Skip to main content

Ubadah bin Ash-Shamit


Dia adalah Ibnu Qais.Abu Al Walid Al Anshari.
Dia adalah sosok pemimpin, panutan, salah seorang pemimpin pada malam Aqabah, dan pejuang perang Badar.
Dia bertempat tinggal di Baitul Maqdis.
Selain itu, dia mengikut seluruh peperangan yang pernah diikuti Rasulullah SAW.
Diriwayatkan dari Ishaq bin Qabishah bin Dzu‘aib, dari ayahnya, bahwa Ubadah tidak mengakui apa pun dari Mu’awiyah, dia berkata, “Aku tidak akan menempatkanmu di bumi.” Setelah itu dia pergi ke Madinah. Sesampainya di Madinah Umar bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu datang kemari?” Dia kemudian menceritakan kepadanya tentang perbuatan Mu’awiyah. Mendengar itu, Umar berkata kepadanya, “Kembalilah ke tempatmu, sehingga Allah tidak memburukkan daerah yang tidak dihuni olehmu dan orang-orang seperti dirmu. Dia juga tidak berhak memerintahmu.”
Diriwayatkan dari Ismail bin Ubaid bin Rifa’ah, dari ayahnya, bahwa rombongan unta yang membawa khamer melewati Ubadah bin Ash-Shamit ketika dia sedang berada di Syam. Dia berkata, “Apa ini, minyak?” Ada yang menjawab, “Bukan, tetapi khamer yang dijual kepada si fulan.” Dia lalu langsung mengambil pedang menuju pasar dan berdiri di tengah-tengahnya. Dia kemudian tidak membiarkan satu kedai minum pun di dalam pasar tersebut. Pada saat itu Abu Hurairah berada di Syam, maka dia berkata kepada Ubadah, “Wahai Ubadah, ada masalah apa kamu dengan Mu’awiyah? Biarkan saja dia melakukan apa pun.” Dia menjawab, “Kami telah membai’atnya untuk mendengar dan taat serta melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Kami juga tidak takut dicela siapa pun demi menegakkan kalimat Allah.” Mendengar itu, Abu Hurairah terdiam. 
Setelah itu ada seseorang menulis surat kepada Utsman, “Sesungguhnya Ubadah telah merusakku di Syam.” 
Diriwayatkan dari Al Walid bin Muslim, bahwa Utsman bin Atikah menceritakan kepada kami, bahwa suatu saat Ubadah bin Ash-Shamit melewati desa Dummar,109 kemudian dia menyuruh pembantunya memotong kayu siwak dari pohon Shifshaf di atas sungai Barada. Pembantu itu pun segera mengerjakan perintahnya. Setelah pembantu tersebut datang dengan membawa permintaannya, Ubadah berkata, “Kembalikan, jika siwak itu tidak kamu beli, karena dia tidak akan berguna.” Dia akhirnya membeli kayu tersebut.
Ubadah bin Ash-Shamit meninggal di Ramlah pada tahun 34 Hijriyah dalam usia 72 tahun.

Comments

Popular posts from this blog

Wa`il bin Hujur bin Sa’ad

Dia adalah Abu Hunaidah Al Hadrami, seorang bangsawan dan pembesar kaumnya. Dia pernah menjadi utusan. Dia juga meriwayatkan hadits. Ketika Mu’awiyah datang ke Kufah, dia menemui Mu’awiyah lalu membai’atnya. Diriwayatkan oleh Alqamah bin Wa‘il dari ayahnya, bahwa Wa‘il pernah mengirim seorang delegasi kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau memberinya sebidang tanah. Beliau menyuruh Mu’awiyah bin Abu Sufyan agar ikut bersamanya untuk menunjukkan tanah tersebut.

Abu Qatadah Al Anshari As-Sulami

Dia dikenal sebagai ksatria berkuda Rasulullah SAW, yang turut dalam perang Uhud dan perjanjian Hudaibiyah.  Dia bernama asli Al Harits bin Rib’i, Ali Ash-Shahih. Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ meriwayatkan dari ayahnya, dari Nabi SAW, beliau bersabda,  “Pasukan berkuda kami yang terbaik adalah Abu Qatadah, sedangkan pasukan pejalan kaki kami yang terbaik adalah Salamah bin Al Akwa’.”

Ibnu Tumart

Dia adalah Seorang ahli fikih, ushul, seorang yang zuhud, julukannya adalah Asy-Syaikh Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin tumart Al Barbari Al Mashmudi Al Harghi. Dia muncul di Maroko, mengaku sebagai keturunan Ali dari Hasan, dia adalah Imam Mahdi yang ma’shum dan dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Hud bin Khalid bin Tamam bin Adnan bin Shafwan bin Jabir bin Yahya bin Rabah bin Yasar bin Al Abbas bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Imam Ali bin Abu Thalib. Dia pergi dari Sus Al Aqsha menuju timur. Dia menunaikan ibadah haji, belajar fikih dan menguasai beberapa disiplin ilmu. Dia adalah sosok yang gemar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dia orang yang besar jiwanya, berani, berwibawa, pejuang kebenaran, bersikeras untuk mendapat kekuasaan, dan menyimpang dalam kepemimpinannya. Dia sosok yang berwibawa, agung, dan disegani. Para pengikutnya mematuhinya. Mereka menguasai banyak kota dan mengalahkan banyak raja. Dia belajar dari Ilkiya Al Harrasi dan Ab...