Skip to main content

Al Asy’ats bin Qais


Dia adalah Ibnu Ma’dikarib. 
Sebenarnya nama Al Asy’ats adalah Ma’dikarib, tetapi karena rambutnya yang selalu kusut maka dia dijuluki Al Asy’ats.
Ketika perang Yarmuk matanya terluka. 
Dia juga termasuk salah seorang pejabat Ali pada waktu perang Shiffin. 
Diriwayatkan dari Abu Wa‘iul, bahwa Al Asy’ats berkata, “Ketika firman Allah, إِنَّ الَّذِيْنَ يَشْتَرُوْنَ بِعَهْدِ اللهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيْلاً “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji(nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat,” (Qs. Aali ‘Imraan [3]: 77) turun, aku sempat berperkara dengan seorang pria, maka aku menemui Rasulullah SAW. Beliau lalu bertanya, “Apakah engkau mempunyai bukti?”  Aku menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Apakah dia harus bersumpah?” Aku menjawab, “Ya, dia harus bersumpah.” Setelah itu Rasulullah SAW bersabda, 
“Barangsiapa bersumpah dengan sumpah palsu untuk mengambil harta (orang lain) , maka dia akan bertemu Allah sedang Allah murka kepadanya.”
Ibnu Al Kalbi berkata, “Al Asy’ats pernah diutus sebagai delegasi untuk menemui Nabi SAW dalam rombongan 70 orang dari Kindah.” 
Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’i, dia berkata, “Al Asy’ats murtad bersama orang-orang Kindah, lalu dia dikepung dan keamanannya terancam. Mereka lalu diberi jaminan keamanan bersyarat. Ketujuh puluh orang  tersebut menerima jaminan keamanan tersebut, akan tetapi dia sendiri tidak mengambilnya. Kemudian dia didatangi oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, beliau berkata, “Sungguh, kami akan menyerangmu dan tidak ada keamanan lagi bagimu.” Mendengar itu, Al Asy’ats berkata, “Berikan keamanan kepadaku maka aku akan memeluk Islam.” Setelah itu dia melakukannya, lalu Abu Bakar menikahkan dirinya dengan saudara perempuannya.
Diriwayatkan dari Qais, dia berkata, “Ketika Al Asy’ats menjadi tawanan Abu Bakar, beliau memutuskan untuk membebaskannya dan menikahkannya dengan saudara perempuannya. Kemudian Al Asy’ats mengeluarkan pedangnya dan masuk ke dalam pasar unta. Setiap kali melihat unta jantan atau betina di pasar itu, dia memotongnya, maka orang-orang berteriak, “Al Asy’ats telah kafir!” Al Asy’ats lalu membuang pedangnya dan berkata, “Demi Allah, aku tidak kafir, akan tetapi lelaki ini telah menikahkanku dengan saudara perempuanya. Seandainya ini terjadi di negeri kami, tentu pestanya tidak hanya seperti ini. Wahai penduduk Madinah, sembelihlah binatang dan makanlah! Wahai pemilik unta, lestarikan tradisi ini.”
Diriwayatkan dari Hayyan Abu Sa’id At-Taimi, dia berkata, “Al Asy’ats sangat berhati-hati terhadap fitnah.” 
Ketika dia ditanya, “Kamu keluar bersama Ali?” Dia menjawab, “Adakah pemimpinmu yang seperti Ali!”
Al Asy’at wafat pada tahun 40 Hijriyah.
Menurut aku, anaknya yang bernama Muhammad bin Al Asy’ats termasuk pemimpin besar dan tokoh terpandang, yang kemudian menjadi ayah dari Gubernur Abdurrahman bin Muhammad bin Al Asy’ats, yang pergi berperang bersama orang-orang yang naik haji dalam suatu perang terkenal yang tidak pernah ada sebelumnya. Namun akhirnya Ibnu Al Asy’ats lemah, lalu kalah dan terbunuh.

Comments

Popular posts from this blog

Abu Hurairah

Dia adalah Abu Hurairah Ad-Dausi Al Yamani. Ada banyak pendapat mengenai nama aslinya, dan yang paling kuat adalah Abdurrahman bin Shakhar.  Gelarnya yang paling dikenal adalah Abu Hurairah (anak kucing). Abu Hurairah pernah berkata, “Aku dijuluki dengan sebutan Abu Hurairah karena ketika aku menemukan seekor anak kucing, aku memasukkannya ke dalam sakuku.” Dia seorang imam yang faqih, mujtahid, Al Hafizh, sahabat Rasulullah SAW, dan sayyidul huffazh yang telah mendapat pengakuan.

Wa`il bin Hujur bin Sa’ad

Dia adalah Abu Hunaidah Al Hadrami, seorang bangsawan dan pembesar kaumnya. Dia pernah menjadi utusan. Dia juga meriwayatkan hadits. Ketika Mu’awiyah datang ke Kufah, dia menemui Mu’awiyah lalu membai’atnya. Diriwayatkan oleh Alqamah bin Wa‘il dari ayahnya, bahwa Wa‘il pernah mengirim seorang delegasi kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau memberinya sebidang tanah. Beliau menyuruh Mu’awiyah bin Abu Sufyan agar ikut bersamanya untuk menunjukkan tanah tersebut.

Imam Adz-Dzahabi

cara-global.blogspot.com:  Nama dan Nasabnya             Syamsudin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah Adz-Dzahabi. Dia berasal dari keluarga Turkuman [1] , yang silsilahnya (bila diruntun) sampai kepada bani Tamim.             Ayahnya berprofesi sebagai pengerajin emas yang mahir dan ahli, hingga terkenal dengan sebutan Adz-Dzahabi (tukang emas). Dia juga menuntut ilmu dan mendengar Shahih Al Bukhari, taat beragama, dan rajin menunaikan shalat malam.