Skip to main content

As-Saif

Dia adalah seorang yang alim sekaligus pengarang, saifuddin Ali bin Abu Ali bin Muhammad bin Salim At- Taghlibi Al Amidi Al Hanbali As Syafi’i.

Dia hidup selama 50 tahun lebih.

Aku katakan, “Dia mengajar filsafat dan manthiq di Mesir pada masjid Azh-Zhafiri, dia juga mengajar di Qubbah Assyafi’i, dia mengarang beberapa buku, lalu banyak orang berdatangan kepadanya, dan menuduhnya sebagai keburukan, lalu mereka menulisnya dalam sebuah kabar mengenai hal tersebut.

Al qadhi Ibnu Khallikan berkata, “Mereka berencana membunuhnya, kemudian dia keluar secara sembunyi-sembunyi, dan tinggal di Hamah.

As-Saif meninggal pada tahun 631 Hijriyah, pada usianya yang ke-80 tahun.

Cucu Al jauzi berkata, “Tidak seorang pun pada masanya yang mendukung pendapatnya dalam masalah Ashlain (dua dasar) dan ilmu kalam, dia adalah orang yang berbelas kasih dan mudah menangis, dia tinggal di Hamah dan juga di Damaskus. Dan yang mengherankan dari cerita tentangnya adalah seekor kucing miliknya telah mati, lalu dia menguburnya di Hamah, ketika dia tinggal di damaskus, dia memindahkan tulang kucing tersebut ke kantong dan menguburnya di Qasyun.”

Cucu Al Jauzi berkata, “Seluruh keturunan Adil membencinya karena dia terkenal dengan pengetahuannya dalam mantiq, dan dia masuk pada Mu’adzom dan dia tidak bergerak (untuk menghormatinya), kemudian aku berkata, ‘Berdirilah untuk menghormatinya  sebagai penggantiku,’ lalu dia berkata, ‘Hatiku tidak dapat menerimanya’.”

Qadhi Taqiyuddin Sulaiman bin Hamzah bercerita tentang gurunya, yaitu Ibnu Abu Umar, Dia berkata, “Kita sering datang pada As-Saif, dan kami ragu, apakah dia melakukan shalat atau tidak? Lalu dia tidur, dan kami mengetahi bahwa pada kakinya terdapat tinta, dan tanda tersebut masih ada hingga dua hari, sehingga kami tahu bahwa dia tidak pernah berwudhu, kami memohon keselamatan dalam perkara agama.”

Guru kami Ibnu Taimiyah berkata, “Al Amidi telah merasa bingung dan tidak dapat berbuat apa-apa, hingga akhirnya dia bertanya pada dirinya sendiri dalam masalah tasalsul Al ilal (sebab-sebab yang bersambung), dan dia menyangka bahwa dia tidak mengetahui jawabannya dan mendasarkan adanya pencipta pada hal itu, dia tidak menetapkan dalam bukunya adanya pencipta, diciptakannya alam, keesaan Allah, kenabian, dan dasar-dasar yang fundamental besar.”

Aku katakan, “Ini menunjukkan kesempurnaan fikirannya, karena penetapan hal itu dengan nalar tidak akan berkembang, akan tetapi bisa berkembang dengan Al Qur’an dan As-Sunah, dan juga dengan apa yang menjadi tujuan Saif, dan pengetahuanya yang mencapai titik pincak, Dan orang-orang besar berdatangan pada majelisnya.”

Ibnu Khallikan berkata, “Aku mendengar Abdussalam berkata, ‘Aku tidak pernah mendengar orang mengajar yang lebih baik dari As-Saif, seakan-akan dia sedang berkhutbah, dan dia mengagungkanya’.”

sumber an-nubala

Comments

Popular posts from this blog

Wa`il bin Hujur bin Sa’ad

Dia adalah Abu Hunaidah Al Hadrami, seorang bangsawan dan pembesar kaumnya. Dia pernah menjadi utusan. Dia juga meriwayatkan hadits. Ketika Mu’awiyah datang ke Kufah, dia menemui Mu’awiyah lalu membai’atnya. Diriwayatkan oleh Alqamah bin Wa‘il dari ayahnya, bahwa Wa‘il pernah mengirim seorang delegasi kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau memberinya sebidang tanah. Beliau menyuruh Mu’awiyah bin Abu Sufyan agar ikut bersamanya untuk menunjukkan tanah tersebut.

Abu Qatadah Al Anshari As-Sulami

Dia dikenal sebagai ksatria berkuda Rasulullah SAW, yang turut dalam perang Uhud dan perjanjian Hudaibiyah.  Dia bernama asli Al Harits bin Rib’i, Ali Ash-Shahih. Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ meriwayatkan dari ayahnya, dari Nabi SAW, beliau bersabda,  “Pasukan berkuda kami yang terbaik adalah Abu Qatadah, sedangkan pasukan pejalan kaki kami yang terbaik adalah Salamah bin Al Akwa’.”

Ibnu Tumart

Dia adalah Seorang ahli fikih, ushul, seorang yang zuhud, julukannya adalah Asy-Syaikh Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin tumart Al Barbari Al Mashmudi Al Harghi. Dia muncul di Maroko, mengaku sebagai keturunan Ali dari Hasan, dia adalah Imam Mahdi yang ma’shum dan dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Hud bin Khalid bin Tamam bin Adnan bin Shafwan bin Jabir bin Yahya bin Rabah bin Yasar bin Al Abbas bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Imam Ali bin Abu Thalib. Dia pergi dari Sus Al Aqsha menuju timur. Dia menunaikan ibadah haji, belajar fikih dan menguasai beberapa disiplin ilmu. Dia adalah sosok yang gemar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dia orang yang besar jiwanya, berani, berwibawa, pejuang kebenaran, bersikeras untuk mendapat kekuasaan, dan menyimpang dalam kepemimpinannya. Dia sosok yang berwibawa, agung, dan disegani. Para pengikutnya mematuhinya. Mereka menguasai banyak kota dan mengalahkan banyak raja. Dia belajar dari Ilkiya Al Harrasi dan Ab...