Skip to main content

Ibnu Ath-Thallayah


Dia adalah syaikh yang jujur, zuhud, menjadi panutan dan merupakan keberkahan bagi kaum muslimin, Abu Al Abbas Ahmad bin Abu Ghalib, dikenal dengan Ibnu Ath-Thallayah,113 Al Kaghidy Al Baghdadi. Lahir pada tahun 462 H.
As-Sam’ani berkata, “Dia adalah seorang syaikh besar, menghabiskan umurnya untuk beribadah, sering melaksanakan shalat malam dan berpuasa. Seakan-akan tidak ada satu jam pun dari umurnya yang terlewatkan kecuali untuk beribadah. Karena sering beribadah, tubuhnya menjadi agak bungkuk, hingga tidak jelas perbedaan antara berdirinya dan ruku’nya kecuali sedikit sekali. Dia telah hafal Al Quran, dan tidak menerima sesuatu pun dari seseorang. Dia mencukupkan dirinya dengan persediaan yang dimilikinya.”
Abu Al Muzhaffar bin Al Jauzi berkata, “Aku mendengar bahwa para syaikh bercerita tentang orang tua dan kakek mereka, bahwa sultan Mas’ud apabila datang ke Baghdad, ia gemar berziarah kepada para ulama dan orang-orang shalih. Maka ia meminta kedatangan Ibnu Ath-Thallayah. Ia berkata kepada seorang utusan: Aku berada di dalam masjid, sedang menunggu orang yang selalu beribadah pada waktu siang sebanyak lima kali. Maka berangkatlah utusan tersebut. Sultan berkata pada dirinya: Seharusnya aku sendiri yang berjalan menemuinya. Sultan pun pergi menziarahinya, kemudian ia melihatnya sedang mengerjakan shalat Dhuha, dan ia memanjangkan shalatnya dengan membaca Al Quran delapan juz. Sultan ikut shalat bersamanya di sebagian rakaatnya. Seorang pelayan berkata kepadanya, “Sultan telah datang untuk menemuimu.” Ibnu Ath-Thallayah berkata, “Di mana Mas’ud?” Sultan menjawab, “Aku ada di sini.” Ibnu Ath-Thallayah berkata, “Wahai Mas’ud, berbuatlah adil, dan berdoalah untukku, Allah Maha besar. Kemudian sultan mengerjakan shalat dan ia menangis. Ia menulis di atas kertas dengan tangannya sendiri berjanji untuk menghilangkan pemungutan pajak, dan ia bertobat dengan tobat yang sebenar-benarnya.”
Ibnu Ath-Thallayah meninggal pada tahun 548 H. jenazahnya diangkat di atas kepala, tidak ada seorang pun yang menyamainya sepeninggalnya.

Comments

Popular posts from this blog

Wa`il bin Hujur bin Sa’ad

Dia adalah Abu Hunaidah Al Hadrami, seorang bangsawan dan pembesar kaumnya. Dia pernah menjadi utusan. Dia juga meriwayatkan hadits. Ketika Mu’awiyah datang ke Kufah, dia menemui Mu’awiyah lalu membai’atnya. Diriwayatkan oleh Alqamah bin Wa‘il dari ayahnya, bahwa Wa‘il pernah mengirim seorang delegasi kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau memberinya sebidang tanah. Beliau menyuruh Mu’awiyah bin Abu Sufyan agar ikut bersamanya untuk menunjukkan tanah tersebut.

Abu Qatadah Al Anshari As-Sulami

Dia dikenal sebagai ksatria berkuda Rasulullah SAW, yang turut dalam perang Uhud dan perjanjian Hudaibiyah.  Dia bernama asli Al Harits bin Rib’i, Ali Ash-Shahih. Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ meriwayatkan dari ayahnya, dari Nabi SAW, beliau bersabda,  “Pasukan berkuda kami yang terbaik adalah Abu Qatadah, sedangkan pasukan pejalan kaki kami yang terbaik adalah Salamah bin Al Akwa’.”

Ibnu Tumart

Dia adalah Seorang ahli fikih, ushul, seorang yang zuhud, julukannya adalah Asy-Syaikh Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin tumart Al Barbari Al Mashmudi Al Harghi. Dia muncul di Maroko, mengaku sebagai keturunan Ali dari Hasan, dia adalah Imam Mahdi yang ma’shum dan dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Hud bin Khalid bin Tamam bin Adnan bin Shafwan bin Jabir bin Yahya bin Rabah bin Yasar bin Al Abbas bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Imam Ali bin Abu Thalib. Dia pergi dari Sus Al Aqsha menuju timur. Dia menunaikan ibadah haji, belajar fikih dan menguasai beberapa disiplin ilmu. Dia adalah sosok yang gemar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dia orang yang besar jiwanya, berani, berwibawa, pejuang kebenaran, bersikeras untuk mendapat kekuasaan, dan menyimpang dalam kepemimpinannya. Dia sosok yang berwibawa, agung, dan disegani. Para pengikutnya mematuhinya. Mereka menguasai banyak kota dan mengalahkan banyak raja. Dia belajar dari Ilkiya Al Harrasi dan Ab...