Syaikh Abdul Qadir


Dia adalah Syaikh dan Imam yang alim, Zahid, Arif, dijadikan panutan, Syaikh  Islam, sumber ilmu para wali, pemelihara syariat, dia bernama Abu Muhammad, Abdul Qadir bin Abu Shalih Abdullah bin Junki Dausat Al Jaili Al Hanbali, Syaikh  Baghdad.
Lahir di Jailan130 pada tahun 471 H.
As-Sam’ani berkata, “Abdul Qadir -berasal dari Jailan- adalah seorang Imam dan Syaikh  madzhab Hanbali pada masanya, seorang fakih yang shalih, wara’, dermawan, banyak berzikir, senantiasa berpikir, mudah menangis. Beliau tinggal di Bab Al Azaj di suatu madrasah yang didirikan untuknya. Banyak orang berkunjung kepadanya, dia biasa keluar dan duduk bersama para sahabatnya, mereka berusaha mengkhatamkan Al Qur’an, kemudian dia menyampaikan yang sama sekali tidak ku pahami, dan yang lebih mengherankan adalah bahwa para sahabat tersebut mampu mengulang pelajaran yang telah disampaikan hingga seakan-akan mereka memahami benar apa yang disampaikan oleh karena perkataan dan penjelasannya seperti menyatu dengan mereka.”
Dari Muhammad bin Mahmud Al Maratibi, Aku mendengar Syaikh  Abu Bakar Al Imadi rahimahullah berkata, “Ketika aku membaca tentang ilmu kalam (ushuluddin) aku mendapati diriku dalam keraguan, dan aku berkata, ‘Sebaiknya aku mendatangi majelis Syaikh Abdul Qadir, dimana telah dimaklumi bahwa beliau bisa menjelaskan atas isyarat-isyarat, maka aku lantas menyimak perkataannya, beliau berkata, ‘Keyakinan kita adalah keyakinan para salaf shalih dan para sahabat.’ Aku lantas bertanya pada diriku: Apakah yang dia katakan telah disepakati? tiba-tiba saja beliau berkata dan berpaling ke arahku  dan mengulanginya, akupun berkata, ‘Sang pemberi nasihat berpaling kepadaku, beliau lalu berpaling kepadaku untuk ketiga kalinya dan berkata, ‘Hai Abu Bakar, beliau mengulang perkataannya dan berkata, ‘Bangkitlah, bapakmu telah datang. Padahal bapakku tidak hadir di tempat, akupun segera bangkit berdiri dan seketika bapakku datang’.”
Jamaluddin Yahya bin Ash-Shairfi berkata, “Aku mendengar Abu Al Baqa’ An-Nahawi berkata, Suatu kali aku menghadiri majelis Syaikh  Abdul Qadir, orang-orang yang hadir di sana melagukan bacaan di hadapannya, maka aku berkata pada diriku: Mengapa Syaikh  tidak melarang bacaan seperti ini? Tiba-tiba saja beliau berkata, Seseorang telah datang dan membaca beberapa bab dari kitab fikih tetapi dia mengingkarinya, akupun berkata pada diriku: Semoga yang dia maksud bukanlah diriku, dia lantas berkata, ‘Engkaulah yang aku maksud dengan perkataan itu.’ Akupun bertobat dalam hati atas penolakanku itu, tiba-tiba beliau berkata, ‘Allah telah menerima tobatmu’.”
Aku mendengar Imam Abu Al Abbas Ahmad bin Abdul Halim, Aku mendengar Syaikh  Izzuddin Al Farutsi, Aku mendengar Syaikh  kami Syihabuddin As-Sahrawardi berkata, “Suatu kali aku berniat untuk belajar tentang ilmu kalam (ushuluddin), maka aku berkata pada diriku: Aku akan meminta petunjuk Syaikh Abdul Qadir, maka aku mendatanginya, dan secara tiba-tiba sebelum aku berkata, beliau mengatakan, ‘Wahai Umar apa yang dimaksud dengan persiapan kubur, wahai Umar apa yang dimaksud dengan persiapan kubur’?”
Ibnu An-Najjar berkata, “Aku membaca tulisan Abu Bakar Abdullah bin Nashr bin Hamzah At-Taimi, aku mendengar Syaikh  Abdul Qadir berkata, ‘Suatu ketika pada masa sulit aku sedang menghadapi kesusahan sampai beberapa hari aku tidak memakan makanan, aku terlantar, maka aku suatu hari pergi ke daerah pinggiran dan aku mendapati orang-orang fakir telah lebih dulu mengalaminya, badanku lemah tidak kuasa untuk berdiri, maka aku memasuki suatu masjid dan duduk, hampir-hampir ajal menjemputku maka datanglah seorang pemuda yang tidak kukenal membawa roti dan daging panggang. Dia lalu duduk dan mulai makan, ketika dia mulai mengangkat sepotong rotinya hampir-hampir saja aku membuka mulutku, dia lalu menoleh dan melihat kepadaku, dia berkata, Dengan nama Allah (bismillah), akupun mengabaikannya, dia lalu membagi untukku maka aku memakan sepotong. Dia lantas bertanya, ‘Apa pekerjaanm? dan dari mana kamu datang?’ Aku menjawab, ‘Ahli fikih dari Jailan,’ dia berkata, ‘Akupun dari Jailan, apakah kamu bisa mengenalkan kepadaku seorang pemuda dari Jailan bernama Abdul Qadir, dikenal dengan panggilan Abu Abdillah Ash-Shumi’i Az-Zahid?’ Aku menjawab, ‘Akulah orangnya.’ Mendengar jawabanku dia terlihat bergemetar dan seketika berubah raut mukanya, dia berkata, ‘Demi Allah wahai saudaraku, aku tiba di Baghdad dengan sisa perbekalanku, aku lantas bertanya tentang dirimu tapi tidak seorangpun menunjukkan kepadaku hingga habislah perbekalanku, aku menetap di sana selama tiga hari dan aku tidak punya perbekalan lain selain dari hartamu, maka di hari yang keempat aku katakan, aku telah melampaui tiga hari dan dihalalkan bagiku memakan bangkai, maka akupun mengambil dari harta titipan milikmu untuk kubelanjakan roti dan daging panggang, semua ini baik, sesungguhnya makanan ini milikmu dan aku sebagai tamumu sekarang.’ Aku berkata, ‘Apa yang kau bawa itu?’ Dia menjawab, ‘Ibumu telah menitipkan kepadaku delapan dirham, demi Allah aku tidak mengkhianatimu sampai hari ini. Aku lantas menengkan dan menghiburnya dan aku memberinya sebagian dari titipan itu’.”
Ibnu An-Najjar berkata, “Abdullah bin Abu Al Hasan Al Jubba`i menulis untukku, dia berkata, ‘Syaikh  Abdul Qadir berkata kepadaku, ‘Ketika aku berada di suatu gurun untuk mempelajari ilmu fikih, di saat keadaanku sedang dalam kesulitan, seseorang yang tidak aku kenal berkata kepadaku, ‘Pinjamlah sejumlah harta yang akan membantumu dalam mendalami fikih!’ Aku menjawab, ‘Bagaimana mungkin aku meminjam sedangkan aku fakir yang tidak memiliki penghasilan?’ Dia berkata, ‘Pinjamlah, kami akan menanggungnya.’ Aku lantas mendatangi penjual makanan dan aku katakan, ‘Layanilah aku dengan syarat apabila Allah memberi kemudahan kepadaku, aku akan memberikan kepadamu dan jika aku mati maka aku terbebas dari pembayaran, engkau akan memberiku roti dan sayur (lalap) setiap hari’ , mendengar perkataanku dia menangis dan berkata, ‘Aku sepakat dengan keputusanmu. Maka aku meminta beberapa waktu darinya, aku merasa terdesak, aku menyangka dirinya berkata, Dia katakan kepadaku: Pergilah ke tempat ini, apapun yang engkau dapati di atas batu (tempat duduk) maka ambillah dan bayarkan kepada penjual makanan.
Al Jubba‘i berkata, “Syaikh  Abdul Qadir berkata kepadaku, ‘Suatu kali aku mendapat perintah dan larangan pada waktu tidur dan terjaga, kata-kata perintah itu terus terngiang dalam diriku dan berkumpul di pikiranku jika aku tidak katakan, hampir-hampir kata-kata itu mencekikku sampai aku tidak tahan lagi untuk menyembunyikan. Suatu ketika aku duduk bersama dua-tiga orang, kemudian orang-orang mulai mendengar apa yang aku katakan sampai mereka berkerumun ramai menghadiri majelis sekitar 70 ribu orang. Dia berkata, ‘Telah aku teliti (renungkan) setiap perbuatan, dan aku tidak mendapati perbuatan yang lebih mulia dari memberi makan. Seandainya seluruh isi dunia ini ada di genggamanku niscaya aku akan beri makan orang-orang yang kelaparan. Telapak tanganku kosong tidak ada sesuatu apapun, seandainya ada seribu dinar di tanganku, tidak akan lama harta itu ada dalam genggamanku’.”
Abdul Qadir berkata kepadaku, “Aku mengharap diriku di suatu gurun dan daratan seperti semula, tidak ada seorangpun yang mengenalku.” Lalu dia berkata, “Allah menghendaki datangnya manfaat dariku untuk manusia. Sudah sekian banyak orang yang memeluk Islam melalui tanganku lebih dari lima ratus orang, dan bertobat melalui diriku lebih dari seratus ribu orang, ini adalah kebaikan yang banyak.”
Beban yang ada pada diriku begitu berat yang apabila diletakkan di atas bukit niscaya akan tercerai-berai, maka aku berbaring di atas tanah dan berkata, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, kemudian aku angkat kepalaku dan hilanglah beban itu dari penglihatanku.”
Abdul Qadir berkata, “Jika terlahir untukku seorang anak laki-laki aku akan mengambilnya di atas tanganku dan aku katakan: Ini hanyalah bangkai maka aku hilangkan dari hatiku (pikiranku), dan jika mati, bagiku kematiannya sama sekali tidak mempengaruhiku.”
Al Jubba‘i berkata, “Pada saat aku membaca kitab Al Hilyah karya Ibnu Nashir, hatiku bergetar dan aku katakan pada diriku, ‘Aku sebaiknya berhenti membacanya dan menyibukkan diri dengan ibadah. Maka aku shalat di belakang Syaikh Abdul Qadir. Ketika kami sedang duduk, dia menatapku seraya berkata, ‘Jika kamu hendak berhenti maka janganlah berhenti sampai kamu memahaminya, menimba ilmu dari para Syaikh dan berperilaku baik, jika tidak, maka kamu tidak akan memahaminya’.”
Diriwayatkan dari Abu Ats-Tsana’ An-Nahramalki, dia berkata, “Ada apa gerangan lalat mengerubutiku, padahal tidak terdapat padaku manisan dunia dan madu akhirat.”
Ahmad bin Zhafar bin Hubairah berkata, “Aku meminta ijin kepada kakekku untuk berkunjung ke syaikh  Abdul Qadir, dia lalu memberiku beberapa emas untuk kuserahkan kepadanya. Maka ketika Abdul Qadir turun dari mimbar aku sampaikan salam kepadanya, aku menahan diri untuk tidak menyerahkan emas kepadanya di depan kemurunan manusia, tiba-tiba beliau berkata, ‘Serahkan apa yang ada padamu, tidak ada kewajiban untukmu atas orang-orang, dan sampaikan salam kepada menteri’.”
Penulis kitab Mira‘at Az-Zaman berkata, “Waktu Diamnya Syaikh  Abdul Qadir lebih banyak dari perkataannya, dan dia berkata-kata atas isyarat-isyarat (firasat). Dia seorang yang memiliki reputasi besar dan sangat diterima, dia tidak keluar dari madrasahnya kecuali di hari jumat atau ke Ar-Ribath (menjaga perbatasan), sebagian besar penduduk Baghdad bertobat melalui tangannya, memeluk Islam, selalu mengatakan kebenaran di atas mimbar dan dia memiliki karamah yang tajam.
Aku katakan, “Tidak ada Syaikh  besar yang mempunyai reputasi dan karamah sebanyak Syaikh  Abdul Qadir tetapi sebagian besar darinya tidak benar dan sebagian yang lain terasa mustahil.”
Al Jubba‘i berkata, “Suatu kali Syaikh  Abdul Qadir berkata, ‘Badanmu adalah hijabmu dari dirimu, dan dirimu adalah hijabmu dari Tuhanmu’.”
Syaikh Abdul Qadir hidup selama 90 tahun, meninggal pada tahun 561. jenazahnya diiringi banyak manusia yang tidak terhitung, beliau dimakamkan di madrasahnya, semoga Allah SWT merahmatinya.
Secara umum, Syaikh  Abdul Qadir memiliki perawakan besar, dia juga memiliki beberapa kekurangan pada sebagian perkataan dan pengakuannya, hanya Allah yang mengetahui, dan sebagian yang lain termasuk perkataan yang dibuat-buat.

Artikel Terkait Syaikh Abdul Qadir