunglah berapa utangku.” Mereka lalu menghitungnya dan beliau ternyata memiliki utang 86 ribu dirham, atau kisaran jumlah tersebut. Beliau lantas berkata, “Jika harta keluarga Umar cukup maka bayarlah dengan uangnya, namun jika tidak maka mintalah kepada bani Adi. Jika harta mereka tidak cukup maka mintalah kepada orang-orang Quraisy. Pergilah kepada Ummul Mukminin Aisyah, lalu katakan bahwa Umar meminta izin untuk dimakamkan bersama dua orang sahabatnya (Muhammad dan Abu Bakar).” 
Dia kemudian pergi menemui Aisyah, dan Aisyah berkata, “Sebenarnya aku menginginkan tempat itu untuk diriku sendiri, tetapi aku lebih mengutamakan Umar daripada diriku.” 
Setelah itu Abdullah datang seraya berkata, “Dia telah mengizinkanmu.” Selanjutnya beliau memuji Allah.
Tak lama kemudian datanglah Ummul Mukminin Hafshah dan wanita-wanita lain menutupi jasad Umar. Ketika kami melihatnya, kami berdiri. Aku kemudian tinggal di sisinya sejenak. Setelah itu para sahabat meminta izin. Hafshah lalu masuk, kemudian kami mendengarkan tangisannya. 
Sebelum menemui ajal, Umar sempat diminta, “Berwasiatlah wahai Amirul Mukminin dan tentukan pengganti kekhalifahanmu!” Beliau menjawab, “Aku melihat tidak seorang pun yang layak memegang tampuk kepemimpinan ini daripada orang-orang yang pada saat Rasulullah SAW meninggal beliau ridha terhadap mereka.” Dia kemudian menyebut enam orang tersebut. 
Amru berkata, “Dia mengatakan bahwa Abdullah bin Umar termasuk salah satu dari mereka, padahal sebenarnya dia tidak ada kaitannya dengan hal itu. Jika kepemimpinan jatuh ke tangan Sa’ad, maka itu yang diharapkan, namun jika tidak maka pilihlah siapa di antara kalian yang pantas menjadi pemimpin, karena sebenarnya aku menurunkannya bukan karena lemah dan pengkhianatan.”
Setelah itu beliau berkata, “Aku berwasiat kepada khalifah sesudahku agar bertakwa kepada Allah dan bersikap baik kepada orang-orang Muhajirin, Anshar, serta penduduk Amshar.”
Ketika beliau meninggal, kami keluar bersama Abdullah bin Umar, dan dia berkata, “Umar meminta izin agar dimakamkan bersama Rasulullah SAW.” Aisyah berkata, “Masukkan dia bersama beliau.” Ibnu Umar pun memasukkannya ke rumah Aisyah bersama kedua sahabatnya (Rasulullah dan Abu Bakar).
Ketika pemakaman telah selesai, mereka pun pulang. Enam orang yang disebutkan Umar kemudian berkumpul. Abdurrahman bin Auf berkata, “Pilihlah tiga orang wakil di antara kalian.” Zubair berkata, “Aku memilih Ali.” Sa’ad berkata, “Aku memilih Abdurrahman.” Thalhah berkata, “Aku memilih Utsman.” Tiga orang itulah yang dijadikan sebagai calon khalifah.
Abdurrahman lalu berkata, “Aku tidak ingin menjadi khalifah, maka siapa saja di antara kalian berdua yang pantas memegang jabatan ini, maka kami akan memberikan dukungan kepadanya. Allah dan Islam melihat siapa di antara mereka yang lebih memiliki jiwa yang mulia dan sangat peduli dengan kemaslahatan umat.” 
Ali dan Utsman pun terdiam. Tiba-tiba Abdurrahman berkata, “Hadapkan mereka kepadaku. Demi Allah, aku tidak akan menyia-nyiakan orang yang paling mulia di antara kalian.” Kedua orang itu (Ali dan Utsman) lalu berkata, “Benar.” Abdurrahman kemudian memanggil Ali dan berkata kepadanya, “Kamu termasuk orang yang pertama dalam Islam dan orang yang dekat, maka jika aku menyerahkan kepemimpinan kepadamu, niscaya kamu akan adil dan jika kamu diperintah maka kamu akan mendengar serta taat.” Setelah itu Abdurrahman memanggil Utsman lalu mengatakan perkataan yang sama kepadanya. Ketika Abdurrahman telah mengambil janji keduanya, akhirnya dia membai’at Utsman, dan Ali pun ikut membai’atnya.
Al Miswar bin Makhramah berkata, “Besok paginya —setelah dia ditusuk— orang-orang mengagetkannya dengan berkata, ‘Shalat’. Dia pun kaget, seraya berkata, ‘Ya’. Tidak ada harganya dalam Islam orang yang meninggalkan shalat. Setelah itu dia mengerjakan shalat, sementara lukanya masih mengeluarkan darah.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ketika Umar tertusuk, datanglah Ka’ab seraya berkata, ‘Demi Allah, seandainya Amirul Mukminin mau berdoa, tentu Allah akan memanjangkan usianya dan dapat meninggikan umat ini sehingga dia dapat berbuat begini dan begitu untuk umat’. Sampai akhirnya dia menyebut orang-orang munafik yang dia ingat. Aku kemudian berkata, ‘Apakah perkataanmu ini boleh disampaikan kepadanya?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak mengatakannya kecuali agar kamu menyampaikannya kepadanya’. 
Aku kemudian berdiri dan melangkahi orang-orang yang ada hingga bisa berada dekat dengan kepala Umar, lalu aku berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin’. Beliau lantas mengangkat kepalanya. Aku lanjut berkata, ‘Ka’ab bersumpah kepada Allah, seandainya engkau berdoa niscaya Allah akan memanjangkan usiamu dan meninggikan umat ini’. Beliau menjawab, ‘Panggillah Ka’ab!’ Mereka kemudian memanggil Ka’ab, seraya berkata, ‘Apakah yang telah kamu katakan?’ Ka’ab menjawab, ‘Aku berkata begini dan begitu’. Dia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, aku tidak akan berdoa kepada Allah, tetapi Umar akan celaka jika Allah tidak mengampuninya’.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Abu Lu`lu`ah adalah seorang pria Majusi.”
Salim bin Abdullah meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata, “Utsman, Ali, Zubair, Ibnu Auf, dan Sa’ad menghadap Umar —sedangkan Thalhah ketika itu tidak hadir—. Beliau kemudian berkata, ‘Sesungguhnya aku melihat bahwa urusan umat berada di tangan kalian, dan aku tidak akan menemukan perpecahan di tengah-tengah umat kecuali yang memegang kepemimpinan adalah salah seorang di antara kalian’. Selanjutnya beliau berkata, ‘Sesungguhnya kaum kalian menghendaki agar ada tiga kandidat yang dipilih di antara kalian. Jika kamu yang memegang tampuk kepemimpinan wahai Utsman, maka jangan sekali-kali membawa bani Abu Mu’ith untuk menduduki jabatan. Jika kamu menjadi pemimpin wahai Ali, maka jangan sekali-kali membawa kerabatmu menduduki jabatan. Lakukanlah musyawarah dan angkatlah salah seorang di antara kalian untuk menjadi pemimpin’. Setelah itu mereka bermusyawarah.”
Ibnu Umar berkata, “Suatu ketika Utsman memanggilku sekali atau dua kali untuk memasukkanku ke dalam jajaran pemerintahan, tetapi Umar tidak pernah menyebut namaku. Demi Allah, aku tidak suka bersama mereka karena aku tahu yang akan menjadi pemimpin nantinya adalah salah seorang di antara yang disebut oleh Ayahku. Demi Allah, setiap ucapan yang aku dengar dari kedua bibirnya hanyalah kebenaran. Ketika ajakan Utsman itu datang berkali-kali, aku pun berkata, ‘Apakah kalian tidak paham? Apakah kalian akan mengangkat pemimpin ketika Amirul Mukminin masih hidup! Demi Allah, seakan-akan aku menyadarkan mereka’. Umar kemudian berkata, ‘Santai saja, jika telah terjadi apa-apa denganku, maka Shuhaiblah yang memimpin shalat bersama orang-orang selama tiga hari, dan sebaiknya pada hari ketiga para tokoh dan panglima pasukan dikumpulkan untuk menentukan pemimpin. Siapa saja yang mengangkat seorang pemimpin tanpa melalui proses musyawarah, maka ia panatas dibunuh’.”
Ibnu Umar berkata, “Ketika itu kepala Umar berada di pangkuanku, beliau berkata, ‘Letakkan pipiku di atas tanah!’ Aku pun meletakkannya. Tak lama kemudian beliau berkata, ‘Celaka aku, celaka Ibuku jika Tuhanku tidak merahmatiku’.”
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, “Jasad Umar kemudian diletakkan di antara kuburan dan mimbar, lalu datanglah Ali. Hingga ketika ia berdiri di antara barisan, ia berkata, ‘Semoga rahmat Allah diberikan kepadamu. Tidak ada makhluk yang lebih aku cintai daripada orang yang mendapatkan catatan amalnya setelah catatan amal Nabi lantaran darah yang menempel di bajunya’. Dia telah meriwayatkan hadits serupa dari berbagai jalur periwayatan, dari Ali.”
Ma’dan bin Abu Thalhah berkata, “Umar tertimpa musibah tersebut pada hari Rabu tanggal 25 Dzulhijjah. Demikian kata Zaid bin Aslam dan yang lain.”
Ismail bin Muhammad bin Sa’ad bin Abu Waqqash berkata, “Beliau dimakamkan pada hari Ahad bulan Muharram.”
Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah, bahwa ia mendengar Mu’awiyah dalam khutbahnya berkata, “Seperti halnya Rasulullah SAW, Abu Bakar meninggal pada usia 63 tahun. Begitu pula Umar .”
-------------
ref. ringkasan siyar alam an-nubala
terb. pustaka azzam