Utsman bin Affan RA

cara-global.blogspot.com: Dia adalah putra Abu Al Ash bin Umayyah bin Abdul Syams, Amirul Mukminin, Abu Amr, Abu Abdullah, Al Qurasyi Al Umawi.
Dia meriwayatkan hadits dari Nabi SAW dan dari Al Bukhari serta Muslim.
Ad-Dani berkata, “Dia belajar Al Qur`an, dari Nabi SAW. Sedangkan yang belajar Al Qur`an darinya adalah Abu Abdurrahman As-Sulami, Al Mughirah bin Abu Syihab, Abu Aswad, dan Zirr bin Hubaisy.”
Adapun orang-orang yang meriwayatkan hadits darinya adalah putra-putra Ali yang bernama Aban, Sa’id, Amr, dan yang lain.
Dia termasuk orang yang pertama kali masuk Islam, yang dijuluki dzun-nurain (yang memiliki dua cahaya), pernah melakukan dua kali hijrah, suami dari dua anak perempuan bersaudara, dan datang ke Jabiyah bersama Umar. 
Dia menikah dengan Ruqayyah binti Rasulullah SAW sebelum beliau diangkat sebagai Nabi, lalu dikaruniai anak bernama Abdullah, dan dengannya dia dijuluki, begitu juga dengan anaknya yang bernama Amr.”
Ibunya adalah Urwa binti Kuraiz bin Hubaib bin Abdul Syams. Neneknya bernama Al Baidha‘ binti Abdul Muththalib bin Hasyim. Dia hijrah bersama Ruqayyah ke Habasyah dan Nabi SAW meninggalkannya pada waktu perang Badar agar dia merawat istrinya yang sedang sakit. Tetapi Ruqayyah meninggal beberapa hari setelah perang Badar dan Nabi SAW mengumpamakan perjuangannya merawat istrinya itu termasuk bagian dari perang Badar dan ia mendapatkan pahalanya. Setelah itu Nabi SAW menikahkannya dengan putrid beliau yang lain, yaitu Ummu Kultsum.
Putranya, Abdullah, meninggal pada saat berusia enam tahun, tahun 4 Hijriyah.
Menurut berita yang sampai kepada kami, Utsman berperawakan tidak tinggi, tidak pendek, tampan, berjenggot tebal, berkulit sawo matang, bertulang besar, berbahu lebar, berwajah pucat, dan giginya ditambal dengan emas.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Hazm, ia berkata, “Aku pernah melihat Utsman, dan aku tidak pernah melihat seorang laki-laki atau perempuan yang lebih tampan darinya.”
Diriwayatkan dari Abu Tsaur Al Fahmi, ia berkata, “Aku pernah menghadap Utsman, beliau berkata, ‘Aku telah menyembunyikan diri dari Tuhanku sebanyak sepuluh kali: aku adalah orang keempat dari empat orang dalam Islam, aku tidak pernah berbohong, aku tidak pernah memegang kemaluanku dengan tangan kanan sejak aku membai’at Rasulullah SAW, aku tidak pernah meninggalkan shalat Jum’at, sejak masuk Islam aku telah memerdekakan seorang hamba, kecuali satu yang melayaniku, setelah itu aku memerdekakannya, aku tidak pernah berzina pada masa jahiliyah dan Islam, aku memberikan ransum kepada tentara yang kesulitan, Nabi SAW menikahkanku dengan putri beliau lalu putrinya meninggal, kemudian Nabi SAW menikahkanku dengan putrinya yang lain, dan aku tidak pernah mencuri pada masa jahiliyah dan Islam.”
Diriwayatkan dari Al Hasan, ia berkata, “Utsman diberi gelar Dzun-Nurain karena kita tidak mengenal orang yang menutup pintu untuk menikah dengan wanita lain setelah menikah dengan kedua putri Rasulullah SAW.”
Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah, ia berkata, “Utsman datang kepada Nabi SAW dengan membawa seribu dinar di pakaiannya ketika beliau mempersiapkan sepuluh tentara pilihan. Utsman kemudian menaruhnya di pangkuan Nabi, lalu membaliknya dengan tangannya seraya berkata, ‘Tidak ada sesuatu yang dapat membahayakan Utsman dari apa yang dilakukannya setelah hari ini’.” 
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad di dalam Musnad-nya dan Abu Ya’la di dalam Musnad-nya dari hadits Abdurrahman bin Auf, bahwa dia pernah memberikan bekal kepada tentara yang tidak mempunyai ransum sebanyak 900 awaq emas.”
Diriwayatkan dari Ali, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, 
‘Allah memberikan rahmat kepada Utsman sehingga malaikat malu kepadanya’.”
Diriwayatkan dari Bisyr bin Basyir Al Aslami, dari ayahnya, ia berkata, “Ketika orang-orang Muhajirin datang ke Madinah, mereka kehabisan air. Lalu ada seorang pria dari bani Ghifar memiliki sumber air yang disebut Raumah. Dia menjual satu wadah air dengan harga satu mud, maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Apakah kamu akan menggadaikannya dengan mata air di surga?’ Dia berkata, ‘Aku tidak mempunyai sumber lain ya Rasulullah, maka aku tidak bisa melakukan hal itu’. Ketika hal itu sampai kepada Utsman, ia pun membelinya dengan harga 35 ribu dirham. Dia lalu mendatangi Nabi SAW seraya berkata, ‘Apakah engkau akan memberikan mata air di surga untukku jika aku membelinya?’ Nabi SAW bersabda, ‘Ya’. Utsman berkata, ‘Aku telah membelinya dan memberikannya kepada kaum muslim’.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, “Utsman pernah membeli surga dari Rasulullah SAW sebanyak dua kali, yaitu pada saat orang-orang Islam kehausan di Raumah dan pada saat dia memberikan bekal kepada tentara yang tidak mempunyai ransum.”
Aisyah berkata, “Rasulullah SAW pernah tidur di rumahnya dalam keadaan kedua lengan terbuka. Abu Bakar lalu meminta izin untuk menghadap, kemudian disusul oleh Umar, dan Rasulullah SAW ketika itu tidak membenahi keadaannya, lalu mereka berbincang-bincang. Setelah itu Utsman datang untuk menemui Rasulullah, namun tiba-tiba saja beliau duduk dan membenahi keadaan pakaiannya, lalu mengizinkan Utsman masuk dan berbicara. Ketika keluar, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, ketika Abu Bakar menghadap engkau tidak duduk untuk menyambutnya. Ketika Umar masuk engkau juga tidak merubah posisi. Namun ketika Utsman masuk engkau duduk dan membetulkan pakaianmu?!’ Beliau bersabda, ‘Apakah tidak boleh aku malu kepada orang yang malaikat malu kepadanya’.”
Anas berkata, “Rasulullah SAW bersabda, 
‘Umatku yang paling sayang kepada umatku adalah Abu Bakar, yang paling teguh memegang agama Allah adalah Umar, dan yang paling pemalu adalah Utsman’.”
Dijelaskan dalam hadits shahih dari berbagai jalur periwayatan, bahwa Utsman pernah membaca seluruh Al Qur`an dalam satu rakaat.
Anas berkata, “Hudzaifah pernah menghadap Utsman. Dia dan penduduk Irak ketika itu sedang menyerang Armenia. Dalam peperangan itu, penduduk Syam dan Irak bergabung. Mereka kemudian berselisih tentang masalah Al Qur`an hingga Hudzaifah mendengar perselisihan mereka yang tidak disukai. Dia lalu naik tunggangannya menemui Utsman, lantas berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, sebelum umat ini berselisih tentang Al Qur`an, mereka telah mengetahui adanya perselisihan antara orang-orang Yahudi dengan Nashrani perihal kitab-kitab mereka’. Mendengar itu, Utsman kaget, sehingga dia mengirim seseorang menemui Hafshah Ummul Mukminin agar mengirimkan Shahifah yang dikumpulkan di rumah Hafshah kepadanya. Hafshah lalu mengirimkan shahifah itu kepadanya. Setelah itu Utsman menugaskan Zaid bin Tsabit, Sa’id bin Al Ash, Abdullah bin Az-Zubair, dan Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam untuk menulis Shahifah tersebut ke dalam Mushaf seraya berkata, ‘Jika kalian berselisih dengan Zaid dalam masalah bahasa Arab, maka tulislah dengan gaya bahasa orang Quraisy, karena Al Qur`an diturunkan dengan gaya bahasa mereka’. Mereka pun menulis Shahifah itu.
Utsman lalu mengembalikan Shahifah tersebut kepada Hafshah dan mengirimkannya kepada setiap pemimpin pasukan Islam satu Mushaf, serta menyuruh mereka agar membakar semua Mushaf yang bertentangan dengan Mushaf yang dikirim kepada mereka. Pada saat itulah terjadi pembakaran Mushaf dengan api.”
Yahya bin Sa’id Al Anshari berkata, “Abu Humaid As-Sa’idi —sahabat yang pernah ikut perang Badar— ketika Utsman terbunuh pernah berkata, ‘Ya Allah, aku bersumpah kepada-Mu untuk tidak tertawa hingga aku bertemu dengan-Mu’.”
Qatadah berkata, “Utsman menjadi Khalifah selama 12 tahun kurang 12 hari.”
Abu Ma’syar As-Sanadi berkata, “Utsman terbunuh pada tanggal 10 atau 11 Dzulhijjah, pada hari Jum’at.” 
Ulama lain berpendapat, “Dia terbunuh setelah Ashar dan dimakamkan di Baqi’ antara dua waktu Isya, dalam usia 82 tahun.” Hadits ini shahih.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Farukh, ia berkata, “Aku turut menyaksikan jenazah Utsman. Beliau dimakamkan dengan pakaian yang berlumuran darah dan tidak dimandikan.” 
Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam Ziyadat Al Musnad. 
Ada yang mengatakan bahwa Marwan menshalatinya dan tidak dimandikan.
Diriwayatkan bahwa Na‘ilah binti Al Farafishah adalah wanita yang sangat cantik. Setelah Utsman meninggal dunia, dia merusak gigi depannya dengan batu seraya berkata, “Demi Allah, kamu tidak boleh menikah lagi setelah menikah dengan Utsman.” Setelah itu ketika dia datang menemui Mu’awiyah di Syam, Mu’awiyah melamarnya, namun dia menolaknya.
Peristiwa Tahun 24 Hijriyah
Kekhalifahan Utsman RA
Humaid bin Abdurrahman bin Auf berkata, “Al Miswar menceritakan kepadaku bahwa orang-orang yang dijadikan wali oleh Utsman berkumpul, lalu mereka bermusyawarah. Abdurrahman berkata, ‘Aku bukanlah saingan kalian dalam masalah ini, tetapi jika kalian mau maka aku akan memilih salah seorang di antara kalian’. Mereka kemudian menyerahkannya kepada Abdurrahman, dia berkata, ‘Tidak ada seorang berakal pun yang bisa menyamai keadilan Utsman’. Dia lantas menyebut sebuah hadits, hingga akhirnya berkata, ‘Kamu saksikan sendiri’. Dia lalu melanjutkan perkataannya, ‘Amma ba’du. Wahai Ali, aku melihat pada orang-orang sementara aku tidak melihat seorang pun di antara mereka yang dapat menyamai Utsman, maka lapangkan jiwamu untuknya’. Dia (Abdurrahman) lalu memegang tangan Utsman seraya berkata, ‘Kami membai’atmu berdasarkan Sunnatullah, Sunnah Rasulullah SAW dan Sunnah kedua khalifah terdahulu’. Abdurrahman bin Auf pun membai’atnya dan diikuti oleh orang-orang Muhajirin dan Anshar.”
Peristiwa Tahun 30 Hijriyah
Sulaiman bin Bilal berkata: Diriwayatkan dari Yahya bin Sa’id, dari Sa’id bin Al Musayyib, bahwa Zaid bin Kharijah meninggal pada masa Utsman, lalu Utsman menyelimuti jasadnya dengan pakaiannya. Setelah itu para sahabat mendengar gejolak dalam hatinya, kemudian Utsman berbicara seraya berkata, “Dia telah memuji Ahmad di dalam Kitab yang pertama. Dia telah membenarkan Abu Bakar yang lemah dalam jiwanya, namun kuat dalam memegang perintah Allah yang terdapat di dalam Kitab yang pertama. Dia juga telah membenarkan Umar yang kuat dan dapat dipercaya dalam memegang Kitab yang pertama. Dia telah membenarkan Utsman ketika berada di jalan mereka. Empat puluh tahun telah berlalu dan tersisa dua tahun. Fitnah akan datang, orang kuat akan memakan orang lemah, Hari Kiamat pasti datang, dan akan datang kepada kalian berita tentang sumur Aris dan apa itu sumur Aris.”
Ibnu Al Musayyib berkata, “Kemudian ketika seorang pria dari Khatmah meninggal, dia pun mengafaninya. Setelah itu para sahabat mendengar gejolak dalam hatinya, kemudian dia berbicara seraya berkata, ‘Sesungguhnya saudara bani Al Harits bin Al Khazraj itu telah membenarkan kebenaran’.”
Ibnu Abdul Barr berkata, “Inilah orang yang berbicara setelah mati. Orang-orang tidak memperselisihkannya. Hal itu terjadi karena dia pingsan kemudian rohnya terperangkap, kemudian ketika jiwanya kembali, dia melontarkan ucapan tentang Abu Bakar, Umar, dan Utsman, kemudian dia meninggal pada waktunya.”
------------

ref. ringkasan siyar alam an-nubala
terb. pustaka azzam