Skip to main content

Amir Al Juyusy


Dia adalah Al Malik Al Afdhal Abu Al Qasim Syahinsyah bin Al Malik Amir Al Juyusy Badr Al Jamali Al Armini.
Ayahnya adalah seorang pejabat di Akka. Dia berjalan menuju pesisir untuk merenovasi negeri Al Mustanshir Al Ubaidi dan menguasai daerah itu. Dia membasmi banyak Amir dan raja-raja menyerangnya hingga dia meninggal. Putranya (Al Afdhal) menggantikan posisinya. Dia adalah tokoh besar. Dia membunuh Nazar putra Al Mustanshir seorang da’i Bathiniyyah dan Atabik Aftakin penguasa pelabuhan. Dia adalah pahlawan pemberani, berwibawa dan mempunyai derajat tinggi. Ketika Al Musta’li meninggal, kepemimpinan dipegang oleh putranya Al Amir. Al Amir adalah sosok fasik. Dia beberapa kali berusaha membunuh Al Afdhal. Dia mengutus orang untuk membunuhnya hingga mereka berhasil melukainya. Al Amir datang ke Al Afdhal menaruh belas kasihan kepadanya atas apa yang terjadi padanya. Ketika Al Afdhal meninggal, Al Amir mengambil semua hartanya. Al Amir tinggal di rumah Al Afdhal selama empat puluh hari. Para sekretaris Al Amir mencatat harta dan kekayaan Al Afdhal. Anak-anak Al Afdhal dipenjara. Al Afdhal berkuasa selama 28 tahun. Para Amir membencinya karena dia orang sunni. Dia pernah menyakiti mereka. Dulu dia orang yang adil, tapi setelah itu muncullah sifat zhalim dan bid’ah. Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh Al Makmun Al Batha‘ihi.
Mereka membunuh Al Afdhal pada tahun 515 Hijriyyah ketika dia berusia lima puluh delapan tahun.
Ibnu Khallikan di dalam buku sejarahnya berkata, “Penguasa negeri yang terpecah belah berkata, ‘Al Afdhal meninggalkan 600 juta dinar, 250 dirham, 70 ribu pakaian sutera, tiga puluh hewan tunggangan, perhiasan permata senilai dua belas ribu dinar dan sepuluh aula. Di dalam setiap aula terdapat kelipatan sepuluh paku emas. Di atas paku-paku itu ada sapu tangan yang dikencangkan, di situ terdapat stelan pakaian dan lima ratus kotak. Di dalam kotak tersebut terdapat kiswah dan barang berharga. Dia tidak meninggalkan budak, sapi dan kambing. Susu binatang peliharaannya dijual pada tahun itu dengan harga 30.000 dinar. 
Aku katakan, “Ini semua mungkin kecuali uang dinar dan dirham. Aku tidak sependapat dengan hal di atas. Tak diragukan lagi bahwa dia mengumpulkan uang sebanyak itu pasti dapat melemahkan tentara Mesir. Pada masa itu pasukan Eropa menguasai Quds, Akka, Shur, Tripoli dan daerah pesisir. Seandainya Amir Al Juyusy menggunakan seperempat hartanya saja, dia dapat mengumpulkan banyak tentara dan mampu menumpas bala tentara eropa. Tapi apa yang telah ditetapkan Allah pasti terjadi.
Abu Ya’la bin Al Qalanisi berkata, “Al Afdhal adalah orang yang lurus akidahnya. Dia seorang sunni yang baik reputasinya dan mulia etikanya.”
Setelah meninggalnya Al Amir, Amir Al Juyusy Abu Ali Ahmad bin Al Afdhal diangkat sebagai wazir. Dia sosok yang murah hati, ditaati, pahlawan pemberani dan penguasa sunni seperti ayah dan kakeknya. Dia bersikap keras terhadap Al Hafizh dan membatasi ruang geraknya. Orang Al Hafizh yang merupakan keturunan Eropa menentangnya, mencela dan akhirnya membunuhnya. Kemudian Yanis Al Hafizhi diangkat sebagai menteri. Abu Ali Ahmad sudah terlalu jauh membatasi ruang gerak Al Hafizh. Dia memindahkan barang-barang berharga istana ke rumahnya dan mengklaim bahwa itu harta ayahnya.
Sebuah pendapat mengatakan bahwa dia menyisihkan nama Al Hafizh dalam khuthbah dan melakukan khuthbah sendiri. Rakyat yang mayoritas Syi’ah lari darinya. Dia dibunuh ketika bermain bola pada tahun 526 H dan rakyat membai’at Al Hafizh. Yanis meninggal tiga tahun setelah itu. Kemudian Al Hafizh mengangkat Pangeran Hasan bin Al Hafizh sebagai menteri
----------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Comments

Popular posts from this blog

Wa`il bin Hujur bin Sa’ad

Dia adalah Abu Hunaidah Al Hadrami, seorang bangsawan dan pembesar kaumnya. Dia pernah menjadi utusan. Dia juga meriwayatkan hadits. Ketika Mu’awiyah datang ke Kufah, dia menemui Mu’awiyah lalu membai’atnya. Diriwayatkan oleh Alqamah bin Wa‘il dari ayahnya, bahwa Wa‘il pernah mengirim seorang delegasi kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau memberinya sebidang tanah. Beliau menyuruh Mu’awiyah bin Abu Sufyan agar ikut bersamanya untuk menunjukkan tanah tersebut.

Abu Qatadah Al Anshari As-Sulami

Dia dikenal sebagai ksatria berkuda Rasulullah SAW, yang turut dalam perang Uhud dan perjanjian Hudaibiyah.  Dia bernama asli Al Harits bin Rib’i, Ali Ash-Shahih. Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ meriwayatkan dari ayahnya, dari Nabi SAW, beliau bersabda,  “Pasukan berkuda kami yang terbaik adalah Abu Qatadah, sedangkan pasukan pejalan kaki kami yang terbaik adalah Salamah bin Al Akwa’.”

Ibnu Tumart

Dia adalah Seorang ahli fikih, ushul, seorang yang zuhud, julukannya adalah Asy-Syaikh Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin tumart Al Barbari Al Mashmudi Al Harghi. Dia muncul di Maroko, mengaku sebagai keturunan Ali dari Hasan, dia adalah Imam Mahdi yang ma’shum dan dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Hud bin Khalid bin Tamam bin Adnan bin Shafwan bin Jabir bin Yahya bin Rabah bin Yasar bin Al Abbas bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Imam Ali bin Abu Thalib. Dia pergi dari Sus Al Aqsha menuju timur. Dia menunaikan ibadah haji, belajar fikih dan menguasai beberapa disiplin ilmu. Dia adalah sosok yang gemar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dia orang yang besar jiwanya, berani, berwibawa, pejuang kebenaran, bersikeras untuk mendapat kekuasaan, dan menyimpang dalam kepemimpinannya. Dia sosok yang berwibawa, agung, dan disegani. Para pengikutnya mematuhinya. Mereka menguasai banyak kota dan mengalahkan banyak raja. Dia belajar dari Ilkiya Al Harrasi dan Ab...