Skip to main content

Tamim Ad-Dari

Dia merupakan sahabat Rasulullah SAW, Abu Raqayyah, Tamim bin Aus bin Kharijah Al-Lakhmi Al Falisthini. 

Tamim Ad-Dari diutus sebagai delegasi pada tahun 9 Hijriyah, lalu masuk Islam. Setelah itu Nabi SAW bercerita tentang dirinya di atas mimbar dengan cerita yang menarik berkaitan dengan Dajjal.

Selain Tamim Ad-Dari meriwayatkan banyak hadits, dia juga seorang ahli ibadah dan banyak membaca Al Qur`an. 

Ibnu Said berkata, “Dia masih tinggal di Madinah sampai terbunuhnya Utsman, kemudian dia pindah ke Syam.”

Diriwayatkan dari Abu Al Muhallab, dia berkata, “Tamim Ad-Dari mengkhatamkan Al Qur`an saat berumur 7 tahun.”

Diriwayatkan dari Masruq, dia berkata, “Seorang pria Makkah pernah berkata kepadaku, ‘Ini adalah makam saudaramu Tamim Ad-Dari, dia shalat malam sampai datang waktu Subuh, lalu membaca beberapa ayat berulang-ulang, lantas menangis. Dia membaca firman Allah SWT,
   
“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (Qs. Al Jaatsiyah [45]: 21)

Diriwayatkan dari Al Munkadir bin Muhammad, dari ayahnya, dia berkata, “Tamim Ad-Dari pernah tidur pada malam hari hingga tidak sempat melaksanakan shalat Tahajud, maka dia tidak tidur malam selama satu tahun sebagai balasan atas perbuatannya tersebut.”

Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Tamim Ad-Dari pernah membeli sebuah serban seharga 1000 dirham, kemudian dia keluar lalu shalat.” 

Diriwayatkan dari Humaid bin Abdurrahman, bahwa Tamim Ad-Dari pernah meminta izin kepada Umar untuk menyampaikan cerita beberapa tahun lamanya, tetapi Umar tidak membolehkannya. Ketika sudah seringnya dia meminta, Umar berkata, ‘Apa yang kamu akan katakan?’ Dia menjawab, ‘Aku ingin mengajarkan Al Qur`an kepada mereka, memerintahkan mereka kepada kebaikan, dan mencegah mereka dari kejelekan’. Mendengar itu, Umar berkata, ‘Itulah keberuntungan’. Umar kemudian berkata, ‘Nasihatilah diriku sebelum aku keluar shalat Jum’at’. Tamim Ad-Dari pun memberikan nasihat kepadanya. Ketika Utsman meminta tambahan nasihat, dia menambahinya pada hari lain.”

Ada yang mengatakan bahwa telah ditemukan di atas permukaan kuburan Tamim Ad-Dari bahwa dia wafat tahun 40 Hijriyah. 

sumber: an-nubala

Comments

Popular posts from this blog

Wa`il bin Hujur bin Sa’ad

Dia adalah Abu Hunaidah Al Hadrami, seorang bangsawan dan pembesar kaumnya. Dia pernah menjadi utusan. Dia juga meriwayatkan hadits. Ketika Mu’awiyah datang ke Kufah, dia menemui Mu’awiyah lalu membai’atnya. Diriwayatkan oleh Alqamah bin Wa‘il dari ayahnya, bahwa Wa‘il pernah mengirim seorang delegasi kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau memberinya sebidang tanah. Beliau menyuruh Mu’awiyah bin Abu Sufyan agar ikut bersamanya untuk menunjukkan tanah tersebut.

Abu Qatadah Al Anshari As-Sulami

Dia dikenal sebagai ksatria berkuda Rasulullah SAW, yang turut dalam perang Uhud dan perjanjian Hudaibiyah.  Dia bernama asli Al Harits bin Rib’i, Ali Ash-Shahih. Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ meriwayatkan dari ayahnya, dari Nabi SAW, beliau bersabda,  “Pasukan berkuda kami yang terbaik adalah Abu Qatadah, sedangkan pasukan pejalan kaki kami yang terbaik adalah Salamah bin Al Akwa’.”

Ibnu Tumart

Dia adalah Seorang ahli fikih, ushul, seorang yang zuhud, julukannya adalah Asy-Syaikh Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin tumart Al Barbari Al Mashmudi Al Harghi. Dia muncul di Maroko, mengaku sebagai keturunan Ali dari Hasan, dia adalah Imam Mahdi yang ma’shum dan dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Hud bin Khalid bin Tamam bin Adnan bin Shafwan bin Jabir bin Yahya bin Rabah bin Yasar bin Al Abbas bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Imam Ali bin Abu Thalib. Dia pergi dari Sus Al Aqsha menuju timur. Dia menunaikan ibadah haji, belajar fikih dan menguasai beberapa disiplin ilmu. Dia adalah sosok yang gemar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dia orang yang besar jiwanya, berani, berwibawa, pejuang kebenaran, bersikeras untuk mendapat kekuasaan, dan menyimpang dalam kepemimpinannya. Dia sosok yang berwibawa, agung, dan disegani. Para pengikutnya mematuhinya. Mereka menguasai banyak kota dan mengalahkan banyak raja. Dia belajar dari Ilkiya Al Harrasi dan Ab...