Skip to main content

Ibnu Ummi Maktum


Dia adalah Abdullah bin Qais Al Qurasyi Al Amiri.
Ia termasuk salah satu As-Sabiquna Al Muhajirin (sahabat yang pertama kali hijrah). Dia sebenarnya pria buta yang menjadi muadzin Rasulullah SAW selain Bilal, Sa’ad  Al Qiradh, dan Abu Mahdzurah di Makkah. Dia juga sempat hijrah beberapa saat setelah perang Badar.      
Nabi Muhammad SAW sangat memuliakanya dan pernah menjadikannya sebagai khalifah di Madinah pada saat ditinggalkan oleh beliau, lalu dia mengerjakan shalat bersama segenap umat Islam yang tinggal di Madinah.
Diriwayatkan dari Abu Ishaq, bahwa dia mendengar Al Bara‘ berkata, “Orang yang pertama kali datang kepada kami adalah Mush’ab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum. Mereka berdua kemudian mengajarkan Al Qur`an kepada orang-orang.”
Urwah berkata, “Nabi SAW bersama orang-orang Quraisy, diantaranya Utbah bin Rabi’ah. Tiba-tiba datang Ummi Maktum seraya bertanya tentang sesuatu, tetapi Nabi berpaling darinya, maka turunlah firman Allah, 
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, ketika datang kepadanya seorang buta.” (Qs. ‘Abasa [80]: 1)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Ma’qil, dia berkata, “Suatu ketika Ibnu Ummi Maktum mendatangi seorang wanita Yahudi dari Madinah, dan wanita itu memperlakukannya dengan baik, akan tetapi dia merasa terhina ketika wanita itu menghina Nabi SAW. Ummi Maktum kemudian memegangnya, lalu memukulnya hingga akhirnya wanita tersebut terbunuh. Setelah itu dia melapor kepada Nabi SAW, ‘Demi Allah, wanita itu pernah menolongku, tapi dia menghinaku karena telah menghina Allah dan Rasul-Nya’. Mendengar itu, Nabi SAW berkata, ‘Semoga Allah menjauhkannya dan aku telah membatalkan darahnya’.”
Diriwayatkan dari Al Bara`, dia berkata, “Ketika ayat  ‘Tidaklah sama antara orang-orang yang duduk (tidak berperang) ...’  turun, Nabi SAW memanggil Zaid dan memerintahkannya berperang, tetapi Zaid beralasan bahwa dia memiliki banyak tanggungan, namun Nabi SAW tetap mewajibkannya. Setelah itu datanglah Ibnu Ummi Maktum melaporkan, hingga turunlah firman Allah,  ‘Kecuali orang-orang yang mempunyai udzur’.” (Qs. An-Naba` [78]: 95)
Diriwayatkan dari Ibnu Laila, bahwa Ibnu Ummi Maktum pernah berdoa, “Wahai Tuhanku, turunkanlah ayat yang meringankan udzurku.” Lalu turunlah firman Allah  “Kecuali orang yang mempunyai udzur.”  Dia juga pernah ikut berperang, ia berkata, “Berikan bendera itu kepadaku, karena aku orang buta sehingga tak bisa melarikan diri. Tempatkan aku di tengah-tengah dua barisan.”
--------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Comments

Popular posts from this blog

Wa`il bin Hujur bin Sa’ad

Dia adalah Abu Hunaidah Al Hadrami, seorang bangsawan dan pembesar kaumnya. Dia pernah menjadi utusan. Dia juga meriwayatkan hadits. Ketika Mu’awiyah datang ke Kufah, dia menemui Mu’awiyah lalu membai’atnya. Diriwayatkan oleh Alqamah bin Wa‘il dari ayahnya, bahwa Wa‘il pernah mengirim seorang delegasi kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau memberinya sebidang tanah. Beliau menyuruh Mu’awiyah bin Abu Sufyan agar ikut bersamanya untuk menunjukkan tanah tersebut.

Abu Qatadah Al Anshari As-Sulami

Dia dikenal sebagai ksatria berkuda Rasulullah SAW, yang turut dalam perang Uhud dan perjanjian Hudaibiyah.  Dia bernama asli Al Harits bin Rib’i, Ali Ash-Shahih. Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ meriwayatkan dari ayahnya, dari Nabi SAW, beliau bersabda,  “Pasukan berkuda kami yang terbaik adalah Abu Qatadah, sedangkan pasukan pejalan kaki kami yang terbaik adalah Salamah bin Al Akwa’.”

Ibnu Tumart

Dia adalah Seorang ahli fikih, ushul, seorang yang zuhud, julukannya adalah Asy-Syaikh Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin tumart Al Barbari Al Mashmudi Al Harghi. Dia muncul di Maroko, mengaku sebagai keturunan Ali dari Hasan, dia adalah Imam Mahdi yang ma’shum dan dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Hud bin Khalid bin Tamam bin Adnan bin Shafwan bin Jabir bin Yahya bin Rabah bin Yasar bin Al Abbas bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Imam Ali bin Abu Thalib. Dia pergi dari Sus Al Aqsha menuju timur. Dia menunaikan ibadah haji, belajar fikih dan menguasai beberapa disiplin ilmu. Dia adalah sosok yang gemar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dia orang yang besar jiwanya, berani, berwibawa, pejuang kebenaran, bersikeras untuk mendapat kekuasaan, dan menyimpang dalam kepemimpinannya. Dia sosok yang berwibawa, agung, dan disegani. Para pengikutnya mematuhinya. Mereka menguasai banyak kota dan mengalahkan banyak raja. Dia belajar dari Ilkiya Al Harrasi dan Ab...