Ibnu Hubairah

Dia adalah seorang menteri yang sempurna, imam yang pandai lagi adil, penolong agama, kepercayaang Khalifah, Abu Al Muzhaffar Yahya bin Muhammad bin Hubairah, As-Syaibany, Ad-Duri Al Iraki Al Hanbali, seorang penulis buku.
Dia lahir pada tahun 499 H.
Ibnu Al Jauzi berkata, “Dia selalu berusaha mengikuti jalan yang benar, berhati-hati dari perbuatan zhalim, tidak memakai pakaian sutera, dia telah berjuang keras untuk mengangkat keagungan pemerintah, bertindak tegas terhadap kelompok yang berseberangan dengan beragam cara, mengatasi segala urusan kerajaan Saljuq, dia selalu membicarakan kenikmatan Allah SWT, dalam jabatan yang sedang dipegangnya, dia sering mengingat-ingat kefakiran masa lalunya. Dia berkata, “Suatu hari aku pernah menetap di Dijlah, waktu itu aku tidak mempunyai satu roti pun untuk bertahan hidup. Dia dikenal banyak mendatangi majlis para ulama dan orang-orang fakir, dan memberikan harta untuk mereka, setahun telah berlalu sedang dia mempunyai banyak hutang, dia berkata, ‘Aku sama sekali tidak berkewajiban membayar zakat.’ Jika memperoleh manfaat dari sebuah ilmu, maka dia akan berkata, ‘Fulan telah memberiku manfaat dengan ilmunya, dan aku telah memanfaatkannya arti sebuah hadits.’ Dia pernah berkata, Ibnu Al Jauzi telah memberiku manfaat, aku merasa malu, dia membuatkan majlis ilmu untukku di rumahnya setiap hari Jum’at, dengan mempersilakan yang lainnya untuk hadir mengikutinya. Sebagian orang fakir berulang kali membacakan ilmu di hadapannya, dan hal itu membuatnya takjub. 
Setiap hari setelah Ashar, dia dibacakan sebuah hadits, kemudian muncul seorang ulama fikih madzhab maliki, ia menyebutkan satu permasalahan, pendapatnya berbeda sendiri dengan seluruh yang hadir, sang menteri berkata, ‘Apakah engkau itu keledai! Tidakkah engkau lihat seluruh yang hadir berbeda pendapat denganmu?!’ Keesokan harinya, dia berkata kepada para jama’ah, Kemarin telah terjadi sesuatu padaku di mana orang kemarin berhak dan pantas mendapatkan uang, maka katakanlah kepadaku seperti yang aku katakan kepadanya, aku bukanlah siapa-siapa melainkan sama seperti kalian, tiba-tiba majlis bergemuruh dengan suara tangisan, dan ulama fikih kemarin meminta maaf. Dia berkata, Seharusnya aku yang meminta maaf, dia melanjutkan, ‘Lakukanlah qishash kepadaku, lakukanlah qishash kepadaku!’ dia terus berkata demikian sampai Yusuf Ad-Dimasyqi berkata, ‘Jika tidak ingin menjalankan qishash maka mintalah tebusan.’ Sang menteri berkata, ‘Baginya hukum demikian. Ulama fikih berkata, ‘Karuniamu kepadaku sudah banyak, maka hukum karunia apa yang masih tersisa untukku?’ Dia menjawab, ‘Ini harus engkau terima.’ Kemudian ia berkata, ‘Aku mempunyai hutang sejumlah seratus dinar,’ maka dia memberinya dua ratus dinar sambil berkata, ‘Seratus dinar untuk melunaskan tanggungannya, dan seratus dinar lagi untuk melunasi tanggunganku.’
Ibnu Al Jauzi berkata, ‘Ibnu Hubairah adalah menteri yang sangat menyesali perbuatan masa lalunya, juga menyesal dengan apa yang terjadi sekarang, dia pernah berkata kepadaku, ‘Dahulu kami memiliki sebuah masjid di kampung, di dalamnya terdapat pohon kurma yang menghasilkan seribu kati kurma. Kemudian aku katakan kepada Majduddin, Aku dan engkau sebaiknya tinggal di masjid tersebut, karena buah kurma itu sudah dapat mencukupi kita. Sekarang coba lihatlah apa yang telah terjadi pada diriku! 
Pada malam ketiga belas Jumada Al Ula, tahun 560 H, dia bangun pada waktu sahur, tiba-tiba dia muntah, maka datanglah dokter pribadinya Ibnu Rusyadah, ia meminumkannya sesuatu. Orang-orang berkata, “Ia telah meracuninya,” kemudian dia meninggal dunia. Setelah berlalu setengah tahun, dokter itu diberi minuman beracun, ia berkata, “Aku telah memberi minuman beracun, dan sekarang aku diberi minuman beracun, ia pun akhirnya mati.”
Aku melihat bekas-bekas di tubuh dan wajahnya yang menandakan bahwa dia memang meninggal karena diracuni. Jenazahnya dibawa ke masjid istana, dan orang-orang yang keluar mengiringi jenazahnya jumlahnya amat banyak, aku  belum pernah melihatnya. Tangisan orang banyak terjadi dimana-mana atas meninggalnya Ibnu Hubairah, karena kebaikan dan keadilan yang pernah dia lakukan. Para penyair juga meratapi dia dengan nyanyian sedih.”
Aku katakan, “Dia mengarang kitab Al Ifshah an ma’ani Ash-Shahah di dalamnya dia men-syarah kitab Shahihain Al Bukhari dan Muslim dalam sepuluh jilid. Dia juga menulis kitab Al Ibadat dengan madzhab imam Ahmad. Dia memiliki kumpulan bait-bait sya’ir, baik yang singkat maupun yang panjang, juga kitab tentang ilmu Khat/kaligrafi. Dia meringkas kitab Ishlah Al Manthiq karya Ibnu As-Sikkit.

Artikel Terkait Ibnu Hubairah