Skip to main content

Buraidah bin Al Hushaib

Dia adalah putra Abdullah.

Ada yang mengatakan bahwa Buraidah bin Al Hushaib masuk Islam pada waktu hijrah, yaitu ketika Nabi SAW melewatinya saat hijrah. Dia turut dalam perang Khaibar dan penaklukkan Makkah sebagai pembawa bendera. Nabi SAW juga pernah mengangkatnya sebagai penarik zakat kaumnya.

Selain itu, Buraidah pernah membawa panji Usamah ketika dia memerangi negeri Al Balqa‘, setelah Rasulullah SAW meninggal dunia.
Dia tinggal di Marwa dan menyebarkan ilmu di sana.

Buraidah pernah tinggal di Bashrah beberapa waktu, kemudian ikut memerangi Khurasan pada masa Utsman. Seseorang yang mendengarnya bercerita bahwa dia berkata di belakang sungai Jihun, “Tidak ada kehidupan kecuali mengusir kuda dengan kuda.”


Ashim Al Ahwal berkata: Muwarriq berkata, “Buraidah pernah berwasiat agar di atas makamnya diletakkan dua lembar kertas. Lalu dia wafat di Khurasan.

Diriwayatkan dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya, dia berkata, “Aku telah menyaksikan perang Khaibar dan aku termasuk sahabat yang naik di atas benteng musuh. Lalu aku menyerang hingga tempatku kelihatan karena aku memakai baju merah. Setelah itu aku merasa tidak pernah melakukan dosa yang lebih besar darinya dalam Islam —yaitu kemasyhuran—.” 

Menurut aku, benar, tetapi orang-orang bodoh pada zaman sekarang menganggap perbuatan seperti itu sebagai jihad dan salah satu bentuk ibadah. Yang jelas, perbuatan seperti itu tergantung pada niatnya. Mungkin yang dilakukan Buraidah dengan memperlihatkan dirinya itu berniat untuk ibadah dan jihad. Begitu juga dengan amal shalih, jika seseorang membanggakannya maka perbuatan itu bisa berubah menjadi riya. Allah SWT berfirman,

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.” (Qs. Al Furqaan [25]: 23)
Dia wafat tahun 62 Hijriyah.

sumber : an-nubala

Comments

Popular posts from this blog

Wa`il bin Hujur bin Sa’ad

Dia adalah Abu Hunaidah Al Hadrami, seorang bangsawan dan pembesar kaumnya. Dia pernah menjadi utusan. Dia juga meriwayatkan hadits. Ketika Mu’awiyah datang ke Kufah, dia menemui Mu’awiyah lalu membai’atnya. Diriwayatkan oleh Alqamah bin Wa‘il dari ayahnya, bahwa Wa‘il pernah mengirim seorang delegasi kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau memberinya sebidang tanah. Beliau menyuruh Mu’awiyah bin Abu Sufyan agar ikut bersamanya untuk menunjukkan tanah tersebut.

Abu Qatadah Al Anshari As-Sulami

Dia dikenal sebagai ksatria berkuda Rasulullah SAW, yang turut dalam perang Uhud dan perjanjian Hudaibiyah.  Dia bernama asli Al Harits bin Rib’i, Ali Ash-Shahih. Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ meriwayatkan dari ayahnya, dari Nabi SAW, beliau bersabda,  “Pasukan berkuda kami yang terbaik adalah Abu Qatadah, sedangkan pasukan pejalan kaki kami yang terbaik adalah Salamah bin Al Akwa’.”

Ibnu Tumart

Dia adalah Seorang ahli fikih, ushul, seorang yang zuhud, julukannya adalah Asy-Syaikh Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin tumart Al Barbari Al Mashmudi Al Harghi. Dia muncul di Maroko, mengaku sebagai keturunan Ali dari Hasan, dia adalah Imam Mahdi yang ma’shum dan dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Hud bin Khalid bin Tamam bin Adnan bin Shafwan bin Jabir bin Yahya bin Rabah bin Yasar bin Al Abbas bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Imam Ali bin Abu Thalib. Dia pergi dari Sus Al Aqsha menuju timur. Dia menunaikan ibadah haji, belajar fikih dan menguasai beberapa disiplin ilmu. Dia adalah sosok yang gemar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dia orang yang besar jiwanya, berani, berwibawa, pejuang kebenaran, bersikeras untuk mendapat kekuasaan, dan menyimpang dalam kepemimpinannya. Dia sosok yang berwibawa, agung, dan disegani. Para pengikutnya mematuhinya. Mereka menguasai banyak kota dan mengalahkan banyak raja. Dia belajar dari Ilkiya Al Harrasi dan Ab...