Salman Al Farisi


Al Hafizh Abu Al Qasim, Ibnu A’sakir berkata, “Dia adalah Salman bin Al Islam, Abu Abdullah Al Farisi, ksatria berkuda yang pertama kali masuk Islam, sahabat Nabi SAW. Ia mengabdi kepada beliau dan meriwayatkan hadits darinya.”
Diriwayatkan dari Utsman bin Ruwain, dari Al Qasim Abu Abdurrahman, dia berkata: Salman Al Farisi datang kepada kami dan menjadi imam shalat Zhuhur, kemudian manusia berbondong-bondong menemuinya seperti halnya menemui seorang khalifah. Kami juga menemuinya dan beliau mengerjakan shalat Ashar bersama sahabat-sahabatnya. Dia berjalan, kemudian kami berhenti untuk mengucapkan salam kepadanya. Tidak ada seorang pembesar pun di antara kami kecuali menawarkan agar dia sudi singgah di rumahnya. Namun Salman menolak dengan berkata, “Aku sudah berjanji kepada diriku untuk singgah di rumah Basyir bin Sa’ad.” 
Ketika sampai, dia bertanya tentang Abu Ad-Darda`. Mereka berkata, “Dia sedang berdzikir.” Dia berkata, “Di mana tempat dzikir kalian?” Mereka menjawab, “Beirut.” Dia lalu pergi ke tempat tersebut. 
Urwah berkata: Setelah itu Salman berkata, “Wahai penduduk Beirut, maukah kalian aku riwayatkan sebuah hadits kepada kalian, yang dengannya Allah menghilangkan dari kalian sifat kependetaan? Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 
‘(Pahala) menjaga perbatasan sehari semalam seperti (pahala) puasa dan bangun malam sebulan. Barangsiapa mati dalam keadaan sedang menjaga perbatasan maka dia akan diselamatkan dari fitnah kubur, dan pahala amalannya akan tetap mengalir kepadanya hingga Hari Kiamat’.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Salman Al Farisi menceritakan kepadaku, “Aku adalah seorang pria Persia dari Ishfahan. Aku tinggal di desa yang bernama Jiyyun. Ayahku seorang kepala daerah dan aku orang yang paling dicintainya. Rasa cintanya yang terlalu kepadaku pernah membuatku ditahan di rumah layaknya seorang gadis perawan. Pada waktu itu aku rajin melaksanakan ajaran agama Majusi, menyembah api, yang tak pernah dibiarkan padam sedetik pun. Ayahku mempunyai sebuah tempat yang sangat besar dan dia dibuat sibuk membangunnya. Suatu ketika dia berkata kepadaku, ‘Wahai Anakku, aku sibuk membangun tempat peristirahatan hari ini, maka pergi dan awasilah!’ Beliau menyuruhku melakukan beberapa hal.  Aku pun keluar. Ia kemudian berkata, ‘Kamu jangan menghilang dariku, karena jika kamu hilang maka itu akan membuatku lebih susah daripada mengerjakan tempat peristirahatan tersebut dan kamu akan membuatku gelisah setiap saat’. 
Setelah itu aku keluar menuju tempat peristirahatannya. Ketika itu aku melewati sebuah gereja, lalu aku mendengar suara mereka sedang beribadah. Aku tidak tahu alasan ayah menahanku di rumah. Ketika aku melewati mereka, aku mendengar suara mereka. Aku lantas masuk bersama mereka untuk melihatnya. Ketika aku melihat mereka, aku takjub melihat tata cara ibadah mereka hingga aku menyukainya. Aku kemudian berkata, ‘Demi Allah, ini lebih baik daripada agama yang kami anut. Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan mereka hingga aku meninggalkan tempat peristirahatan ayah’. Selanjutnya aku bertanya kepada orang-orang Nasrani, ‘Dari mana datangnya agama ini?’ Mereka menjawab, ‘Dari Syam’.
Aku kemudian pulang untuk menemui Ayah saat dia telah mengutus seseorang untuk mencariku, hingga menyebabkannya menghentikan seluruh pekerjaannya. Ketika aku datang, dia berkata, ‘Ke mana saja kamu? Bukankah sudah kukatakan agar tidak menghilang dariku?’ Aku menjawab, ‘Wahai Ayah, aku tadi melewati kelompok manusia yang sedang beribadah di gereja, lalu aku takjub melihat tata cara agama mereka. Demi Allah, aku duduk bersama mereka hingga matahari tenggelam’. Mendengar itu dia berkata, ‘Wahai Anakku, agama itu tidak baik. Agamamu adalah agama nenek moyangmu, yang lebih baik darinya’. Aku lalu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, agama itu lebih baik daripada agama kita’. 
Setelah itu dia mengikat kedua kakiku dan menahanku di rumah lantaran mengkhawatirkan diriku. Aku kemudian mengirim seseorang untuk  menemui orang-orang Nasrani tersebut. Kepada mereka kukatakan, ‘Jika ada seorang penunggang kuda datang kepada kalian dari Syam, maka beritahu aku tentang mereka’. Tak lama kemudian rombongan dari Syam tiba. Aku lalu berkata, ‘Jika mereka menginginkan sesuatu dan ingin pulang maka bertahukan kepadaku!’ Mereka pun melaksanakannya. Aku kemudian berusaha melepaskan besi yang mengikat kaki, lalu keluar bersama mereka hingga tiba di Syam. Ketika aku sampai di sana, aku bertanya, ‘Siapa penganut agama Nasrani yang paling baik?’ Mereka menjawab, ‘Uskup di gereja’. Aku lantas mendatanginya dan berkata, ‘Aku sebenarnya tertarik dengan agama ini dan aku senang tinggal bersamamu, memberikan pelayanan bagi gerejamu ini agar dapat belajar dan beribadah bersamamu’. Mendengar itu, sang Uskup berkata, ‘Masuklah!’ Aku pun masuk bersamanya. 
Namun ternyata di seorang pria jahat yang memerintahkan penganut agamanya untuk bersedekah dan membuat mereka terdorong untuk melakukannya. Setelah berhasil mengumpulkan uang sedekah, dia menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak diberikan kepada orang-orang miskin, hingga terkumpul sekitar tujuh peti emas dan perak. Melihat itu, aku marah besar. Tak lama kemudian dia meninggal, sedangkan orang-orang Nasrani berkumpul untuk menguburkannya. Aku lalu berkata kepada mereka, ‘Dia orang jahat, dia menyuruh kalian bersedekah hingga kalian terdorong untuk melakukannya, namun ketika kalian sudah memberikan sedekah, dia hanya menyimpannya untuk diri sendiri dan tidak membagikannya kepada fakir miskin’. Aku lantas memperlihatkan kepada mereka tempat penyimpanan harta yang jumlahnya mencapai tujuh peti. Ketika mereka melihatnya, mereka berkata, ‘Demi Allah, kita tidak akan menguburkannya selama-lamanya’. 
Mereka kemudian menyalibnya dan melemparnya di atas bebatuan.  Selanjutnya mereka mengangkat seseorang untuk menggantikan posisinya. Aku tidak pernah melihat orang —selain orang Islam— yang lebih baik darinya, lebih zuhud di dunia, lebih cinta akhirat, serta lebih beradab pada malam dan siang hari. Aku tidak pernah mencintai seorang pun sebelumnya melebihi cintaku kepadanya. Aku terus bersamanya hingga dia meninggal. Aku berkata, ‘Wahai fulan, ketetapan Allah telah datang kepadamu. Demi Allah, aku tidak pernah mencintai sesuatu seperti halnya aku mencintai dirimu, maka apa yang engkau perintahkan kepadaku dan siapa yang engkau sarankan untuk aku kunjungi?’ Dia berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengenal seseorang selain seorang pria yang berada di Mosul. Datangilah dia, kamu pasti akan menemukan orang sepertiku!’
Setelah dia meninggal dan jasadnya dikubur, aku pergi ke Mosul dan menemui pemimpinnya. Ternyata aku menemukan orang yang persis seperti keadaannya, baik dalam kesungguhan maupun kezuhudan. Aku lalu berkata kepadanya, ‘Seseorang telah menyarankan kepadaku agar menemuimu dan tinggal bersamamu’. Dia menjawab, ‘Tinggallah di sini wahai anakku!’ 
Aku pun tinggal bersamanya seperti yang diperintahkan oleh pemimpinnya, hingga dia meninggal dunia. Setelah itu aku berkata kepadanya, ‘Sebelumnya seseorang telah menyaranku agar menemui dirimu dan sekarang engkau akan meninggal, maka siapa orang yang sarankan untuk aku datangi? Apa yang engkau perintahkan kepadaku?’ Dia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu. Wahai anakku, aku tidak tahu kecuali seorang pria di Nashibain’.
Setelah kami menguburnya, aku mendatangi pria terakhir tersebut. Aku tinggal bersamanya seperti halnya yang lain, hingga akhirnya dia meninggal. Dia kemudian menyarankanku agar mendatangi seorang penduduk Amuriyah di Romawi. Aku pun menemuinya dan mendapatinya seperti keadaan mereka. Selanjutnya aku bekerja hingga berhasil memiliki kekayaan yang melimpah. Tak lama kemudian ada tanda-tanda dia akan meninggal, maka aku berkata kepadanya, ‘Kepada siapa aku harus berguru?’ Dia menjawab, ‘Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui lagi siapa orang yang seperti kita yang bisa kamu datangi. Tetapi sebentar lagi akan datang seorang nabi yang diutus dari tanah haram. Dia berhijrah dari daerah panas menuju wilayah yang subur (berair) yang ditanami pohon kurma. Pada dirinya terdapat tanda-tanda yang dapat diketahui, di antara kedua pundaknya ada cap sebagai penutup para nabi. Dia memakan hadiah dan tidak makan sedekah. Jika kamu bisa pergi ke negeri itu maka lakukanlah, karena waktunya sudah dekat’.
Setelah dia telah meninggal dunia, aku masih tetap tinggal di sana hingga beberapa pedagang Arab dari suku Kalb lewat. Aku lalu bertanya kepada mereka, ‘Maukah kalian membawaku ke negeri Arab? Aku akan memberikan ghanimah serta kekayaanku ini kepada kalian’. Mereka menjawab, ‘Ya’. Aku kemudian memberikan semua hartaku kepada mereka, dan mereka pun membawaku. Tatkala mereka dan aku sampai di Wadil Qura, mereka berbuat zhalim kepadaku dengan menjualku sebagai budak seorang Yahudi di Wadil Qura. Demi Allah, ketika itu aku telah melihat pohon kurma, maka aku berharap itu adalah negeri yang pernah diceritakan oleh sahabatku itu.
Lalu datang seorang pria dari bani Quraidzah ke Wadil Qura. Dia kemudian membeliku dari majikanku, lalu keluar bersamaku hingga kami sampai di Madinah. Demi Allah, negeri itu nampak seakan-akan aku pernah melihatnya lantaran aku telah mengetahui sifat-sifatnya.
Setelah itu aku bermukim di Ruqa, lalu Allah mengutus Nabi SAW di Makkah, dan selama menjadi budak pria tersebut aku tidak pernah memperoleh informasi sedikit pun tentang beliau. Hingga ketika Rasulullah SAW tiba di Quba‘, Madinah, aku masih bekerja sebagai budak, mengurus kurma-kurma majikanku. Demi Allah, ketika aku berada di kebun itu, tiba-tiba keponakan majikan tersebut datang dan berkata, ‘Wahai fulan, Allah telah membinasakan bani Qailah. Demi Allah, sekarang mereka berada di Quba‘ mengerumuni seorang pria yang datang dari Makkah dan mereka menganggapnya sebagai nabi’.
Demi Allah, mendengar berita yang sudah pernah aku dengar, tiba-tiba badanku gemetar, sampai-sampai seperti akan pingsan. Aku pun bergegas turun dan berkata, ‘Berita apa ini?’
Ditanya seperti itu, majikanku mengangkat tangannya dan memarahiku dengan keras, ‘Apa urusanmu, teruskan saja pekerjaanmu!’ Aku berkata, ‘Bukan apa-apa, tetapi aku hanya ingin mengetahui tentang berita tersebut’.
Sore harinya saat aku telah memiliki persediaan makanan, aku langsung berangkat untuk menemui Rasulullah SAW di Quba‘. Setelah bertemu dengan beliau, aku berkata, ‘Aku mendengar bahwa engkau adalah orang shalih dan ditemani sahabat-sahabatmu yang asing. Aku mempunyai sedekah dan aku melihat engkau sebagai orang yang paling berhak menerimanya di negeri ini. Ini untukmu dan makanlah!’
Beliau kemudian menerimanya, lalu bersabda kepada sahabat-sahabatnya, ‘Makanlah!’ melihat hal itu, aku langsung berkata kepada diri sendiri, ‘Ini adalah salah satu sifat yang diceritakan oleh sahabatku’.
Setelah itu aku kembali, sedangkan Rasulullah SAW pindah ke Madinah. Aku kemudian mengumpulkan segala yang aku miliki, lalu mendatangi beliau dan berkata, ‘Aku melihat engkau tidak makan dari hasil sedekah, maka terimalah hadiah ini!’ Rasulullah SAW kemudian memakannya bersama para sahabat. Melihat itu, aku berkata dalam hati, ‘Inilah sifat keduanya’.
Aku lalu menemui Rasulullah SAW lagi pada saat beliau mengiringi jenazah. Ketika itu aku mengenakan dua jubah, sementara beliau berjalan bersama sahabat-sahabatnya. Aku kemudian berputar sambil berusaha melihat bagian pundak beliau, apakah ada cap kenabian seperti yang diceritakan. Tatkala beliau melihatku, nampaknya beliau tahu bahwa aku sedang mencari sesuatu, maka beliau melepaskan serban dari punggungnya hingga aku bisa melihat cap itu. Aku pun langsung memeluknya sambil menangis. 
Setelah itu aku menceritakan kepada beliau kisah yang aku alami seperti yang aku kisahkan kepadamu wahai Ibnu Abbas. Selanjutnya Rasulullah SAW menyarankan agar para sahabat yang lain mendengarkan cerita tersebut.”
Salman masih menjadi budak dan sibuk dengannya hingga dia tidak bisa ikut Rasulullah SAW dalam perang Badar dan Uhud. Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Merdekakan dirimu secara mukatab106 wahai Salman!”  Aku pun membuat perjanjian kemerdekaan dengan sang majikan. Aku harus membayar tiga ratus pohon kurma yang telah ditanami, ditambah harta sejumlah empat puluh uqiyah.107 Mendapat informasi seperti itu, Rasulullah SAW lantas bersabda kepada para sahabat, “Tolonglah saudara kalian!” Di antara mereka ada yang memberikan 30 tunas pohon kurma, ada yang memberikan 20, dan ada yang memberikan 15 tunas pohon kurma. Selanjutnya beliau berkata, “Pergilah wahai Salman dan galilah lubangnya. Jika selesai maka datanglah kepadaku, biar aku sendiri yang meletakkan tunas-tunas pohon kurma itu!” 
Aku kemudian menggali lubang-lubang itu dengan dibantu oleh sahabat-sahabatku. Setelah selesai menggali, aku langsung mendatangi beliau untuk melaporkannya. Beliau lalu keluar bersamaku. Kami memberikan tunas pohon kurma itu kepada beliau, lalu beliau meletakkannya dengan tangannya ke dalam lubang. Demi jiwa Salman yang berada di tangan-Nya, tidak ada satu pun tunas kurma yang mati. Selanjutnya aku menyerahkan pohon-pohon kurma itu kepada majikanku dan tinggal tanggungan membayar uang sejumlah empat puluh uqiyah. 
Tak lama kemudian Rasulullah SAW datang dengan membawa sebuah benda seperti telur ayam yang terbuat dari perak, yang diperoleh dari medan perang. Beliau lantas bertanya, “Apa yang dilakukan Salman Al Farisi yang baru dibebaskan itu?” Aku pun dipanggil. Beliau lantas bersabda, “Ambillah ini dan penuhilah kebutuhanmu dengan ini!” Aku lalu menjawab, “Apa yang bisa aku perbuat dengan ini wahai Rasulullah untuk memenuhi kebutuhanku?” Beliau bersabda, “Ambillah! Allah pasti akan memenuhi kebutuhanmu dengannya’. 
Aku pun mengambilnya lalu menukar sebagiannya dengan empat puluh uqiyah, yang aku gunakan untuk membayar tanggungan kepada majikanku. Sejak saat itu aku bebas. Selanjutnya aku ikut bersama Rasulullah SAW dalam perang Khandaq, dan tidak ada satu peperangan pun yang aku tinggalkan.
Diriwayatkan dari A‘idz bin Amr, bahwa suatu ketika Abu Sufyan berjalan melewati Salman, Bilal, dan Shuhaib dalam sebuah rombongan. Mereka lalu berkata, “Pedang-pedang Allah tidak bisa menyentuh leher musuh-musuh Allah.” Mendengar ucapan itu, Abu Bakar berkata, “Apakah kalian mengatakan itu kepada syaikh dan pemimpin Quraisy?” Tak lama kemudian Nabi SAW datang lalu mengabarkan kepadanya, “Wahai Abu Bakar, mungkin kamu membuat mereka marah. Jika kamu membuat mereka marah, berarti kamu telah membuat Tuhanmu marah.” Abu Bakar pun mendatangi mereka lantas berkata, “Wahai saudaraku, apakah aku telah membuat kalian marah?” Mereka menjawab, “Tidak, wahai Abu Bakar, semoga Allah mengampunimu.”
Diriwayatkan dari Abu Al Bukhturi, bahwa Ali pernah ditanya oleh beberapa orang, “Ceritakan kepada kami tentang sahabat-sahabat Muhammad SAW!” Ali berkata, “Siapa yang ingin kalian ketahui?” Ada yang menjawab, “Abdullah.” Dia kemudian berkata, “Dia sahabat yang mengetahui Al Qur`an dan Sunnah dengan baik. Kemudian ilmu berakhir pada dirinya.” Mereka berkata, “Bagaimana dengan Ammar?” Dia menjawab, “Dia seorang mukmin yang sering lupa. Tetapi jika kamu mengingatkannya, dia akan ingat.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana dengan Abu Dzarr?” Dia berkata, “Dia menyadari ilmu yang tidak mampu dilakukannya.” Mereka lanjut bertanya, “Bagaimana dengan Abu Musa?” Dia menjawab, “Dia termasuk cendekiawan sahabat.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana dengan Hudzaifah?” Dia berkata, “Dia sahabat Muhammad yang paling tahu tentang orang-orang munafik.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana dengan Salman?” Dia menjawab, “Dia mendapatkan ilmu yang pertama dan yang terakhir, lautan yang dasarnya tidak diketahui, dan dia seorang Ahlul Bait.” Mereka bertanya, “Bagaimana dengan dirimu sendiri wahai Amirul Mukminin?” Dia menjawab, “Jika aku meminta diberi dan jika aku mencari akan menemukan.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa ketika Nabi SAW membaca firman Allah,  “Jika mereka berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, kemudian mereka tidak akan seperti kamu ini” (Qs. Muhammad [47]: 38) para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapa mereka?” Beliau kemudian memukul paha Salman Al Farisi dan berkata, “Pria ini dan kaumnya. Seandainya agama ini dipeluk oleh orang-orang kaya, tentu orang-orang Persi akan segera memeluknya.”
Diriwayatkan dari Abu Al Bukhturi, dia berkata: Al Asy’ats bin Qais dan Jarir bin Abdullah datang untuk menghadap Salman di sebuah rumah gubuk. Keduanya lalu memberi salam dan menghormatinya, lantas berkata, “Apakah engkau sahabat Rasulullah?” Dia menjawab, “Aku tidak tahu.” Keduanya lantas bimbang. Tak lama kemudian Salman berkata, “Sahabat Rasulullah adalah yang menemaninya masuk surga.” Keduanya lalu berkata, “Aku datang dari Abu Ad-Darda`.” Salman berkata, “Lalu mana hadiahnya?” Keduanya menjawab, “Kami tidak membawa hadiah.” Salman berkata, “Bertakwalah kepada Allah dan tunaikan amanah! Setiap orang yang datang darinya untuk menemui diriku pasti membawa hadiah.” Keduanya berkata, “Jangan membebani kami dengan itu, karena kami memiliki harta, biar aku yang berikan kepadamu.” Salman berkata, “Yang aku inginkan hanya hadiah.” Keduanya lantas berkata, “Demi Allah, Abu Ad-Darda` tidak menitipkan apa-apa kepada kami untukmu kecuali perkataannya, ‘Sesungguhnya di antara kalian ada seorang pria yang jika bersama Rasulullah, dia tidak menginginkan apa-apa lagi. Jika kalian berdua mendatanginya, sampaikan salamku kepadanya’. Salman berkata, ‘Hanya hadiah tersebut yang aku inginkan dari kalian, karena tidak ada lagi hadiah yang lebih mulia darinya selain itu?’.”
Diriwayatkan dari Thariq bin Syihab, dari Salman, dia berkata, “Jika waktu malam telah tiba, orang-orang terbagi menjadi tiga tingkatan: pertama, orang yang mendapatkan pahala dan tidak mendapat dosa. Kedua, orang yang mendapat dosa dan tidak mendapat pahala. Ketiga, orang yang tidak mendapat dosa dan tidak mendapat pahala.” Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Salman menjawab, “Pertama, orang yang mendapatkan pahala dan tidak mendapatkan dosa adalah orang yang menghindari orang-orang lalai dan kegelapan malam, lalu berwudhu dan shalat. Kedua, orang yang mendapat dosa dan tidak mendapat pahala adalah orang yang bergaul dengan orang-orang lalai dan kegelapan malam, lalu berbuat maksiat. Ketiga, orang yang tidak mendapat dosa dan tidak mendapat pahala adalah orang yang tidur hingga pagi.”
Thariq  kemudian berkata, “Aku akan menemani pria itu (maksudnya Salman).” Tatkala beberapa orang dikirim ke suatu tempat, Salman ikut bersama mereka. Aku menemaninya. Jika dia membuat adonan, aku yang membuat roti, dan jika dia yang membuat roti, aku yang memasak. Tak lama kemudian kami singgah di sebuah rumah dan bermalam di tempat tersebut. 
Biasanya, Thariq mempunyai waktu tertentu yang digunakan untuk beribadah pada malam hari. Manakala aku terjaga pada malam hari, aku melihat Salman masih tertidur pulas, maka aku pun tidur kembali. Aku lantas berkata, “Sahabat Rasulullah, orang yang lebih baik dariku saja masih tidur, maka sebaiknya aku tidur kembali.” Ketika aku terjaga untuk kedua kalinya aku melihatnya masih tidur, hingga akhirnya aku tidur lagi. Hanya saja jika dia terjaga pada tengah malam, dalam keadaan tidur, dia membaca, “Subhaanallah, walhamdu lillah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar, laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa ala kulli syai`in qadir.” 
Menjelang Subuh, dia bangun, lalu berwudhu, kemudian shalat empat rakaat. Ketika kami mengerjakan shalat Subuh, aku bertanya, “Wahai Abdullah, aku mempunyai jam untuk membangunkanku pada waktu malam dan aku bangun, tetapi aku melihatmu masih tidur.” Salman berkata, “Wahai keponakanku, apakah kamu tidak mendengar apa yang aku baca pada malam itu?” Aku lalu memberitahukannya bahwa aku mendengarnya. Dia lantas berkata, “Wahai keponakanku, itu adalah shalat, karena shalat lima waktu merupakan kafarat di antara keduanya dari dosa-dosa kecil. Wahai keponakanku, kamu hendaknya menetapkan niat, karena itu lebih sampai kepada tujuan.” 
Diriwayatkan dari Abu Wa‘il, dia berkata: Suatu ketika aku dan seorang teman pergi menemui Salman, lalu dia berkata, “Seandainya Rasulullah SAW tidak melarang kami untuk membebani diri, tentu kami akan mengabdi kepada kalian.” Tak lama kemudian dia membawakan roti dan garam kepada kami. Teman itu berkata, “Alangkah baiknya jika ada sha’tar (semacam daun untuk lalap) pada garam kita ini.” Salman pun membawa wadah cuciannya lalu menggadaikannya. Kemudian muncul dengan membawa daun sha’tar. Selesai makan, temanku berkata, “Segala puji bagi Allah yang menjadikan kami puas dengan apa yang diberikan kepada kami.” Mendengar itu, Salman berkata, “Seandainya kamu puas, tentu wadah cucianku tidak akan digadaikan.”
Diriwayatkan dari Anas, dia berkata: Sa’ad dan Ibnu Mas’ud pernah menghadap Salman menjelang kematiannya. Salman lalu menangis. Ketika dia ditanya, “Mengapa kamu menangis?” Salman menjawab, “Karena janji yang pernah dijanjikan Rasulullah SAW kepada kami, namun kami bisa menepatinya.”  Dia lanjut berkata, “Kalian sebaiknya mengumpulkan bekal di dunia untuk akhirat, layaknya orang yang membawa bekal ketika hendak bepergian. Sedangkan kamu wahai Sa’ad, hendaknya bertakwa kepada Allah dalam menetapkan hukum ketika membuat suatu keputusan, melakukan pembagian, dan menginginkan sesuatu.”
Tsabit berkata, “Aku mendapat berita bahwa Salman tidak meninggalkan apa-apa kecuali uang dua puluh dirham lebih sedikit.”
Diriwayatkan dari Salman, dia berkata, “Masa yang terpaut antara Isa dengan Muhammad adalah enam ratus tahun.”
Salman meninggal dunia di Mada‘in, pada masa Khalifah Utsman.
Abbas bin Yazid Al Jurjani berkata: Para ulama berkata, “Salman berusia 350 tahun, sedangkan yang 250 tahun tidak diragukan tentangnya.”
Semua masalah, keadaan, peperangan, semangat, dan tingkah lakunya, menunjukkan bahwa dia tidak berumur panjang dan tidak sampai berusia lanjut. Dia meninggalkan negerinya sejak kecil. Mungkin dia pergi ke Hijaz saat berusia 40 tahun atau kurang, tetapi pada saat itu dia belum mendengar perihal diutusnya Nabi. Kemudian dia hijrah. Mungkin dia hidup selama 70-an tahun. Tetapi menurutku, usianya tidak mencapai seratus tahun. Oleh karena itu, siapa pun yang mengetahui secara jelas tentang masalah ini, sebaiknya membertahukannya kepada kami.
Yang menukil bahwa beliau berusia panjang adalah Abu Al Faraj bin Al Jauzi dan lain-lain, sementara aku tidak mengetahui apa-apa tentangnya.
Diriwayatkan dari Tsabit Al Bunnani, dia berkata: Ketika Salman sakit, Sa’ad keluar dari Kufah untuk menjenguknya. Lalu dia datang bertepatan dengan saat-saat Salman menutup usianya. Dia kemudian menangis, lalu mengucapkan salam lantas duduk. Sa’ad berkata, “Apa yang membuatmu menanggis wahai saudaraku? Tidakkah kamu ingat persahabatan dengan Rasulullah? Tidakkah kamu ingat dengan pemandangan yang indah-indah?”
Salman berkata, “Demi Allah, yang membuat aku menangis bukan karena seseorang atau dua orang, bukan karena aku cinta dunia dan tidak senang bertemu dengan Allah.” Sa’ad berkata, “Lalu apa yang membuatmu menangis setelah kamu berusia delapan puluh tahun?” Salman menjawab, “Aku menangis karena kekasihku telah menetapkan janji kepadaku seraya bersabda, ‘Setiap orang di antara kalian hendaknya selalu bersiap-siap di dunia ini, seperti halnya persiapan yang dilakukan oleh orang yang hendak bepergian’. Oleh karena itu, kami takut telah melanggar janji itu.”
Diriwayatkan dari sebagian sahabat, dari Tsabit, dia berkata, “Diriwayatkan dari Abu Utsman, bahwa hadits tersebut berstatus mursal, seperti yang dikatakan oleh Abu Hatim.” Hadits ini menjelaskan bahwa Salman hanya berusia 80 tahun.
Mengenai hal ini, aku telah menjelaskannya dalam kitab Tarikh Al Kabir, bahwa dia berusia 250 tahun, dan pada saat itu aku tidak menerima dan tidak membenarkan pendapat tersebut.

Artikel Terkait Salman Al Farisi