Skip to main content

Ath-Thurthusyi


Dia adalah seorang imam, ulama yang dijadikan panutan, seorang yang zuhud, syaikh madzhab Maliki, Abu Bakar Muhammad bin Al Walid bin Khalaf Al Fihri Al Andalusi. Dia adalah seorang ulama fikih di Alexandria. Thurthusyah adalah akhir perbatasan daerah umat Islam dari Utara Andalusia. Kemudian bangsa Eropa menguasainya dalam waktu yang lama.57
Tinggal di Baitul Maqdis selama beberapa tahun kemudian pindah ke daerah pesisir.
Ibnu Basykuwal berkata, “Ath-Thurthusyi adalah imam yang alim, zuhud, wara’, taat beragama, rendah diri, tidak tamak terhadap dunia dan menerima apa adanya. Al Qadhi Abu Bakar Al Arabi mengabarkan kepada kami tentangnya, bahwa dia orang yang berilmu, bersifat mulia, zuhud dan menerima apa yang menjadi bagiannya. Dia berkata kepadaku, ‘Jika ditampilkan di hadapanmu permasalahan dunia dan permasalahan akhirat, maka bersegeralah memilih akhirat sehingga kamu akan meraih dunia dan akhirat’.” 
Ibrahim bin Al Mahdi berkata, “Syaikh kita Abu Bakar, zuhud dan ibadahnya lebih banyak daripada ilmunya. Beberapa ulama menceritakan bahwa Abu Bakar Ath-Thurthusyi mencetak sekitar dua ratus ahli fikih dan mufti. Pada suatu hari dia mendatangi para fakih ketika mereka sedang tidur. Kemudian menaruh uang dinar di mulut mereka. Mereka terbangun dan melihat apa yang ada di mulut mereka.
Al Qadhi Syamsuddin Ibnu Khallikan berkata, “Ath-Thurthusyi menghadap Al Afdhal putra panglima tentara di Mesir. Al Afdhal menggelar sarungnya untuk Ath-Thurthusyi. Di samping Al Afdhal ada seorang nasrani. Kemudian dia menasihati Al Afdhal hingga membuatnya menangis.58 Lalu dia membacakan bait untuknya:
Wahai orang yang ketaatannya dekat
Haknya pasti dan menjadi keharusan
SesungguHnya orang yang karenanya kamu dimuliakan
Mengira bahwa ini semua adalah bohong
Ath-Thurthusyi menunjuk orang nasrani tersebut dan Al Afdhal memindahkannhya dari tempat duduknya.
Abu Bakar menulis kitab Siraj Al Muluk59 untuk Al Makmun Al Batha‘ihi yang ditunjuk untuk menjadi menteri wazir di Mesir setelah Al Afdhal. Dia mempunyai buku tentang metode menyelesaikan perbedaan pendapat. Al Makmun senantiasa memuji Ath-Thurthusyi dan sangat menghormatinya.
Sebuah pendapat mengatakan bahwa Ath-Thurthusyi lahir pada tahun 451 H.
Ath-Thurthusyi masuk kota Baghdad pada masa Abu Nashr Az-Zainabi. Aku berpendapat Ath-Thurthusyi belajar darinya. Dia berkata, “Aku melihat sebuah tanda di sana pada tahun 478 setelah Ashar. Kami mendengar suara keras dan hari mulai gelap. Tiba-tiba angin berhembus kencang sekali, hitam dan tebal hingga hari terlihat hitam tak terlihat. Cahaya matahari meredup seakan-akan kami berada dalam kegelapan yang pekat. Seseorang tak dapat melihat tangannya. Orang-orang panik. Kami tak ragukan lagi kalau itu adalah hari kiamat atau gempa atau azab yang sedang turun. Kejadian itu berlangsung selama roti yang dibakar telah masak. Hitamnya hari berubah menjadi merah seperti jilatan atau bara api. Kami tak meragukan lagi bahwa itu adalah api yang diturunkan Allah kepada hamba-Nya. Kami putus asa untuk menyelamatkan diri. Keadaan itu berlangsung lebih cepat dari gelapnya hari tadi. Dan Alhamdulillah kami selamat. Orang-orang saling menjarah satu sama lain di pasar. Mereka mengambil barang dagangan dan makanan. Kemudian matahari muncul beberapasan saat hingga akhirnya terbenam. 
Dia mempunyai kitab tentang pengharaman lagu, kitab tentang zuhud, komentar tentang perbedaan pendapat, kitab tentang bid’ah, kitab tentang hal-hal baru, berbakti kepada kedua orang tua, bantahan terhadap orang Yahudi, Kitab Al Amd fi Al Ushul dan kitab-kitab yang lain.
Ath-Thurthusyi wafat di Alexandria pada tahun 520 H. Semoga Allah SWT memberikan rahmat kepadanya.
---------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Comments

Popular posts from this blog

Wa`il bin Hujur bin Sa’ad

Dia adalah Abu Hunaidah Al Hadrami, seorang bangsawan dan pembesar kaumnya. Dia pernah menjadi utusan. Dia juga meriwayatkan hadits. Ketika Mu’awiyah datang ke Kufah, dia menemui Mu’awiyah lalu membai’atnya. Diriwayatkan oleh Alqamah bin Wa‘il dari ayahnya, bahwa Wa‘il pernah mengirim seorang delegasi kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau memberinya sebidang tanah. Beliau menyuruh Mu’awiyah bin Abu Sufyan agar ikut bersamanya untuk menunjukkan tanah tersebut.

Abu Qatadah Al Anshari As-Sulami

Dia dikenal sebagai ksatria berkuda Rasulullah SAW, yang turut dalam perang Uhud dan perjanjian Hudaibiyah.  Dia bernama asli Al Harits bin Rib’i, Ali Ash-Shahih. Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ meriwayatkan dari ayahnya, dari Nabi SAW, beliau bersabda,  “Pasukan berkuda kami yang terbaik adalah Abu Qatadah, sedangkan pasukan pejalan kaki kami yang terbaik adalah Salamah bin Al Akwa’.”

Ibnu Tumart

Dia adalah Seorang ahli fikih, ushul, seorang yang zuhud, julukannya adalah Asy-Syaikh Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin tumart Al Barbari Al Mashmudi Al Harghi. Dia muncul di Maroko, mengaku sebagai keturunan Ali dari Hasan, dia adalah Imam Mahdi yang ma’shum dan dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Hud bin Khalid bin Tamam bin Adnan bin Shafwan bin Jabir bin Yahya bin Rabah bin Yasar bin Al Abbas bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Imam Ali bin Abu Thalib. Dia pergi dari Sus Al Aqsha menuju timur. Dia menunaikan ibadah haji, belajar fikih dan menguasai beberapa disiplin ilmu. Dia adalah sosok yang gemar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dia orang yang besar jiwanya, berani, berwibawa, pejuang kebenaran, bersikeras untuk mendapat kekuasaan, dan menyimpang dalam kepemimpinannya. Dia sosok yang berwibawa, agung, dan disegani. Para pengikutnya mematuhinya. Mereka menguasai banyak kota dan mengalahkan banyak raja. Dia belajar dari Ilkiya Al Harrasi dan Ab...