Abu Thalhah Al Anshari


Dia adalah Zaid bin Sahal Al Aswadadalah.
Dia merupakan sahabat Nabi SAW dan keponakan beliau. 
Dia salah satu pemimpin perang Badar dan satu dari dua belas pemimpin dalam peristiwa malam Aqabah.
Dia dikenal sebagai sahabat yang selalu mengerjakan puasa secara berturut-turut setelah Nabi Muhammad.
Selain itu, dia termasuk sahabat yang tidak berpendapat bahwa menelan air hujan bagi orang yang berpuasa membatalkan puasa, dia berkata, “Karena itu tidak termasuk makanan dan minuman.”113
Dia juga orang yang dikatakan dalam sabda Rasulullah SAW, “Suara Abu Thalhah adalah yang paling baik di antara rombongan pasukan perang.” Dia memiliki banyak keistimewaan.
Diriwayatkan dari Tsabit, dari Anas, dia berkata: Ketika Abu Thalhah meminang Ummu Sulaim, Ummu Sulaim berkata, “Aku sebenarnya senang kepadamu, dan tidak ada orang sepertimu yang ditolak, akan tetapi engkau orang kafir. Namun apabila engkau memeluk Islam, maka itu bisa menjadi maharku dan aku tidak akan meminta yang lain  darimu.” Abu Thalhah pun memeluk Islam lalu menikah dengannya.
Tsabit berkata, “Kami tidak pernah mendengar ada mahar yang lebih mulia dari maharnya Ummu Sulaim, yaitu Islam.”
Ketika putra Abu Thalhah meninggal dunia, Ummu Sulaim tetap menyembunyikan hal itu, hingga Thalhah berkumpul dengannya. Kemudian Ummu Sulaim mengabarkan kematian anaknya, dia berkata, “Sesungguhnya Allah telah memberi pinjaman kepadamu, dan sekarang Dia telah mengambilnya kembali. Oleh karena itu, relakanlah kepergian anakmu!”
Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Ketika perang Uhud, pasukan Islam melarikan diri dari Rasulullah SAW, sedangkan Abu Thalhah tetap berada di sisi beliau untuk membentengi beliau dari serangan. Dia memberikan perlawanan yang keras, hingga pada saat itu dia bisa mematahkan dua atau tiga busur panah. Lalu ada seorang pria berjalan dengan membawa anak panah, maka Rasulullah bersabda kepadanya, “Berikan anak panah itu kepada Abu Thalhah.” Ketika Rasulullah SAW berusaha mendekati pasukan Islam, Abu Thalhah berkata, “Ya Nabiyallah, demi Allah, jangan mendekat, agar engkau tidak terkena anak panah, karena pengorbananku tidak seperti pengorbananmu!”
Anas berkata, “Aku melihat Aisyah dan Ummu Sulaim berjalan dengan terburu-buru. Aku juga melihat pembantu mereka yang bertugas belanja di pasar. Mereka membawa tempat air di atas punggung mereka dan memberikannya kepada orang-orang, kemudian kembali untuk mengisinya lagi. Pada saat itu, pedang telah jatuh dari tangan Abu Thalhah sebanyak dua atau tiga kali karena dia mengantuk. 
Diriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah SAW pada waktu perang Hunain bersabda, “Barangsiapa membunuh satu orang, maka dia berhak mendapatkan barang rampasannya.” Pada saat itu Abu Thalhah berhasil membunuh 20 orang dan mengambil semua barang rampasan mereka. 
Anas berkata, “Abu Thalhah adalah sahabat Anshar di Madinah yang memiliki harta paling banyak dari penghasilan kebun kurma. Suatu ketika dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hartaku yang paling aku sukai adalah kebun kurma, maka aku sedekahkan kebun kurma tersebut semata-mata karena Allah. Aku hanya mengharap kebaikan darinya, maka manfaatkanlah ya Rasulullah untuk membela Allah!” Rasulullah SAW lalu bersabda, “Bagus-bagus! Itu merupakan harta keberuntungan, dan aku melihatmu akan menjadikannya sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.”  
Diriwayatkan dari Anas, bahwa Abu Thalhah pernah membaca firman Allah, انْفِرُوْا خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوْا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفسِكُمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ “Berangkatlah kamu  baik dalam keadaan merasa ringan maupun keadaan berat dan berjihadlah dengan hartamu dan jiwamu di jalan Allah.”  (Qs. At-Taubah [9]: 41) kemudian dia berkata, “Allah telah menyuruh kami untuk berangkat, maka kami menyuruh para sesepuh dan pemuda kami agar mengirimku untuk berangkat.”  Mendengar itu, putra-putranya berkata, “Semoga Allah merahmatimu. Engkau sebenarnya telah berperang bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan Umar, maka sekarang biar kami yang menggantikanmu berperang.” Abu Thalhah kemudian ikut menaiki perahu dan berperang, lalu dia menemui ajalnya di tengah perjalanan. Mereka tidak mendapatkan tempat untuk mengubur jenazahnya hingga tujuh hari, akan tetapi kondisi jasadnya tidak berubah. 
Abu Thalhah meninggal pada tahun 34 Hijriyah.
Al Hafizh Abu Muhammad berkata kepada kami, “Nabi SAW memotong sebagian sisi rambut beliau, kemudian dibagi-bagikan kepada para sahabat, lalu beliau memotong lagi rambut sisi lainnya, lantas memberikannya kepada Abu Thalhah.

Artikel Terkait Abu Thalhah Al Anshari