Skip to main content

Ubai bin Ka’ab


Dia adalah Ibnu Qais, pemimpin ahli Al Qur`an, Abu Al Mundzir Al Anshari, An-Najjari, Al Madani Al Muqri‘, Al Badari, yang juga dijuluki dengan Abu Ath-Thufail.
Dia sempat mengikuti perjanjian Aqabah dan perang Badar, mengumpulkan Al Qur`an pada masa Nabi SAW, belajar langsung dari Nabi SAW, menghafal banyak ilmu yang penuh berkah, dan sosok ulama yang suka beramal.
Anas berkata, “Nabi SAW pernah berkata kepada Ubai bin Ka’ab, ‘Allah menyuruhku agar mengajarimu membaca Al Qur`an’. Ubai bin Ka’ab berkata, ‘Apakah Allah menyebutkan namaku kepadamu?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya’. Dia bertanya lagi, ‘Apakah namaku juga di sebut di sisi Tuhan penguasa alam?’ Dia menjawab, ‘Ya’. Setelah itu kedua matanya memgeluarkan air mata. Ketika Nabi SAW bertanya kepada Ubai bin Ka’ab tentang ayat Al Qur`an yang paling agung, ia menjawab, ‘Allaahu laa ilaaha illaa huwa al hayyu al qayyum’. (Qs. Al Baqarah [2]: 255) Nabi SAW kemudian memukul dadanya seraya bersabda, ‘Betapa luasnya ilmumu wahai Abu Mundzir’.”
Anas bin Malik berkata, “Al Qur`an dikumpulkan pada masa Rasulullah SAW oleh empat orang sahabat yang semuanya berasal dari kaum Anshar, yaitu Ubai bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid.”
Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, 
‘Umatku yang paling pandai membaca Al Qur`an adalah Ubai bin Ka’ab’.”
Diriwayatkan dari Abdullah bin Al Harits bin Naufal, dia berkata: Aku pernah berdiri bersama Ubai bin Ka’ab di bawah bayang-bayang pohon Uthum Hassan, di pasar buah-buahan pada saat ini. Ubai lalu berkata, “Tidakkah kamu melihat manusia berbeda-beda punggung mereka dalam mencari dunia?” Aku menjawab, “Ya.” Dia berkata lagi, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Hampir saja sungai Eufrat (Tigris) menyingkapkan gunung emas. Jika manusia mendengarnya, tentu mereka akan bergegas menujunya. Lalu orang yang ada di sisinya, seraya berkata, “Jika kami biarkan manusia mengambilnya, mereka tidak akan meninggalkannya barang sedikit pun, lalu setiap seratus orang akan dibunuh 99 diantaranya.”
Diriwayatkan dari Ashim dari Zirr, dia berkata, “Ketika datang ke Madinah, aku menemui Ubai. Aku berkata, ‘Semoga Allah merahmatimu, bersikap baiklah kepadaku!’ —ketika itu dia seorang pria yang memiliki pekerti yang buruk— setelah itu aku bertanya kepadanya tentang malam Lailatul Qadar. Dia menjawab, ‘Yaitu malam kedua puluh tujuh’.”
Abu Daud meriwayatkan dari hadits Ibnu Umar, bahwa Nabi SAW pernah mengerjakan shalat, lalu beliau lupa, dan ketika teringat beliau berkata kepada Ubai, ‘Apakah kamu akan shalat bersama kami?’ Ubai menjawab, ‘Ya’. Rasulullah SAW kemudian bersabda, ‘Apa yang menghalangimu untuk tidak mengingatkanmu ketika aku lupa?’.”
Diriwayatkan dari Qais bin Ubad, dia berkata: Aku pernah datang ke Madinah untuk menemui sahabat-sahabat Muhammad, dan di antara mereka semua hanya Ubai yang lebih aku senangi. Ketika shalat dilaksanakan, aku berdiri di shaf pertama. Tak lama kemudian datang seorang pria melihat wajah orang-orang, dia mengetahui mereka kecuali aku, lalu dia memandangku dan berdiri di tempatku. Tatkala itu aku tidak lagi menyadari shalatku. Ketika dia shalat, dia berkata, “Wahai anakku, semoga Allah tidak menimpakan keburukan kepadamu. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang hanya didasarkan pada kebodohan, karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Berdirilah di shaf yang ada sesudahku’. Aku telah memperhatikan semua wajah orang-orang dan aku mengenal mereka semua kecuali kamu’.” Ternyata dia adalah Ubai bin Ka’ab.
Diriwayatkan dari Al Hasan, bahwa Utai bin Dhamrah menceritakan kepadaku, dia berkata, “Ketika aku melihat penduduk Madinah berkumpul di kuburan mereka, aku bertanya, ‘Ada apa dengan mereka?’ Salah seorang di antara mereka menjawab, ‘Apakah kamu bukan penduduk negeri ini?’ Aku menjawab, ‘Bukan’. Dia berkata, ‘Pada hari ini pemimpin kaum muslim, Ubai bin Ka’ab, telah berpulang menghadap-Nya’.”
Diriwayatkan dari Ubai, dia berkata, “Kami biasa mengkhatamkan Al Qur`an dalam hitungan delapan malam.”
Ubai bin Ka’ab juga pernah berkata kepada Umar bin Khaththab, “Mengapa kamu tidak mengangkatku menjadi wali?” Abu Bakar menjawab, “Aku khawatir agamamu terkotori.”
Ma’mar berkata, “Semua ilmu Ibnu Abbas diambil dari tiga orang, Umar, Ali, dan Ubai.”
Masruq berkata, “Aku pernah bertanya kepada Ubai tentang sesuatu, lalu dia bertanya, ‘Apakah itu sudah terjadi sekarang?’ Aku menjawab, ‘Belum’. Dia berkata, ‘Jangan pernah menanyakan sesuatu yang belum terjadi kepada kami. Jika telah terjadi maka kami akan berijtihad untukmu menurut pendapat kami’.”
Selain itu, Umar RA sempat memuji Ubai dan bersikap sopan kepadanya serta berhakim kepadanya.
Ubai bin Ka’ab meninggal dunia pada masa kekhalifahan Umar RA.
Diriwayatkan dari Al Hasan, bahwa Umar bin Khaththab pernah menyuruh orang-orang agar shalat berjamaah bersama Ubai pada bulan Ramadhan. Dia kemudian shalat bersama mereka sebanyak dua puluh rakaat.
Ubai juga pernah menemukan kantong berisi seratus dinar, lalu dia mengumumkannya selama satu tahun, dan setelah tidak ada yang mengakuinya ia baru mengambilnya.
------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Comments

Popular posts from this blog

Wa`il bin Hujur bin Sa’ad

Dia adalah Abu Hunaidah Al Hadrami, seorang bangsawan dan pembesar kaumnya. Dia pernah menjadi utusan. Dia juga meriwayatkan hadits. Ketika Mu’awiyah datang ke Kufah, dia menemui Mu’awiyah lalu membai’atnya. Diriwayatkan oleh Alqamah bin Wa‘il dari ayahnya, bahwa Wa‘il pernah mengirim seorang delegasi kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau memberinya sebidang tanah. Beliau menyuruh Mu’awiyah bin Abu Sufyan agar ikut bersamanya untuk menunjukkan tanah tersebut.

Abu Qatadah Al Anshari As-Sulami

Dia dikenal sebagai ksatria berkuda Rasulullah SAW, yang turut dalam perang Uhud dan perjanjian Hudaibiyah.  Dia bernama asli Al Harits bin Rib’i, Ali Ash-Shahih. Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ meriwayatkan dari ayahnya, dari Nabi SAW, beliau bersabda,  “Pasukan berkuda kami yang terbaik adalah Abu Qatadah, sedangkan pasukan pejalan kaki kami yang terbaik adalah Salamah bin Al Akwa’.”

Ibnu Tumart

Dia adalah Seorang ahli fikih, ushul, seorang yang zuhud, julukannya adalah Asy-Syaikh Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin tumart Al Barbari Al Mashmudi Al Harghi. Dia muncul di Maroko, mengaku sebagai keturunan Ali dari Hasan, dia adalah Imam Mahdi yang ma’shum dan dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Hud bin Khalid bin Tamam bin Adnan bin Shafwan bin Jabir bin Yahya bin Rabah bin Yasar bin Al Abbas bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Imam Ali bin Abu Thalib. Dia pergi dari Sus Al Aqsha menuju timur. Dia menunaikan ibadah haji, belajar fikih dan menguasai beberapa disiplin ilmu. Dia adalah sosok yang gemar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dia orang yang besar jiwanya, berani, berwibawa, pejuang kebenaran, bersikeras untuk mendapat kekuasaan, dan menyimpang dalam kepemimpinannya. Dia sosok yang berwibawa, agung, dan disegani. Para pengikutnya mematuhinya. Mereka menguasai banyak kota dan mengalahkan banyak raja. Dia belajar dari Ilkiya Al Harrasi dan Ab...