Skip to main content

Dihyah Al Kalbi

Dia adalah putra Khalifah bin Farwah, Al Kalbi Al Qudha’i, sahabat Rasulullah SAW dan juga salah satu delegasi beliau yang ditugaskan membawa surat kepada penguasa Bashrah agar disampaikan kepada Hirqal.
Ibnu Sa’ad berkata, “Dihyah masuk Islam sebelum terjadi perang Badar, sehingga dia tidak sempat ikut perang Badar. Dia memiliki kemiripan dengan Jibril dan masih hidup hingga masa pemerintahan Mu’awiyyah.”


Abu Muhammad bin Qutaibah berkata dalam hadits Ibnu Abbas, “Jika Dihyah datang maka semua gadis akan keluar untuk melihatnya.”

Tidak diragukan lagi bahwa Dihyah adalah pria tertampan di Madinah. Oleh karena itu, Jibril pernah turun menjelma dalam wujud wajahnya.

Sementara itu, Jarir adalah delegasi yang dikirim ke Madinah beberapa saat sebelum Nabi SAW wafat. 

Di antara sahabat yang memiliki wajah tampan lainnya adalah Al Fadhal bin Abbas, orang yang datang ke Madinah setelah penaklukkan kota Makkah.

Rasulullah SAW adalah manusia terbaik dan keturunan bani Quraisy yang paling tampan, sedangkan orang yang menyerupai ketampanan beliau adalah Al Hasan bin Ali. 

Diriwayatkan dari Manshur Al Kalbi, dia berkata, “Dihyah pernah keluar pada bulan Ramadhan dari Mizzah menuju sebuah desa kekuasaan Uqbah di Fusthath yang berjarak sekitar 3 mil. Ketika Dihyah berbuka puasa, yang lain pun ikut berbuka bersamanya, tetapi sebagian lain menolak berbuka. Setelah Dihyah kembali ke desanya, dia berkata, ‘Sungguh, hari ini aku telah melihat suatu perkara yang tak pernah kusangka akan melihatnya, bahwa ada segelintir orang yang tidak menyukai petunjuk Rasulullah SAW dan para sahabat!’ Dihyah sengaja mengarahkan perkataan tersebut kepada orang-orang yang enggan berbuka dalam perjalanan. Selanjutnya dia berdoa, ‘Ya Allah, terimalah segala usahaku’.” 

Dijelaskan dalam hadits shahih bahwa Shafiyyah pernah terkena anak panah Dihyah, kemudian Nabi SAW membalasnya dengan membunuh tujuh orang. 

Khalifah bin Khayyath berkata, “Nabi SAW pernah mengutus Dihyah menemui Kaisar pada tahun 5 Hijriyah.”

Menurut aku, seperti yang Manshur ceritakan, peristiwa itu terjadi setelah perjanjian Hudaibiyah pada masa perdamaian, seperti yang disebutkan Abu Sufyan dalam sebuah hadits yang panjang, dan juga dalam hadits shahih.


sumber: an-nubala

Comments

Popular posts from this blog

Wa`il bin Hujur bin Sa’ad

Dia adalah Abu Hunaidah Al Hadrami, seorang bangsawan dan pembesar kaumnya. Dia pernah menjadi utusan. Dia juga meriwayatkan hadits. Ketika Mu’awiyah datang ke Kufah, dia menemui Mu’awiyah lalu membai’atnya. Diriwayatkan oleh Alqamah bin Wa‘il dari ayahnya, bahwa Wa‘il pernah mengirim seorang delegasi kepada Rasulullah SAW, sehingga beliau memberinya sebidang tanah. Beliau menyuruh Mu’awiyah bin Abu Sufyan agar ikut bersamanya untuk menunjukkan tanah tersebut.

Abu Qatadah Al Anshari As-Sulami

Dia dikenal sebagai ksatria berkuda Rasulullah SAW, yang turut dalam perang Uhud dan perjanjian Hudaibiyah.  Dia bernama asli Al Harits bin Rib’i, Ali Ash-Shahih. Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ meriwayatkan dari ayahnya, dari Nabi SAW, beliau bersabda,  “Pasukan berkuda kami yang terbaik adalah Abu Qatadah, sedangkan pasukan pejalan kaki kami yang terbaik adalah Salamah bin Al Akwa’.”

Ibnu Tumart

Dia adalah Seorang ahli fikih, ushul, seorang yang zuhud, julukannya adalah Asy-Syaikh Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin tumart Al Barbari Al Mashmudi Al Harghi. Dia muncul di Maroko, mengaku sebagai keturunan Ali dari Hasan, dia adalah Imam Mahdi yang ma’shum dan dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Hud bin Khalid bin Tamam bin Adnan bin Shafwan bin Jabir bin Yahya bin Rabah bin Yasar bin Al Abbas bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Imam Ali bin Abu Thalib. Dia pergi dari Sus Al Aqsha menuju timur. Dia menunaikan ibadah haji, belajar fikih dan menguasai beberapa disiplin ilmu. Dia adalah sosok yang gemar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dia orang yang besar jiwanya, berani, berwibawa, pejuang kebenaran, bersikeras untuk mendapat kekuasaan, dan menyimpang dalam kepemimpinannya. Dia sosok yang berwibawa, agung, dan disegani. Para pengikutnya mematuhinya. Mereka menguasai banyak kota dan mengalahkan banyak raja. Dia belajar dari Ilkiya Al Harrasi dan Ab...