Skip to main content

Ibnu Al Khadhibah


Dia adalah Asy-Syaikh Al Imam, Al Muhaddits Al Hafizh, Ash-Shadiq Al Qudwah, Barakat Al Muhadditsin Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Abdul Baqi Al Baghdadi Ad-Daqqaq yang biasa dikenal dengan sebutan Ibnu Al Khadhibah. 
Dia banyak membacakan hadits dan termasuk ulama hadits terkemuka di Baghdad. Dia menulis hadits dan mentakhrijnya. Dia termasuk ulama yang cukup bagus di dalam hadits, mempunyai komitmen agama yang kuat, fasih dan bagus bacaannya. 
Ada banyak orang yang meriwayatkan hadits darinya. Dia meninggal sebelum menginfakkan apa yang dia riwayatkan.
Abu Ali Ash-Shadafi berkata, “Abu Bakar adalah ulama yang dicintai, mulia dan dikenang banyak orang. Aku belum pernah melihat ulama seperti dia. Setiap orang yang ingin meminjam bukunya ia pasti memberinya atau menunjukkkannya.”
Abu Sa’ad As-Sam’ani berkata, “Ibnu Al Khadhibah menulis ulang Shahih Muslim sebanyak tujuh kali.”
Muhammad bin Ath-Thahir berkata, “Tak ada seorang pun yang lebih bagus bacaannya dalam menelaah hadits pada waktu itu dari pada Ibnu Al Khadhibah. Jika seseorang mendengar bacaannya selama dua hari, ia tidak akan bosan.”
Ibnu Ath-Thahir berkata, “Aku belajar dari Ibnu Al Khadhibah, aku sebutkan kepadanya bahwa beberapa orang dari keluarga Bani Hasyim menceritakan kepadaku di Ashfahan bahwa Abu Al Husain bin Al Muhtadi Billah mengikuti madzhab Mu’tazilah. Dia berkata, ‘Aku tidak tahu. Tetapi aku akan ceritakan kepadamu. Ketika terjadi bencana banjir, rumahku roboh menimpa pakaian dan bukuku. Aku tidak mempunyai apa-apa, sedangkan aku masih memiliki ibu, istri dan beberapa putri. Aku menulis dan memberi nafkah mereka dari tulisanku. Aku tahu bahwa aku menulis Shahih Muslim sebanyak tujuh kali pada waktu itu. Pada suatu malam, aku bermimpi melihat hari kiamat telah tiba. Ada suara menyeru, ‘Di mana Ibnu Al Khadhibah?’ Kemudian aku dihadirkan. Dia berkata kepadaku, ‘Masuklah ke surga!’ Ketika aku masuk pintu surga dan aku berada di dalam, aku tidur bersandar pada punggungku dan aku letakkan satu kakiku di atas yang lain. Aku berkata, ‘Demi Allah aku istirahat dari menulis.’ Aku angkat kepalaku dan tiba-tiba ada bighal di tangan seorang pria. Aku bertanya, ‘Milik siapa ini?’ Dia menjawab, ‘Milik Asy-Syarif Abu Al Husain.’ Ketika aku terbangun, kami mendapat berita kematian Asy-Syarif. 
Abu Al Qasim bin Asakir berkata, “Aku mendengar Abu Al Fadhl Muhammad bin Muhammad bin Aththaf bercerita bahwa muncul jari tambahan pada seorang putra orang besar di Baghdad. Dia merasa kesakitan. Ibnu Al Khadhibah masuk dan mengusap jari tersebut, dan berkata, ‘Masalah kecil.’ Ketika malam tiba ia tidur dan terbangun. Dia melihat jari tersebut telah putus sebagaimana Ibnu Al Khadhibah katakan.”
Ibnu Al Khadhibah meninggal pada tahun 489 H. Jenazahnya dikenang banyak orang dan mereka mengkhatamkan bacaan Al Qur‘an beberapa kali di makamnya.
------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Comments

Popular posts from this blog

Wa`il bin Hujur bin Sa’ad

Dia adalah Abu Hunaidah Al Hadrami, seorang bangsawan dan pembesar kaumnya. Dia pernah menjadi utusan. Dia juga meriwayatkan hadits. Ketika Mu’awiyah datang ke Kufah, dia menemui Mu’awiyah lalu membai’atnya. Diriwayatkan oleh Alqamah bin Wa‘il dari ayahnya, bahwa Wa‘il pernah mengirim seorang delegasi kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau memberinya sebidang tanah. Beliau menyuruh Mu’awiyah bin Abu Sufyan agar ikut bersamanya untuk menunjukkan tanah tersebut.

Abu Qatadah Al Anshari As-Sulami

Dia dikenal sebagai ksatria berkuda Rasulullah SAW, yang turut dalam perang Uhud dan perjanjian Hudaibiyah.  Dia bernama asli Al Harits bin Rib’i, Ali Ash-Shahih. Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ meriwayatkan dari ayahnya, dari Nabi SAW, beliau bersabda,  “Pasukan berkuda kami yang terbaik adalah Abu Qatadah, sedangkan pasukan pejalan kaki kami yang terbaik adalah Salamah bin Al Akwa’.”

Ibnu Tumart

Dia adalah Seorang ahli fikih, ushul, seorang yang zuhud, julukannya adalah Asy-Syaikh Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin tumart Al Barbari Al Mashmudi Al Harghi. Dia muncul di Maroko, mengaku sebagai keturunan Ali dari Hasan, dia adalah Imam Mahdi yang ma’shum dan dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Hud bin Khalid bin Tamam bin Adnan bin Shafwan bin Jabir bin Yahya bin Rabah bin Yasar bin Al Abbas bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Imam Ali bin Abu Thalib. Dia pergi dari Sus Al Aqsha menuju timur. Dia menunaikan ibadah haji, belajar fikih dan menguasai beberapa disiplin ilmu. Dia adalah sosok yang gemar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dia orang yang besar jiwanya, berani, berwibawa, pejuang kebenaran, bersikeras untuk mendapat kekuasaan, dan menyimpang dalam kepemimpinannya. Dia sosok yang berwibawa, agung, dan disegani. Para pengikutnya mematuhinya. Mereka menguasai banyak kota dan mengalahkan banyak raja. Dia belajar dari Ilkiya Al Harrasi dan Ab...