Abdul Mu’min bin Ali


Dia adalah Ibnu Alawi, Sultan Maghrib yang diberi gelar Amirul Mu’minin, Al Kufy, Al Qaisi. Lahir di wilayah Tilmisan, ayahnya seorang pembuat tembikar. Para juru khutbah apabila berdoa untuknya setelah Ibnu Tumirt, mereka mengatakan, “Semoga takdir nasab dia adalah kemuliaan.” Dia dilahirkan pada tahun 487 H.
Abdul Wahid Al Marrakusyi berkata, “Sebelum wafatnya, Ibnu Tumirt memanggil beberapa orang laki-laki yang kemudian diberi sebutan dengan Al jama’ah dan ahlu Al Khamsin (golongan lima puluh), juga memanggil tiga orang, mereka adalah Umar Artaj, Umar Inty, dan abdullah bin Sulaiman. Ibnu Tumirt memuji Allah SWT kemudian berkata, ‘Wahai jama’ah, Sesungguhnya Allah SWT telah menganugerahi kalian dengan menguatkan-Nya, Dia telah mengistimewakan kalian dengan kebenaran, mentauhidkan-Nya, Dia menakdirkan kalian dengan merubah keadaan kalian yang sebelumnya tersesat dan tidak mendapatkan hidayah, mata kalian buta tidak dapat melihat, telah meluas perbuatan bid’ah di antara kalian, kalian terpesona dengan segala kebatilan, kemudian Allah SWT memberi kalian hidayah, Dia menolong kalian, mengumpulkan kalian setelah berpencar, menghilangkan dari kalian penguasa sesat, Dia akan mewariskan buat kalian tanah-tanah dan rumah-rumah mereka, itu semua karena perbuatan mereka sendiri, maka perbaharuilah keimanan kalian kepada Allah SWT dengan niat yang tulus, dan tunjukanlah kepada-Nya rasa syukur kalian dengan perkataan dan perbuatan, yang dengannya Dia akan membersihkan usaha kalian. Berhati-hatilah terhadap bahaya perpecahan, jadilah kalian satu tangan dalam memerangi musuh-musuh kalian, karena jika kalian melakukannya, niscaya orang-orang akan merasa takut kepada kalian dan mereka bersegera menaati kalian. Tetapi jika kalian tidak melakukannya, kalian akan ditimpa kehinaan, masyarakat akan merendahkan kalian. 
Hendaknya kalian mencampur kasih sayang kalian dengan kekerasan dan kelembutan kalian dengan kekejaman. Kami telah memilih seseorang dari kalian untuk membimbing kalian, kami menjadikannya seorang pemimpin setelah kami mengujinya, kami telah melihatnya memiliki kekuatan dalam pendirian agamanya, bijak terhadap perkaranya. Dia lah orang tersebut –sambil menunjuk ke Abdul Mu’min-, maka dengarkanlah perkataannya, dan taatilah dia selama dia menaati Tuhannya, jika dia ingin mengubah kalian, maka dalam jiwa orang-orang yang bertauhid terdapat keberkatan dan kebaikan. Segala perkara hanya milik Allah SWT, Dia menyerahkannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Maka seluruh kaum membai’at Abdul Mu’min, kemudian Ibnu Tumirt berdoa untuknya.
Ibnu Khallikan berkata, “Tidak ada seorang pun yang menggantikan posisinya, tetapi dia sendiri yang menunjuknya. Ibnu Khallikan berkata, ‘Negeri yang pertama dia kuasai adalah Hawaran, lalu Tilmisan, Fas, Sala, kemudian dia mengepung daerah Marrakusy selama sebelas bulan, dan akhirnya dia menguasainya pada tahun 542 H’.”  
Daerah kekuasaannya bertambah luas, dia banyak menaklukkan daerah Andalus. Para penyair menyedandungkan syairnya ketika At-Tifasy membacakan bait syair untuknya 
“Tidak seorang pun yang bisa menggerakkan kedua tangannya antara bagian putih dan lengan bawahnya seperti yang dilakukan Khalifah Abdul Mu’min bin Ali.”
Dia memberinya isyarat agar mencukupkan bacaan bait syairnya. Dia memerintahkan supaya dia diberi hadiah seribu dinar. Da’wah daulah Abbasiyah kemudian terputus dengan meninggalnya amirul muslimin Ali bin Tasyfin beserta anaknya Tasyfin. Daulah Tasyfin hanya berdiri selama tiga tahun.
Ibnu Al Jauzi dalam kitab Al Mir‘ah berkata, “Abdul Mu’min berkuasa atas daerah Marrakusy, kemudian terjadilah pertempuran, dia mengumpulkan seluruh rakyat, dan mendatangkan orang-orang Yahudi dan Nashrani. Dia berkata, ‘Sesungguhnya Al Mahdi memerintahku untuk tidak memaksa orang beragama selain agama Islam, dan aku memberi kalian antara tiga pilihan, memilih masuk Islam, pergi ke wilayah peperangan, atau kalian akan dibunuh. Kemudian sebagian kelompok memilih masuk Islam, dan sebagian lagi memilih pergi ke wilayah peperangan. Dia menghancurkan gereja-gereja mereka, membangun masjid-masjid dan menghapus jizyah. Dia melakukan hal itu di seluruh wilayahnya, menafkahkan hartanya ke baitul mal, dan shalat di tempat tersebut karena ingin mengikuti Ali, supaya terlihat oleh manusia bahwa dia tidak menimbun harta. Dia mendirikan tempat-tempat pengajian Islam dengan perencanaan yang sempurna.”
Dia berseru, “Barangsiapa yang meninggalkan shalat tiga kali, maka bunuhlah ia!” Dia menghilangkan kemungkaran, mengimami jamaah shalat, membaca sepertujuh Al Quran dalam sehari, mengenakan pakaian dari bahan wol yang megah, berpuasa setiap hari Senin dan Kamis, membagikan harta rampasan dengan bagian yang sama, sehingga rakyat pun mencintai dia.
Dalam kitab Al Jam’, Aziz berkata, “Abdul Mu’min mengambil haknya apabila hal itu sudah menjadi kewajiban anaknya. Dia tiak membiarkan seorang pun dalam keadaan musyrik di negerinya, tidak agama Yahudi ataupun agama Nashrani, seluruh rakyatnya memeluk agama Islam.”
Abdul Mu’min sangat terkesan pada ahli ilmu, dan dia mencintai mereka, memperbanyak silaturahmi kepada mereka. Pertemuan dia dengan mereka dikenal dengan golongan orang-orang bertauhid, karena bersama mereka Al Mahdi mendalami ilmu Akidah dan ilmu Kalam.
Abdul Mukmin dikenal sebagai Khalifah yang berjiwa tenang dan berwibawa, memiliki kedudukan sempurna, berhati mulia dan dermawan, berkemauan tinggi, cakap dalam memerintah. Dan kondisi Andalus tiba-tiba menjadi kacau, para pembesarnya saling tidak memberi pertolongan, mereka lebih suka beristirahat, pihak asing sudah mulai berani kepada mereka, semua panglima sibuk dengan urusan pribadinya di sebuah kota, dan pihak asing mulai memberontak kekuasaan mereka, mereka mempunyai sifat tamak. Maka Abdul Mu’min menyiapkan tentara yang dipimpin Umar Inty, dan dia pun mulai masuk wilayah Andalus, akhirnya dia dapat mengmbil kekuasaan Al Jazirah yang hijau, lalu daerah Rundah, Sevilla, Qordhoba dan Granada. Abdul Mu’min kemudian bergerak bersama pasukannya, dia melewati lautan dari lorong pulau, dan singgah di “jabal Thariq” (bukit Thariq), dia menamakannya Jabal Al Fath (bukit kemenangan), kemudian tinggal di situ selama berbulan-bulan. Dia membangun istana-istana dan kota. Para pembesar Andalus sering mengirim utusan kepada dia. Sebagian penyair mendendangkan syairnya, 
Mengapa musuh tidak memiliki perisai yang kuat untuk melarikan diri, kemanakah tempat berlari sedang kuda Allah siap mengejarnya, dan kemana perginya orang yang di atas kepalanya penutup yang tinggi, panah-panah Allah telah mengenainya bagai meteor yang meluncur, berceritalah tentang Romawi di penjuru Andalus, dan laut telah memenuhi dua daratan oleh bangsa Arab.
Abdul Mu’min sangat takjub dengan syair tersebut, seraya berkata, “Seperti ini kah para Khalifah dipuji? Kemudian dia menempatkan anaknya Yusuf sebagai gubernur di Sevilla, di Qordhoba dia menempatkan Abu Hafsh Umar Inty, dan di Granada dia menempatkan anaknya Utsman. Dia menetapkan tentara yang kuat di Andalus untuk mengatasi pertikaian antara bangsa Arab dan kabilah bani Hilal. Dia pernah memerangi mereka dalam waktu singkat, dan meraih kemenangan atas mereka, menghinakan mereka dengan menawannya, kemudian mengadakan perjanjian dan berlemah lembut terhadap mereka, mereka akhirnya mau bekerja sama dengan dia, dan dia melepaskan mereka. Dia memasuki Andalus pada tahun 48 H.”
Abdul Wahid Al Marrakisy dan berkata, “Tidak sedikit orang telah bercerita kepadaku bahwa Abdul Mu’min tatkala memasuki wilayah Sala –berada di tengah samudera, terdapat sungai besar di dalamnya yang mengalir di laut- dia menyeberangi sungai, dan mendirikan tenda. Seluruh pasukannya melintasi kabilah demi kabilah, dia bersujud kemudian bangun kembali dan jenggotnya telah basah oleh air mata. kemudian Abdul Wahid Al Marrakisy berkata, ‘Aku mengetahui tiga orang yang mampu mendatangi kota ini, mereka tidak mempunyai apa-apa melainkan satu roti saja, dengannya mereka menyeberangi sungai, mereka mengeluarkan roti untuk pemilik perahu agar ia mau berangkat bersama mereka. Pemilik perahu berkata, Aku tidak mau menerima kecuali dua roti. Salah seorang dari mereka dan ia masih muda berkata, Ambillah pakainku, aku akan menyeberang dengan berenang, dan ia melakukan hal tersebut. Pemuda tadi setiap kali merasakan kelelahan, ia mendekat ke perahu dan meletakkan tangannya di atasnya untuk beristirahat sebentar, dan pemilik perahu memukulnya dengan dayung, pemuda tersebut tidak dapat melewati sengai tersebut kecuali setelah ia berjuang dengan sekuat tenaga. Orang-orang yang mendengar cerita ini tidak menyangka bahwa dia lah –Abdul Mu’min- pemuda yang berenang tadi, dua orang lainnya yang berada di perahu adalah Ibnu Tumirt dan Abdul Wahid Asy-Syarqy.”
Ibnu Al Atsir berkata, “Abdul Mu’min memasuki wilayah Al Mahdiyyah, Khalifah pemberani tersebut keluar untuk menghadapi pasukan asing, tetapi mereka dapat mengatasi tentaranya. Dia kemudian memerintahkan untuk mendirikan pagar-pagar untuk menghalang musuh. Dia bersabar dalam menghadapi mereka, dan akhirnya dia dapat menaklukkan daerah Safaqis, Tharablus dan Qabis. Di sini telah terjadi beragam permasalahan, dan juga peperangan-peperangan yang penjelasannya memerlukan waktu yang panjang. Dia telah menyiapkan seorang panglima untuk membuka daerah Tauzar dan negeri Al Jarid, kemudian dia mengusir tentara asing dari negeri tersebut. Dia juga telah membersihkan bangsa Afrika dari kekufuran. Kerajaannya di negeri Maroko telah sempurna dimulai dari Tharablus sampai daerah As-Sus Al Aqsha dan banyak kerajaan di Andalus. Jika saja dia berkehendak untuk menguasai Mesir, maka dia akan dapat mengambilnya, dan hal itu tidaklah sulit baginya.
Ketika telah memasuki tahun 58 H, dia memerintahkan sebuah tentara untuk bersiap memerangi kerajaan Romawi, orang-orang pergi berlari selama satu tahun. Dia terus bergerak hingga memasuki daerah Sala, kemudian dia sakit, dan ajal menjemputnya di tempat tersebut pada hari ke 27 bulan Jumada Al Akhirah. Keadaan Maroko menjadi genting dengan kematiannya. Sebelum meninggalnya, dia telah menunjuk anaknya Muhammad sebagai putra mahkota. Akan tetapi ia tidak bisa memperbaiki keadaan karena ia bersikap gegabah, dan penyakit lepra yang diidapinya, juga karena kebiasaannya meminum khamar. Ia berkuasa selama berhari-hari saja, kemudian rakyat menurunkannya. Mereka sepakat untuk mengangkat saudaranya Yusuf bin Abdul Mu’min. Ia bertahan sebagai Khalifah selama dua puluh dua tahun. Abdul Mu’min wafat meninggalkan enam belas anak laki-laki.
Penulis kitab Al Jam’ berkata, “Aku menjumpai kitab yang para penulisnya menuliskan tentang Abdul Mu’min: Di antara salah seorang Khalifah yang ma’shum, ridha dan suci, yang telah diberitakan oleh Nabi Arab, yang mengekang setiap jiwa yang sesat, pembela agama Allah yang tinggi, adalah Amirul Mukminin Abdul Mu’min bin Ali.”

Artikel Terkait Abdul Mu’min bin Ali