Ayahnya berasal dari kampung di daerah Zabid, tempat orang-orang shalih. Di tempat itu Ali tumbuh dan berkembang. Semasa hidupnya dia memilih kehidupan zuhud. Dia pernah menunaikan ibadah haji dan bertemu dengan banyak ulama, maka ia pun memperoleh ilmu dari mereka, kemudian dia mulai memberi nasihat. Dia tidak menyukai tentara. Dia adalah ulama yang fashih, bersih wajahnya, tinggi postur tubuhnya, bersuara indah, banyak hafalannya, menjalani kehidupan sufi, memiliki tempat tidur yang tidak bagus, selalu ditimpa musibah, berbicara sesuai dengan bisikan hati nuraninya sehingga dapat menyentuh orang. Dia setiap hari memberikan nasihat dan dia suka melakukan hal tersebut. Umarah Al Yamani berkata, “Aku pernah bersamanya selama satu tahun, aku meninggalkan pelajaranku dan mulai disibukkan dengan ibadah. Kemudian ayahku mengembalikanku lagi ke sekolah. Aku terus mengunjunginya sebulan sekali. Dan ketika keadaannya menjadi gawat, akhirnya aku meninggalkannya.” Sejak tahun 530 H, dia ...
Menyelami kehidupan para sahabat, tabi'in, tabi'ut-tabi'in dan juga ulama-ulama pengarang buku-buku Islam popular dunia.