Sa’ad bin Abu Waqqash

cara-global.blogspot.com: Abu Waqqash bernama asli Malik bin Uhaib.
Dia adalah seorang amir, Abu Ishaq Al Qurasyi, Az-Zuhri, Al Makki. 
Dia termasuk salah seorang dari sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga, dan termasuk kelompok As-Sabiquna Al Awwalun. 
Dia termasuk pejuang perang Badar dan Hudaibiyah.
Dia salah seorang dari enam orang anggota Dewan Syura.
Ibrahim bin Muhammad bin Sa’ad berkata: Ayahku pernah menceritakan kepadaku tentang ayahnya, ia berkata: Ketika aku melewati Utsman yang saat itu sedang berada di masjid, aku mengucapkan salam kepadanya. Tiba-tiba matanya memelototiku dan tidak menjawab salamku. Aku lalu mendatangi Umar dan berkata, “Wahai Amirul Mukminiin, apakah telah terjadi sesuatu dalam agama Islam?” Dia menjawab, “Apa itu?” Aku berkata, “Tadi aku melewati Utsman, lalu aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi dia tidak menjawab.” Mendengar itu, Umar langsung menyuruh seseorang pergi menemui Utsman. Utusan itu kemudian mendatanginya dan bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau tidak membalas salam saudaramu?” Utsman menjawab, “Aku tidak melakukannya.” Aku berkata, “Dia telah melakukannya.” Hingga akhirnya dia bersumpah dan aku juga bersumpah. 
Setelah itu Utsman baru teringat, lalu berkata, “Ya, benar. Kalau begitu aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepadanya. Tadi, ketika kamu lewat di depanku, aku sedang mengingat sebuah kalimat yang aku dengar dari Rasulullah SAW. Tidak, demi Allah, aku tidak ingat sama sekali kecuali mata dan hatiku tertutup.” Setelah itu Sa’ad berkata, “Aku akan memberitahukan padamu tentang hal itu, bahwa Rasulullah SAW menyebutkan kepada kami pada doa pertama, kemudian beliau didatangi oleh seorang pria, hingga beliau dibuat sibuk. Kemudian Rasulullah SAW berdiri dan aku pun mengikutinya. Ketika aku baru menyadari bahwa beliau akan sampai ke rumahnya terlebih dahulu, maka aku pun mempercepat langkah kedua kakiku. Lalu beliau menoleh kepadaku dan aku juga ikut menoleh. Beliau berkata, ‘Abu Ishaq?’ Aku menjawab, ‘Benar ya Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Ada apa?’ Aku menjawab, ‘Tidak, demi Allah, kecuali bahwa engkau telah mengingatkan kami doa pertama kemudian datang seorang pria Arab ini.’ Beliau berkata, ‘Benar, yaitu doa Dzi Nun: laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadz-dzaalimin. (Qs. Al Anbiyaa` [21]: 87) Setiap muslim yang berdoa kepada Tuhannya dengan doa ini dalam satu keperluan, maka Dia akan mengabulkan doanya’.”
Sa’ad bin Waqqash meninggal di Aqiq ketika sedang berada di dalam istananya, tujuh mil dari Madinah, lalu dia dibawa kesana pada tahun 55 Hijriyah.
Diriwayatkan dari Sa’id bin Al Musayyib, ia berkata: Aku mendengar Sa’ad berkata, “Ketika aku masuk Islam, aku telah tinggal selama tujuh malam dan menjadi orang Islam yang ketiga.”
Diriwayatkan dari Qais, dia berkata: Sa’ad berkata, “Rasulullah SAW tidak pernah bersumpah demi kedua orang tuanya kepada orang lain sebelumku. Ketika itu aku melihatnya bersabda kepadaku, ‘Wahai Sa’ad, Ayah dan Ibuku menjadi tebusan dirimu, lepaskan anak panah!’ Aku adalah orang Islam yang pertama kali melepaskan anak panah ke arah orang-orang musyrik. Engkau telah melihatku bersama Rasulullah, sebagai orang ketujuh dari tujuh orang sahabat lainnya yang ketika itu tidak mempunyai makanan kecuali daun samur, hingga akhirnya salah seorang dari kami ada yang tergeletak seperti halnya kambing.”
Diriwayatkan dari Amir bin Sa’ad, dari ayahnya, bahwa Rasulullah SAW pernah bersumpah demi kedua orang tuanya. Amir berkata, “Seorang pria musyrik telah membakar kaum muslim, maka Rasulullah bersabda, ‘Lepaskanlah anak panah, demi Ayah dan Ibuku’. Aku pun mengambil anak panah yang tidak ada runcingnya hingga mengenai keningnya. Pria itu kemudian terjatuh dengan aurat tersingkap, lalu Rasulullah SAW tertawa hingga gigi serinya terlihat.”
Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Pada suatu hari Rasulullah SAW tidak bisa tidur, lalu beliau bersabda, ‘Semoga ada seorang pria shalih dari sahabat-sahabatku yang sudi menjagaku malam ini’. Tiba-tiba kami mendengar suara senjata, maka Rasulullah sAW bersabda, ‘Siapa dia?’ Sa’ad bin Abu Waqqash berkata, ‘Aku wahai Rasulullah, aku datang untuk menjagamu’. Setelah itu Rasulullah SAW pun tertidur hingga aku mendengar dengkuran beliau.”
Diriwayatkan dari Amir bin Sa’ad, bahwa ayahnya, Sa’ad, berada pada ghanimahnya, lalu anaknya, Umar, datang. Ketika melihatnya, dia berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan penunggang kuda ini. Ketika dia sampai kepadanya, dia berkata, ‘Wahai Ayah, apakah kamu rela jika seorang Arab menjadi ghanimahmu dan orang-orang berselisih pendapat tentang masalah perbudakan di Madinah?’ Amir lalu memukul dada Umar seraya berkata, ‘Diam, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, kaya, dan menyembunyikan diri.”
Diriwayatkan dari Sa’ad, dia berkata, “Aku melihat dua orang sahabat berdiri di samping kanan dan kiri Rasulullah SAW pada saat perang Uhud. Kedua sahabat itu mengenakan pakaian berwarna putih, kemudian berperang dengan gigih melindungi Nabi SAW, dengan pembelaan yang belum pernah aku lihat, baik sebelum maupun sesudahnya.”
Diriwayatkan dari Abu Ishaq, dia berkata, “Sahabat yang memiliki pendirian yang sangat keras ada empat, yaitu Umar, Ali, Zubair dan Sa’ad.”
Diriwayatkan dari Abu Utsman, bahwa Sa’ad berkata: Ayat ini diturunkan berkaitan dengan diriku, “Jika dia memerangi kamu agar kamu menyekutukanku dengan sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu, maka janganlah kamu menaatinya.” (Qs. Al ‘Ankabuut [29]: 8) Aku tidak bertanggung jawab kepada Ibuku. Ketika aku masuk Islam, Ibuku berkata, ‘Wahai Sa’ad, agama apa yang kamu peluk ini? Kamu tinggalkan agamamu itu atau aku tidak akan makan dan minum hingga mati, sehingga kamu dikatakan sebagai pembunuh Ibumu sendiri’. Aku menjawab, ‘Jangan engkau lakukan hal itu wahai Ibuku, karena aku tidak akan meninggalkan agama Islam selamanya’. Ibuku lalu selama beberapa hari tidak makan dan minum, maka ia terlihat sangat lemas. Ketika aku melihatnya, aku katakan, ‘Wahai Ibuku, perlu engkau ketahui, demi Allah, seandainya engkau mempunyai seratus nyawa, lalu keluar satu per satu, tetap saja aku tidak akan meninggalkan agama Islam. Silakan makan atau tidak’. Mendengar pernyataan seperti itu, dia akhirnya makan.”
Diriwayatkan dari Jabir, dia berkata, “Ketika aku bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba Sa’ad bin Malik datang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ini adalah pamanku dari pihak ibu, maka hendaklah seseorang menunjukkan kepadaku pamannya dari pihak ibunya.”
Menurut aku, itu karena ibu Nabi SAW keturunan penduduk Zuhri, yaitu Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf, putri dari paman Abu Waqqash.
Sa’ad berkata, “Ketika aku sakit di Makkah, Rasulullah SAW mengunjungiku. Beliau mengusap wajah, dada, dan perutku seraya membaca, ‘Allahumma isyfi sa’dan’ (ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad). Aku masih ingat dinginnya tangan beliau di hatiku hingga sekarang.”
Diriwayatkan dari Qais, bahwa Sa’ad menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah SAW bersabda, 
“Ya Allah, kabulkanlah Sa’ad jika dia berdoa.”
Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah, dia berkata, “Suatu ketika penduduk Makkah mengadukan Sa’ad kepada Umar, mereka mengatakan bahwa shalatnya tidak baik. Sa’ad kemudian membantah, ‘Aku mengerjakan shalat sesuai dengan shalatnya Rasulullah SAW. Shalatku pada waktu Isya, aku lakukan dengan lama pada dua rakaat pertama sedangkan pada dua rakaat terakhir aku lakukan dengan ringkas’. Mendengar itu, Umar berkata, ‘Berarti itu hanya prasangka terhadapmu wahai Abu Ishaq’. Dia kemudian mengutus beberapa orang untuk bertanya tentang dirinya di Kufah, ternyata ketika mereka mendatangi masjid-masjid di Kufah, mereka mendapat informasi yang baik, hingga ketika mereka datang ke masjid bani Isa, seorang pria bernama Abu Sa’dah berkata, ‘Demi Allah, dia tidak adil dalam menetapkan hukum, tidak membagi secara adil, dan tidak berjalan (untuk melakukan pemeriksaan) pada waktu malam. Setelah itu Sa’id berkata, ‘Ya Allah, jika dia bohong maka butakanlah matanya, panjangkanlah usianya, dan timpakanlah fitnah kepadanya’.” 
Abdul Malik berkata, “Pada saat itu aku melihat Abu Sa’dah menderita penyakit tuli, dan jika ditanya bagaimana keadaanmu? dia menjawab, ‘Orang tua yang terkena fitnah, aku terkutuk oleh doa Sa’ad.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)
Di antara keistimewaan Sa’ad adalah keberhasilannya menaklukkan Irak. Pada saat itu dia adalah pemimpin pasukan di perang Qadisiyah dan Allah telah memberikan pertolongan bagi agamanya. Sa’ad juga sempat singgah di Mada‘in, kemudian menjadi pemimpin pada saat perang Jalula‘ dan ia berhasil memperoleh kemenangan. Lewat tangannya, Allah menyatukan negeri yang terpecah-belah.
Diriwayatkan dari Ibnu Al Musayyib, bahwa suatu ketika seorang pria mencela Ali, Thalhah, dan Zubair. Mendengar itu, Sa’ad menegurnya, ‘Janganlah kamu mencela sahabat-sahabatku’. Tetapi pria itu tidak mau terima. Setelah itu Sa’ad berdiri, lalu mengerjakan shalat dua rakaat dan berdoa. Tiba-tiba seekor unta bukhti48 muncul menyeruduk pria tersebut hingga jatuh tersungkur di atas tanah, lantas meletakkannya di antara dada dan lantai hingga akhirnya ia terbunuh. Aku melihat orang-orang mengikuti Sa’ad dan berkata, ‘Selamat kamu wahai Abu Ishak, doamu terkabulkan’.”
Pada tahun 21 Hijriyah penduduk Kufah mengadukan Sa’ad, amir mereka kepada Umar, sehingga Umar mencopotnya dari jabatan.
Diriwayatkan dari Amr bin Maimum, dari Umar, bahwa ketika dia terkena musibah, dia menyerahkan urusan agar dimusyawarahkan oleh enam orang, seraya berkata, “Barangsiapa yang mereka pilih menjadi khalifah, maka dia menjadi khalifah sesudahku, walaupun kekhalifahan itu jatuh pada Sa’ad. Jika tidak, maka khalifah sesudahku hendaknya meminta pertolongan kepadanya, karena aku tidak akan menurunkannya —dari Kufah—, baik karena lemah maupun khianat.”
Diriwayatkan dari Husain bin Kharijah Al Asyja’i, ia berkata, “Ketika Utsman terbunuh, aku tertimpa fitnah, maka aku berkata, ‘Ya Allah, tunjukkan kebenaran kepadaku dalam masalah yang aku sedang berpegang teguh padanya’. Setelah itu aku bermimpi melihat antara dunia dan akhirat hanya dipisahkan oleh dinding. Ketika aku turun ke dinding itu, ternyata isinya adalah manusia, mereka berkata, ‘Kami adalah para malaikat’. Kami berkata, ‘Mana para syuhada`?’ Mereka berkata, ‘Naiklah beberapa tingkatan’. Aku kemudian naik dari satu tingkat ke tingkat yang lain. Tiba-tiba aku melihat Nabi Muhammad berkata kepada Ibrahim, ‘Mintakan ampunan untuk umatku’. Dia menjawab, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui perbuatan mereka sesudahmu, sesungguhnya mereka telah menumpahkan darah dan membunuh imam mereka. Tidakkah mereka mengerjakan seperti yang dikerjakan oleh temanku, Sa’ad?’ Aku kemudian terbangun dan berkata, ‘Ternyata itu hanya mimpi’. 
Setelah itu aku mendatangi Sa’ad dan menceritakannya kepadanya. Betapa gembiranya dia, seraya berkata, ‘Merugilah orang yang tidak menjadikan Ibrahim sebagai kekasihnya’. Aku bertanya, ‘Di kelompok mana kamu?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak bersama salah satu dari kedua kelompok itu’. Aku bertanya, ‘Apa yang kamu perintahkan kepadaku?’ Dia menjawab, ‘Apakah kamu mempunyai kambing?’ Aku berkata, ‘Tidak’. Dia berkata lagi, ‘Belilah kambing dan tetaplah bersamanya hingga segala permasalahan menjadi jelas’.”
Diriwayatkan dari Amir bin Sa’ad, dari ayahnya, ia berkata, “Pada saat penaklukkan kota Makkah, aku sedang sakit yang kemungkinan aku masih bisa sembuh. Rasulullah SAW lalu mendatangiku, maka aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku mempunyai harta yang banyak dan tidak ada orang yang mewarisiku kecuali seorang anak perempuan, maka bolehkah aku berwasiat untuk menyedekahkan seluruh hartaku?’ Beliau menjawab, ‘Tidak’. Aku bertanya lagi, ‘Bagaimana kalau separuhnya?’ Beliau menjawab, ‘Tidak’. Aku berkata lagi, ‘Bagaimana kalau sepertiganya?’ Beliau menjawab, ‘Sepertiga itu sudah banyak. Jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, maka itu lebih baik, daripada kamu meninggalkannya dalam keadaan miskin meminta-minta kepada manusia. Jika kamu memberikan nafkah untuk mendapatkan ridha Allah maka kamu akan mendapatkan pahala hingga makanan suapan yang kamu berikan kepada istrimu’. Aku bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, aku takut menemui ajal di negeri yang aku tinggalkan (yakni Makkah)’. Beliau menjawab, ‘Semoga kamu tetap bisa bertahan hingga orang-orang mengambil manfaat darimu dan orang lain membahayakanmu. Ya Allah, teruskan hijrah sahabat-sahabatku dan janganlah engkau mengembalikan mereka ke negeri-negeri mereka sebelumnya’. Namun sayangnya ada seorang sahabat yang malang (yaitu Sa’ad bin Khaulah) yang meninggal di Makkah.”
Menurut aku, Sa’ad bin Khaulah sengaja menghindar dari fitnah, sehingga beliau tidak ikut dalam perang Jamal, Shiffin, dan Tahkim. 
Dia pantas menjadi imam, berkedudukan tinggi, dan diridhai oleh Allah.
Sa’ad bin Abu Waqqash Meninggal pada tahun 55 Hijriyah.
 ---------------

ref. ringkasan siyar alam an-nubala
terb. pustaka azzam