Penguasa Irbil


Penguasa Irbil


cara-global.blogspot.com: Ia adalah seorang raja yang wara’, penguasa yang Agung, namanya adalah Muzhaffaruddin Abu Said Kukubri bin Ali bin Bukatkin bin Muhammad At-Turkmani Shahib Irbil dan anak dari penguasa Irbil, dan anak dari penguasanya yaitu raja Zainuddin Ali Kaujik, Kaujik adalah seorang yang lembut perangainya, ia adalah seorang yang pemberani, cerdas dan disegani, ia banyak menaklukkan negeri kemudian ia hibahkan untuk anak-anak penguasa Maushil, ia terkenal dengan kekuatannya yang sangat dahsyat, memiliki umur yang panjang, ketika ia wafat, anaknya menggantikannya dalam memerintah Irbil,
sedangkan umur anaknya masih sangat belia, Mujahiduddin Qaimaz diminta untuk menjadi Amirnya, tidak lama setelah menjadi Amir, ia berkeberatan dan menulis surat pernyataan bahwa ia tidak layak untuk memegang jabatan Amir tersebut, maka saudaranya, Zainuddin Yusuf menggantikannya sebagai Amir.
Muzhaffaruddin berangkat ke Baghdad tetapi ia tidak dihormati di sana, lalu ia beralih ke Maushil untuk bertemu dengan sahabatnya Saifuddin Ghazi bin Maudud, ia melewati kota Harran dan singgah di sana beberapa saat, kemudian menghubungi raja Shalahuddin melalui pelayannya, Muzhaffaruddin berperang bersama Shalahuddin, Shalahuddin menyukai kepribadiannya, maka Muzhaffaruddin pun dijadikan penguasa di Ruhha, dan dinikahkan dengan saudara perempuan Shalahuddin yang bernama Rabi’ah, keberanian Muzhaffaruddin semakin nampak pada peperangan Hiththin, raja Shalahuddin mengutus pertolongan untuk saudara Muzhaffaruddin, kemudian ia jatuh sakit dan meninggal dunia di Akka, raja Shalahuddin memberikan kepada Muzhaffaruddin kota Irbil dan Syahrzur, tetapi ia mengembalikan kota Harran dan Ruhha kepada Shalahuddin.
Muzhaffaruddin sangat gemar bersedekah, setiap hari ia membagi-bagikan berkuintal-kuintal roti, memberi pakaian kepada yang membutuhkannya dan juga membekali mereka dengan uang sebesar satu-dua dinar, ia membangun pula empat jembatan antara Az-Zamna dan Adhirra, ia pun sering mendatangi orang-orang yang berusia lanjut, untuk ditanyakan keadaan mereka, bercanda dengan mereka, dan menggembirakan mereka, Muzhaffaruddin membangun rumah untuk para wanita, anak-anak yatim, para pemulung, dan ibu-ibu menyusui. 
Muzhaffaruddin menjenguk setiap orang yang sakit di Al Bimaristan, ia mempunyai rumah khusus tamu, yang sering disinggahi para pendatang, tidak hanya itu, ia pun membekali setiap pendatang tersebut dengan bekal secukupnya. Muzhaffaruddin juga membangun sekolah untuk kalangan Syafi’iyyah dan Hanafiyyah dan juga memberikan beasiswa bagi orang-orang yang tidak mampu, maka para murid yang ingin belajar pun berdatangan dengan berduyun-duyun, ia tidak menemukan selain pada memberikan kepada orang lain, ia mencegah kemungkaran masuk ke dalam negeri yang dipimpinnya. Muzhaffaruddin membangun hubungan dengan para penganut sufi, ia rela keluar dari negerinya untuk belajar kepada para ulama sufi. Dalam setahun Muzhaffaruddin memberangkatkan haji para tetangganya dan membekali mereka dengan uang sebanyak 5000 Dinar, ia pun menjalankan air ke Arafah.
Dalam memperingati maulid, maka dapat kami gambarkan secara ringkas, orang-orang mendatangi maulid yang ia adakan dari segala penjuru, dari Irak dan negeri lainnya, dipasangkan kubah-kubah yang terbuat dari kayu yang diberikan hiasan untuknya dan para pejabat lainnya, di sana terdapat pula orang-orang yang memainkan lagu, setiap hari setelah shalat Ashar ia mendatangi dan melihat-lihat kubahnya tersebut, dan hal tersebut ia lakukan berhari-hari, dalam peringatan tersebut ia juga memotong sapi, unta, kambing dalam jumlah yang sangat besar, ia pun memberikan beberapa jubah kepada pengikut sufi, dan berceramah di tengah tanah yang lapang, ia menginfakkan harta yang sangat banyak. Ibnu Dahiyah menyusun kitab Maulid, maka Muzhaffaruddin memberikannya uang sebesar 1000 Dinar.
Muzhaffaruddin adalah seorang yang sangat tawadhu’, sering melakukan kebajikan ia mencintai ulama fikih dan ahli hadits, ia pun pernah memberikan uang kepada para penyair yang tidak mencantumkan kekalahannya dalam berperang, Ibnu Khallikan telah menyebutkan biografi Muzhaffaruddin dan lainnya dalam kitabnya.
Muzhaffaruddin wafat pada tahun 630 H di usianya yang ke-82, ia dimasukkan ke dalam peti dan dibawa oleh para jamaah haji ke Makkah, para jamaah kembali ke negerinya pada tahun yang sama dikarenakan tidak menemukan air di sana, Muzhaffaruddin  rahimahullah dimakamkan di Kufah. 
Ayah Muzhaffaruddin merupakan seorang yang diberikan panjang umur oleh Allah SWT, ia hidup lebih dari 100 tahun, ia mengalami kebutaan dan ketulian, ia juga merupakan pembesar Daulah Atabikiyah, dalam sejarah peperangannya, ia tidak pernah mengalami kekalahan sekalipun, Al Haish Baish memujinya dalam salah satu syairnya, “Aku tidak mengetahui apa yang engkau ucapkan, tetapi aku tahu bahwa engkau menginginkan sesuatu.” Kemudian Muzhaffaruddin memberikannya hadiah berupa jubah, kuda dan uang sebesar 500 Dinar.  

sumber: an-nubala

Artikel Terkait Penguasa Irbil