Skip to main content

Qadhi Al Marastan


Dia adalah seorang syaikh, imam, alim, juga seorang pakar dalam ilmu waris, seorang tokoh di masanya, nama lengkapnya adalah Al Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ar-Rabi’ bin Tsabit bin Wahab bin Masyja’ah bin Al Harits bin Abdullah bin Ka’ab bin Malik bin Amr Al Qain Al Khazraji As-Sulami Al Anshari Al Baghdadi.
Dia dilahirkan pada tahun 442 H.
Abu Musa Al Madini berkata, “Al Qadhi Abu Bakar adalah imam dalam beberapa disiplin ilmu. Dia berkata, ‘Aku hafal Al Qur`an pada umur tujuh tahun. Tak ada ilmu yang tidak aku pelajari. Aku berhasil menguasai hampir seluruh ilmu kecuali nahwu. Aku sedikit menguasainya. Aku tidak tahu bahwa aku telah menyia-nyiakan waktuku dalam senda gurau dan main-main’.”
Pada suatu saat dia pergi dan ditawan oleh orang Romawi. Dia ditawan selama satu setengah tahun. mereka mengikat dan mengurungnya. Mereka ingin dia keluar dari agamanya. Dia menolak. Dia belajar tulisan Romawi dari mereka. Aku mendengar dia berkata, “Barangsiapa melayani ilmu, maka dia akan dilayani oleh kekuasaan. Setiap pengajar tidak boleh berbuat kasar dan setiap pelajar tidak boleh memandang rendah.” Aku melihat setelah sembilan puluh tiga tahun, indranya masih tajam, tidak berubah sama sekali dan ingatannya masih kuat. Dia masih bisa membaca tulisan kecil dari kejauhan. Kami menghadap kepadanya sebelum dia wafat di Mudaidah. Dia berkata, “Ada sesuatu yang mengalir di telingaku.” Dia membacakan hadits kepada kami. Dia terus mengajar kami hingga dua bulan kemudian dia uzur. Kemudian dia jatuh sakit. Dia mewasiatkan agar kuburannya diperdalam dari biasanya dan dituliskan di atas kuburannya ayat 
“Katakanlah: Berita itu adalah berita yang besar, Yang kamu berpaling daripadanya.” (Qs. Shaad [38]: 67-68). Dia bertahan selama tiga hari dan selalu membaca Al Qur`an hingga dia wafat pada tahun 535 H.
As-Sam’ani berkata, “Qadhi Al Marastan berkata kepadaku, ‘Orang-orang Romawi menawanku dan mereka berkata, ‘Katakanlah, Almasih putra Allah hingga kami kembalikan hak-hakmu.’ Aku tidak menuruti mereka. Dan aku belajar tulisan mereka.’ Dia tidak menguasai ilmu nahwu. Aku mendengar dia berkata, ‘Lalat ketika menempel di tempat warna putih, ia akan menjadikannya hitam; ketika menempel di tempat warna hitam, ia akan menjadikannya putih; ketika menempel di debu, ia akan mengerumuninya; dan jika menempel pada luka, ia akan membuatnya bernanah’.”
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com
 

Comments

Popular posts from this blog

Abu Hurairah

Dia adalah Abu Hurairah Ad-Dausi Al Yamani. Ada banyak pendapat mengenai nama aslinya, dan yang paling kuat adalah Abdurrahman bin Shakhar.  Gelarnya yang paling dikenal adalah Abu Hurairah (anak kucing). Abu Hurairah pernah berkata, “Aku dijuluki dengan sebutan Abu Hurairah karena ketika aku menemukan seekor anak kucing, aku memasukkannya ke dalam sakuku.” Dia seorang imam yang faqih, mujtahid, Al Hafizh, sahabat Rasulullah SAW, dan sayyidul huffazh yang telah mendapat pengakuan.

Wa`il bin Hujur bin Sa’ad

Dia adalah Abu Hunaidah Al Hadrami, seorang bangsawan dan pembesar kaumnya. Dia pernah menjadi utusan. Dia juga meriwayatkan hadits. Ketika Mu’awiyah datang ke Kufah, dia menemui Mu’awiyah lalu membai’atnya. Diriwayatkan oleh Alqamah bin Wa‘il dari ayahnya, bahwa Wa‘il pernah mengirim seorang delegasi kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau memberinya sebidang tanah. Beliau menyuruh Mu’awiyah bin Abu Sufyan agar ikut bersamanya untuk menunjukkan tanah tersebut.

Imam Adz-Dzahabi

cara-global.blogspot.com:  Nama dan Nasabnya             Syamsudin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah Adz-Dzahabi. Dia berasal dari keluarga Turkuman [1] , yang silsilahnya (bila diruntun) sampai kepada bani Tamim.             Ayahnya berprofesi sebagai pengerajin emas yang mahir dan ahli, hingga terkenal dengan sebutan Adz-Dzahabi (tukang emas). Dia juga menuntut ilmu dan mendengar Shahih Al Bukhari, taat beragama, dan rajin menunaikan shalat malam.