Skip to main content

Shuhaib bin Sinan


Dia adalah Abu Yahya An-Namir bin Qasith. Dia dikenal dengan sebutan Ar-Rumi karena ia pernah tinggal di Romawi beberapa waktu. 
Dia adalah penduduk Al Jazirah yang ditawan di sebuah desa yang bernama Ninawa. Ayah dan pamannya bekerja untuk Kisra. Kemudian dia dibawa ke Makkah lalu dibeli oleh Abdullah bin Jud’an Al Qurasyi At-Taimi.
Dia termasuk As-Sabiquna Al Awwalun dan pejuang perang Badar. Selain itu, dia sosok yang terpandang dan berwibawa. Ketika Umar terkena musibah, dia meminta Shuhaib untuk memimpin shalat jamaah bersama kaum muslim, hingga para dewan musyawarah sepakat untuk menjadikannya sebagai imam karena sifatnya yang mulia dan pemaaf.
Dia merupakan sahabat yang berusaha menghindar dari fitnah, dan hal ini sesuai dengan keadaannya.
Diriwayatkan dari Al Hasan, bahwa Rasulullah SAW bersabda,                صُهَيْبٌ سَابِقُ الرُّوْمٍ “Shuhaib adalah pendahulu Romawi.” 
Hal ini dijelaskan dalam riwayat yang shahih, dari hadits Abu Umamah, Anas, dan Ummu Hani‘.
Diriwayatkan dari Abu Utsman, bahwa ketika Shuhaib akan hijrah, para penduduk Makkah berkata kepadanya, “Kamu dulu datang kepada kami dalam keadaan lemah dan fakir, sekarang keadaanmu telah berubah!” Shuhaib kemudian berkata, “Bagaimana pendapat kalian jika aku meninggalkan hartaku, apakah kalian akan melepaskanku?” Mereka menjawab, “Ya.” Shuhaib pun meninggalkan hartanya untuk mereka. Ketika kabar tersebut sampai kepada Nabi SAW, beliau bersabda, “Shuhaib beruntung, Shuhaib beruntung!”
Diriwayatkan dari Shuhaib, dia berkata, “Aku pernah memberikan pakaian kepada Rasulullah SAW. Di tengah perjalanan, saat aku terkena penyakit mata dan merasa lapar, beliau membawakanku buah kurma yang baru masak, maka aku pun mengambilnya (memakannya). Umar lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak melihat bahwa Shuhaib memakan buah kurma padahal dia sedang sakit mata.” Rasulullah SAW bersabda, “Buah itu milikku.” Aku berkata, “Aku memakannya untuk sebelah mataku yang sehat.” Mendengar itu, Umar tersenyum. 
Diriwayatkan dari A‘idz bin Umar, bahwa suatu ketika Salman, Shuhaib, dan Bilal sedang duduk santai, kemudian Abu Sufyan lewat di depan mereka. Mereka lantas berkata, “Pedang Allah tidak akan membunuh leher musuh Allah kecuali pada tempatnya nanti.” Mendengar itu, Abu Bakar berkata, “Apakah kalian berkata seperti itu kepada pemimpin dan pemuka Quraisy?” Setelah itu Nabi SAW diberitahukan perihal masalah itu, dan beliau bersabda, “Wahai Abu Bakar, mungkin engkau telah membuat mereka marah, Jika engkau membuat mereka marah, berarti engkau telah membuat Tuhanmu marah.” Abu Bakar kemudian menemui mereka dan berkata, “Wahai saudara-saudaraku, apakah kalian marah?” Mereka menjawab, “Tidak wahai Abu Bakar, semoga Allah mengampuni dosamu.”
Shuhaib meninggal di Madinah pada tahun 38 Hijriyah dalam usia 70 tahun.

Comments

Popular posts from this blog

Wa`il bin Hujur bin Sa’ad

Dia adalah Abu Hunaidah Al Hadrami, seorang bangsawan dan pembesar kaumnya. Dia pernah menjadi utusan. Dia juga meriwayatkan hadits. Ketika Mu’awiyah datang ke Kufah, dia menemui Mu’awiyah lalu membai’atnya. Diriwayatkan oleh Alqamah bin Wa‘il dari ayahnya, bahwa Wa‘il pernah mengirim seorang delegasi kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau memberinya sebidang tanah. Beliau menyuruh Mu’awiyah bin Abu Sufyan agar ikut bersamanya untuk menunjukkan tanah tersebut.

Abu Qatadah Al Anshari As-Sulami

Dia dikenal sebagai ksatria berkuda Rasulullah SAW, yang turut dalam perang Uhud dan perjanjian Hudaibiyah.  Dia bernama asli Al Harits bin Rib’i, Ali Ash-Shahih. Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ meriwayatkan dari ayahnya, dari Nabi SAW, beliau bersabda,  “Pasukan berkuda kami yang terbaik adalah Abu Qatadah, sedangkan pasukan pejalan kaki kami yang terbaik adalah Salamah bin Al Akwa’.”

Ibnu Tumart

Dia adalah Seorang ahli fikih, ushul, seorang yang zuhud, julukannya adalah Asy-Syaikh Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin tumart Al Barbari Al Mashmudi Al Harghi. Dia muncul di Maroko, mengaku sebagai keturunan Ali dari Hasan, dia adalah Imam Mahdi yang ma’shum dan dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Hud bin Khalid bin Tamam bin Adnan bin Shafwan bin Jabir bin Yahya bin Rabah bin Yasar bin Al Abbas bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Imam Ali bin Abu Thalib. Dia pergi dari Sus Al Aqsha menuju timur. Dia menunaikan ibadah haji, belajar fikih dan menguasai beberapa disiplin ilmu. Dia adalah sosok yang gemar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dia orang yang besar jiwanya, berani, berwibawa, pejuang kebenaran, bersikeras untuk mendapat kekuasaan, dan menyimpang dalam kepemimpinannya. Dia sosok yang berwibawa, agung, dan disegani. Para pengikutnya mematuhinya. Mereka menguasai banyak kota dan mengalahkan banyak raja. Dia belajar dari Ilkiya Al Harrasi dan Ab...