Skip to main content

Abu Muhammad bin Iyadh Al Mujahid


Namanya adalah Abdullah, seorang pejuang di jalan Allah, ksatria Andalusia, kepiawaiannya dalam berperang sudah dikenal oleh penduduk Andalusia timur.
Abdul Wahid bin Ali Al Marrakusyi berkata, “Abu Muhammad bin Iyadh adalah seorang senior ulama pada masanya, telah sampai kepadaku suatu kabar bahwa doanya selalu mustajab, hatinya lembut, dan ia sangat mudah menangis, suatu ketika orang-orang Nashrani menyerbunya sebanyak seratus orang, tetapi Allah SWT melindunginya, sampai tibalah ajalnya, semoga Allah SWT merahmatinya.”
Al Yasa’ bin Hazm berkata dalam kitab Akhbar Al Maghrib, “Abu Muhammad Abdullah bin Iyadh adalah seorang yang sangat pemberani ketika menunggang kuda, dan juga ia merupakan seorang ksatria, suatu ketika bangsa Eropa menyerang kami, merekapun memanahi kami, tetapi dengan cepat Ibnu Iyadh menaungi kami dari panah-panah mereka, padahal jumlah mereka sebanyak seratus ribu pasukan berkuda, dan pasukan infanteri sebanyak 200 ribu atau lebih, tenda-tenda mereka berjumlah kurang lebih empat ratus tenda, pengepungan terhadap kami semakin gencar mereka lakukan, maka kami coba untuk melawan mereka dengan dua ratus pasukan, tanpa disangka kami menuai kemenangan, kami berhasil membunuh dan memecah belah mereka,untuk sementara kami berlindung di dalam benteng Zaitun, untuk melanjutkan perjalanan ke Valencia.”
Al Yasa’ berkata, Mas’ud bin Izzunnas berkata, “Bagiku Ibnu Iyadh adalah seorang pemuda yang masih belia, tetapi ia telah menentang bangsa Romawi dan menaklukan musuh-musuhnya yang berada di tanah Andalusia, seorang pasukan Romawi menghampirinya, namun Ibnu Iyadh dapat menaklukannya hanya dengan sekali tebas, aku pikir pasukan Romawi itu bergetar persendiannya, kemudian Ibnu Iyadh memegang pinggangnya dan aku melihat darah bermuncratan dari balik jari tangan Ibnu Iyadh, lalu ia hempaskan prajurit Romawi itu ke tanah dan bertebaranlah isi kepala prajurit tersebut.”
Ada kisah lain yang menyatakan bahwa seorang prajurit dari pasukan berkuda Romawi telah berdiri tegak di hadapan komplotannya untuk meminta berduel dengan para pasukan muslim, maka keluarlah Ibnu Iyadh dengan mengenakan baju yang panjang lengannya dan telah dimasukkan batu-batu yang telah dibungkus di dalam lengan baju tersebut, kemudian ia mengikat ujung lengan baju tersebut, lalu ia dengan gagah menyandang pedangnya, lawannya -prajurit Romawi- bersenjata lengkap, Ibnu Iyadh mendorong musuhnya terlebih dahulu, musuhnya pun mencoba untu menikam  Ibnu Iyadh, pertarungan yang sangat sengit, pedang dan tombak saling beradu, di saat seperti itu Ibnu Iyadh membuka ikatan lengannya yang telah diisi batu, seketika itu batu-batu tersebut mengenai kepala prajurit Romawi, dan berceceranlah isi kepalanya, kami semua tercengang melihat kejadian tersebut, kami pun bertakbir, telah masyhur kepiawaian Ibnu Iyadh ketika itu, bahwa ia bertempur di umurnya yang masih belia, aku selalu menyertainya di setiap pertempurannya, di setiap gerakannya seakan-akan ia adalah benteng yang sangat kokoh.
Aku katakan, “Ibnu Iyadh memiliki posisi yang kokoh, ia merupakan pahlawan pada masanya sampai era 540-an Hijriyyah, yang menggantikan setelahnya adalah pelayannya yang bernama Muhammad bin Sa’ad di Mardanisy, ia diangkat oleh kaum muslimin sebagai khalifah untuk menggantikan Ibnu Iyadh ketika Ibnu Iyadh dijemput ajalnya, Muhammad bin Sa’ad menjadi khalifah sampai tahun 568 H.”
Al Yasa’ berkata dalam kitab Tarikh Al Maghrib, “Aku menjadikan Ibnu Iyadh sebagai pelayanku, kemudian ia menjadi juru tulisku,” kemudian ia juga menyebutkan bahwa Ibnu Iyadh menyerbu Barcelona, dan kaum muslimin meraih kemenangan di sana, ketika pasukan muslim beristirahat dan ingin minum air di sungai, Ibnu Iyadh pun menanggalkan baju besinya, sementara sebanyak kurang lebih lima ratus pasukan Romawi yang berada di hutan perlahan-lahan menuju sungai untuk membantai pasukan muslim, dengan cepat Ibnu Iyadh kembali ke pasukannya dan memerintahkan agar memanah pasukan Romawi yang sedang berada di hutan, Ibnu Iyadh terkena panah di bagian punggungnya, panah tersebut baru dikeluarkannya setelah ia membasmi seluruh pasukan Romawi yang berjumlah lima ratusan tersebut, anak panah yang tertancap mengenai syaraf punggungnya, sebelum kematiannya ia sempat menduduki Mursiyah110 selama empat tahun, kaum muslim sangat merasa kehilangannya.              

Comments

Popular posts from this blog

Wa`il bin Hujur bin Sa’ad

Dia adalah Abu Hunaidah Al Hadrami, seorang bangsawan dan pembesar kaumnya. Dia pernah menjadi utusan. Dia juga meriwayatkan hadits. Ketika Mu’awiyah datang ke Kufah, dia menemui Mu’awiyah lalu membai’atnya. Diriwayatkan oleh Alqamah bin Wa‘il dari ayahnya, bahwa Wa‘il pernah mengirim seorang delegasi kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau memberinya sebidang tanah. Beliau menyuruh Mu’awiyah bin Abu Sufyan agar ikut bersamanya untuk menunjukkan tanah tersebut.

Abu Qatadah Al Anshari As-Sulami

Dia dikenal sebagai ksatria berkuda Rasulullah SAW, yang turut dalam perang Uhud dan perjanjian Hudaibiyah.  Dia bernama asli Al Harits bin Rib’i, Ali Ash-Shahih. Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ meriwayatkan dari ayahnya, dari Nabi SAW, beliau bersabda,  “Pasukan berkuda kami yang terbaik adalah Abu Qatadah, sedangkan pasukan pejalan kaki kami yang terbaik adalah Salamah bin Al Akwa’.”

Ibnu Tumart

Dia adalah Seorang ahli fikih, ushul, seorang yang zuhud, julukannya adalah Asy-Syaikh Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin tumart Al Barbari Al Mashmudi Al Harghi. Dia muncul di Maroko, mengaku sebagai keturunan Ali dari Hasan, dia adalah Imam Mahdi yang ma’shum dan dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Hud bin Khalid bin Tamam bin Adnan bin Shafwan bin Jabir bin Yahya bin Rabah bin Yasar bin Al Abbas bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Imam Ali bin Abu Thalib. Dia pergi dari Sus Al Aqsha menuju timur. Dia menunaikan ibadah haji, belajar fikih dan menguasai beberapa disiplin ilmu. Dia adalah sosok yang gemar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dia orang yang besar jiwanya, berani, berwibawa, pejuang kebenaran, bersikeras untuk mendapat kekuasaan, dan menyimpang dalam kepemimpinannya. Dia sosok yang berwibawa, agung, dan disegani. Para pengikutnya mematuhinya. Mereka menguasai banyak kota dan mengalahkan banyak raja. Dia belajar dari Ilkiya Al Harrasi dan Ab...