Tsabit bin Qais


Dia adalah Ibnu Syammas, orator kaum Anshar, dan termasuk sahabat Nabi SAW yang baik. Meskipun dia tidak sempat ikut berjuang dalam perang Badar, namun ia sempat mengikuti perang Uhud dan Bai’ah Ar-Ridhwan.
Dia adalah pria yang bersuara lantang dan sosok orator ulung.
Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Tsabit bin Qais pernah berkhutbah ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah, ‘Jika kami melarangmu dari sesuatu yang juga berlaku pada diri kami dan anak-anak kami, maka apa yang akan kami dapatkan?’ Beliau bersabda, ‘Surga’. Para sahabat kemudian berkata, ‘Kami ridha’.”
Diriwayatkan dari Ismail bin Muhammad bin Tsabit bin Qais, bahwa Tsabit bin Qais pernah berkata, “Ya Rasulullah, aku takut kami binasa. Allah telah melarang kami untuk senang dipuji dengan sesuatu yang tidak kami lakukan dan aku mendapati diriku senang dipuji. Allah juga melarang kita bersikap sombong, sedangkan aku orang yang menyukai keindahan. Allah melarang kami untuk mengangkat suara kami melebihi suaramu, sedangkan aku orang yang bersuara lantang.” Mendengar itu, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Tsabit, apakah kamu ridha untuk hidup terpuji, terbunuh sebagai syahid, dan masuk surga?”
Diriwayatkan dari Anas, bahwa suatu ketika Tsabit bin Qais datang dalam perang Yamamah, dalam kondisi memakai balsem, mengenakan dua lembar pakaian berwarna putih, dan dikafani sementara kaum itu telah dikalahkan, lalu dia berkata, “Ya Allah, aku tidak bertanggungjawab atas apa yang dilakukan mereka dan aku memohon ampunan kepada-Mu dari apa yang mereka perbuat. Alangkah buruknya apa yang dilakukan oleh mereka, karena itu lepaskan kami dari mereka sejenak saja.” Lalu beliau bersiap-siap, kemudian berperang hingga terbunuh.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Nabi SAW bersabda, 
‘Sebaik-baik pria adalah Tsabit bin Qais bin Syammas’.”
Diriwayatkan dari Az-Zuhri, bahwa utusan bani Tamim datang, lalu wakil mereka membanggakan diri dengan beberapa hal, maka Nabi SAW berkata kepada Tsabit bin Qais, “Berdirilah dan jawablah wakil mereka!” Tsabit lalu berdiri, lalu memuji Allah, lantas berpidato dengan baik. Kemudian Rasulullah SAW  dan orang-orang Islam senang dengannya.
Istrinya, Jamilah, pernah mengeluh perihal dirinya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, aku dan Tsabit bin Qais tidak bisa lagi bersatu.” Mendengar itu, Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kamu akan mengembalikan kebunnya?” Dia menjawab, “Ya.” Dia pun bercerai dengan Tsabit.
Ketika Tsabit hendak menghembuskan nafas terakhir, dia sempat dilihat oleh seorang pria. Dia berkata, “Tatkala aku terbunuh, ada seorang pria dari kaum muslim yang melepas baju besiku lalu menyembunyikannya, lantas dia meletakkannya di bawah periuk dan menutupinya dengan pelana. Lalu datanglah kepada pemimpin (amir), dan ceritakan kepadanya. Janganlah kamu berkata, ‘Ini mimpi sehingga kamu menyia-nyiakannya. Jika kamu datang ke Madinah maka katakan kepada Khalifah Rasulullah SAW bahwa aku mempunyai utang sebanyak sekian dan budakku aku merdekakan. Jangan sekali-kali kamu mengatakan bahwa ini hanya impian sehingga kamu menyia-nyiakannya.” Orang itu kemudian mendatanginya, lalu mengabarkan berita itu, dan semua wasiatnya terkabulkan. Kami tidak mengetahui ada orang lain yang telah meninggal, wasiatnya dilaksanakan selain Tsabit bin Qais RA.
-------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Artikel Terkait Tsabit bin Qais