Ibnu Tumart


Dia adalah Seorang ahli fikih, ushul, seorang yang zuhud, julukannya adalah Asy-Syaikh Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin tumart Al Barbari Al Mashmudi Al Harghi. Dia muncul di Maroko, mengaku sebagai keturunan Ali dari Hasan, dia adalah Imam Mahdi yang ma’shum dan dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Hud bin Khalid bin Tamam bin Adnan bin Shafwan bin Jabir bin Yahya bin Rabah bin Yasar bin Al Abbas bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Imam Ali bin Abu Thalib.
Dia pergi dari Sus Al Aqsha menuju timur. Dia menunaikan ibadah haji, belajar fikih dan menguasai beberapa disiplin ilmu. Dia adalah sosok yang gemar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dia orang yang besar jiwanya, berani, berwibawa, pejuang kebenaran, bersikeras untuk mendapat kekuasaan, dan menyimpang dalam kepemimpinannya. Dia sosok yang berwibawa, agung, dan disegani. Para pengikutnya mematuhinya. Mereka menguasai banyak kota dan mengalahkan banyak raja.
Dia belajar dari Ilkiya Al Harrasi dan Abu Hamid Al Ghazali. Dia juga belajar dari Ath-Thurthusyi selama setahun.
Dia sangat paham dengan ilmu kalam. Dia menulis kitab tentang akidah yang dia beri nama Al Mursyidah. Di dalam kitab tersebut terdapat ajaran tauhid. Pengikutnya menjadikan buku tersebut sebagai sandaran sehingga Ibnu Tumart menjuluki mereka sebagai Al Muwahhidun (orang-orang yang mengesakan Allah), menjuluki orang-orang yang menolak kitab Al Mursyidah sebagai pengikut paham tajsim (mempercayai Tuhan berbadan sebagaimana makhluk) dan dia menghalalkan darah mereka. Kita berlindung kepada Allah SWT dari kesesatan dan godaan hawa nafsu. 
Ibnu Tumart menjalani hidup yang keras. Dia orang yang fakir, menerima apa adanya dan senantiasa berpakaian sebagaimana orang fakir. Dia tidak merasakan kelezatan makanan, rumah tangga, harta dan yang lainnya. Dia hanya menikmati sebagai pemimpin hingga dia wafat.
Tetapi dia telah banyak menumpahkan darah untuk mendapatkan tampuk kepemimpinan. 
Tujuannya tidak lain adalah untuk memerangi yang mungkar dan menolong yang haq. Dia selalu tersenyum kepada orang yang ditemuinya.
Dia sangat fasih dalam bahasa Arab dan Barbar. Dia selalu disakiti, dipukul tapi dia bersabar. Dia pernah disakiti di Makkah kemudian dia pindah ke Mesir. Dia sangat keras terhadap kemungkaran hingga orang-orang mengusir dan menyakitinya. 
Dia tinggal di pelabuhan, kemudian dia naik kapal menuju Maroko. Dia minum air laut dua kali. Dia mulai memerangi kemungkaran orang-orang di kapal. Dia menyuruh mereka melaksanakan shalat, namun mereka justru menyiksanya. Dia datang ke Al Mahdiyyah67 di mana Ibnu Badis tinggal. Dia tinggal di sebuah masjid. Kapan saja dia melihat kemungkaran atau minuman keras, dia bertindak melawan. Orang-orang mengerumuninya lalu Ibnu Badis mengundangnya. Ketika dia melihatnya dan mendengarkan kata-katanya, dia meminta doa darinya. Ibnu Tumart berdoa, “Semoga Allah memberimu petunjuk bagi rakyatmu.”
Ibnu Tumart berjalan menuju Bajayah (sebuah kota di Al Jazair). Seperti biasanya, dia melawan kemungkaran hingga dia diusir. Kemudian dia pergi ke sebuah desa tempat para prajurit. Dia bertemu dengan Abdul Mukmin penguasa desa itu. Dia adalah orang yang cerdas lagi pandai. Ibnu Tumart berkata, “Wahai anak muda, siapa namamu?” Dia menjawab, “Abdul Mukmin.” Ibnu Tumart berkata, “Allahu Akbar, kamu muridku. Ke mana tujuanmu?” Dia berkata, “Mencari ilmu.” Ibnu Tumart berkata, “Kamu telah temukan ilmu dan kemuliaan. Ikutlah denganku!”
Ibnu Tumart sangat menyukai pemuda itu hingga dia menceritakan hal-hal yang detail. Al Faqih Abdullah Al Wansyarisi juga ikut berguru kepadanya. Dia orang yang berilmu dan pakar ilmu nahwu. Keduanya sepakat agar Al Faqih menyembunyikan ilmunya dan kefasihannya. Dia berpura-pura sebagai orang yang tidak tahu selama beberapa waktu. Kemudian dia menunjukkan jati dirinya dan semua terheran-heran.
Ibnu Tumart pergi menuju Aghmat (kota kuno di Maroko). Dia dan murid-muridnya singgah di tempat Al Faqih Abdul Haq Al Mashmudi. Al Faqih Abdul Haq memuliakan dan mengajak mereka berdiskusi. Dia berkata, “Tempat ini tidak aman untuk kalian. Tinggallah di Tinamal. Itu tempat yang paling aman. Tinggallah di sana sementara agar kalian merasa nyaman. Ketika penduduk gunung itu melihat mereka sedang belajar, mereka tahu bahwa mereka adalah penuntut ilmu. Mereka mengundang dan menemui mereka. Penduduk berbondong-bondong belajar dari Ibnu Tumart. Ibnu Tumart adalah orang yang keras. Dia menyampaikan apa yang ada di benaknya. Jika mereka antusias, dia akan menjadikan mereka murid khususnya (khawash). Jika mereka hanya diam, dia memalingkan pandangannya. Orang-orang tua desa itu melarang dan memberi peringatan kepada yang muda (tentang ajaran Ibnu Tumart). Keadaan ini berjalan dalam waktu yang lama. Pengikut Ibnu Tumart dari gunung Daran semakin banyak. Gunung Daran adalah gunung es yang jalannya tidak rata dan sempit.
Al Yasa’ berkata di dalam kitab tarikhnya, “Aku tidak temukan tempat yang lebih aman dari Tinamal, karena tempat itu terletak di antara dua gunung. Hanyak pengendara kuda yang dapat mencapainya. Bahkan mereka harus turun dari kudanya di medan yang sulit dan tempat yang harus dilewati dengan kayu. Jika kayu tersebut dibuang, maka jalan terputus. Membutuhkan waktu sehari untuk mencapai sana. Para pengikutnya mulai berubah dan membunuh. Mereka semakin banyak dan kuat. Ibnu Tumart mengkhianati penduduk Tinamal yang telah memberinya tempat tinggal. Dia membekali murid-murid khususnya (khawash) dengan pedang. Al Faqih Al Ifriqi salah seorang murid khusus Ibnu Tumart berkata kepadanya, “Apa ini! Kaum yang telah memuliakan dan memberi kita tempat tinggal, dan kita lantas membunuh mereka!” Ibnu Tumart berkata kepada para muridnya, “Dia meragukan kemuliaanku. Bunuhlah dia!” Kemudian orang itu pun dibunuh.”
Al Yasa’ berkata, “Semua berita yang aku sebutkan tentang orang-orang Mashmud, telah kusaksikan dan aku meriwayatkannya secara mutawatir. Wasiat Ibnu Tumart kepada kaumnya adalah jika mereka bertemu dengan orang Murabith atau Tilimsan agar mereka membakarnya.”
Pada tahun 519 H Ibnu Tumart keluar dan berkata, “Kalian tahu bahwa Al Basyir (yang dia maksud adalah Al Wansyarisi) adalah laki-laki yang buta huruf. Dia tidak lihai naik kuda. Allah telah menjadikannya sebagai pembawa berita gembira bagi kalian dan mengetahui rahasia-rahasia kalian. Dia adalah ayat bagi kalian. Dia telah hafal Al Qur`an dan belajar naik kuda.” Ibnu Tumart berkata, “Bacalah!” kemudian Al Basyir membaca Al Qur`an hingga khatam selama empat hari dengan naik kuda. Mereka terheran-heran tanda kebodohan mereka. Ibnu Tumart menyampaikan khuthbah dan membaca firman Allah SWT:
 “Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik.” (Qs. Al Anfaal [8]: 37)
Dan firman-Nya:
“Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. Aali Imraan [3]: 110)
Ini adalah Al Basyir, orang yang bersih jiwanya dan orang yang mendapatkan ilham. Nabi SAW bersabda, “Di dalam umat ini ada para pembaharu dan Umar adalah di antara mereka. Ada bersama kita kaum yang Allah buka rahasia mereka. Kita harus perhatikan mereka dan bersikap adil terhadap mereka. Kemudian ada panggilan di gunung mashmad, ‘Barangsiapa taat kepada imam, kemarilah!’ mereka bergegas. Mereka menjauh dari Al Basyir. Al Basyir menjadikan kaum di sebelah kanannya -dia menyebut mereka sebagai ahli surga- dan kaum di sebelah kirinya. Dia berkata, ‘Dia telah bertobat bawa dia ke sebelah kanan. Dia telah bertobat tadi malam.’ Orang itu mengakui apa yang dikatakan oleh Al Basyir. Tampaklah keajaiban Al Basyir di hadapan mereka. Dia membiarkan ahlul yasar. Mereka tahu bahwa nasib mereka adalah mati terbunuh, dan tak seorang pun di antara mereka dapat lari dari itu. Ketika mereka berkumpul kerabat mereka membunuh mereka hingga saudara pun saling membunuh.”
Alyasa’ berkata, “Yang benar menurutku, jumlah mereka yang terbunuh dengan cara seperti itu sebanyak 70 ribu jiwa. Mereka menyebutnya sebagai “At-tamyiz”. Ketika “at-tamyiz” itu selesai, Ibnu Tumart mengarahkan mereka bersama Al Basyir menuju ke Aghmat. Orang-orang Murabithun memerangi mereka dan akhirnya mengalahkan mereka. Beberapa orang Mashmad tetap bertahan hingga mereka dibunuh. Leher mereka dibelenggu. Umar Al Hintani menderita banyak luka. Al Basyir berkata kepada mereka, ‘Dia takkan mati hingga negeri ini ditaklukkan.’ Setelah beberapa saat Umar Al Hintani membuka kedua matanya dan mengucapkan salam. Ketika mereka datang, Ibnu Tumart menyambut mereka dan berkata, ‘Hari demi hari, seperti itulah perang para rasul’.”
Ibnu Tumart adalah sosok yang banyak diam, sering bersedih dan berwibawa. Dia mengikuti akidah Syi’ah (tasyayyu’)68 dan membedakan murid-muridnya dalam derajat. Di antara mereka adalah sepuluh murid. Mereka adalah murid-murid yang pertama kali dipanggil oleh Ibnu Tumart. Kemudian lima puluh murid, oleh Ibnu Tumart mereka dipanggil “Al Mu’minun”. Ibnu Tumart berkata, “Di antara makhluk di bumi ada orang yang beriman sebagaimana iman kalian. Kalian adalah kelompok yang dimaksud Nabi SAW dalam sabdanya, ‘Orang-orang barat adalah orang-orang yang senantiasa menang.’69 Kalian menaklukkan Romawi, membunuh Dajjal dan di antara kalian ada yang mengikuti  Nabi Isa.’ 
Ibnu Tumart menceritakan kepada mereka hal-hal kecil, kebanyakan di antaranya terjadi sesuai perkatannya. Bencana semakin merajalela hingga mereka membunuh anak-anak dan saudara mereka karena kerasnya tabiat dan tradisi mereka dalam mengalirkan darah. Ibnu Tumart mengutus pasukan dan berkata, ‘Carilah mereka yang telah mengganti agama. Ajaklah mereka untuk memerangi kemungkaran, menghanguskan bid’ah dan percaya kepada Al Mahdi Al Muntazhar. Jika mereka menjawab ajakan kalian, maka mereka menjadi saudara kalian. Jika tidak, maka sunnah telah membolehkan kalian untuk membunuh mereka.’ Abdul Mukmin berangkat bersama pasukan menuju Marakusy. Dia bertemu dengan Az-Zubair bin Amir Al Muslimin. Dia menyampaikan ajakan itu kepadanya. Namun dia menolaknya dengan kasar. Pasukan Mashmad kalah dan banyak di antara mereka terbunuh mengenaskan. Ketika kabar itu sampai kepada Ibnu Tumart, dia bertanya, ‘Apakah Abdul Mukmin selamat?’ Dijawab, ‘Ya.’ Dia berkata, ‘Tak seorang pun mati sia-sia.’ Ibnu Tumart mengecam musuh dan berkata, ‘Pasukan kita yang meninggal adalah para syahid.’
Amir Aziz di dalam kitab Akhbar Al Qairuwan berkata, “Ibnu Tumart menamakan pengikutnya sebagai Al Muwahhidun dan menamakan orang-orang yang tidak mengikutinya sebagai Al Mujassimun. Penamaan itu terkenal pada tahun 515 H. Harghah membaiatnya bahwa dia adalah Al Mahdi Al Muntazhar. Orang-orang mulaststamun (tertutup mukanya) ingin membunuhnya, namun pengikut Ibnu Tumart menaklukkan mereka dan mendapatkan banyak harta rampasan. Mereka menjadi percaya diri. Kabilah-kabilah lain datang kepada mereka dan menyatukan Hantanah yang merupakan kabilah paling kuat.”
Aziz berkata, “Mereka mempunyai kasih sayang, adab dan keriangan. Mereka memakai pakaian pendek dan murah. Hari-hari mereka penuh dengan penjelajahan dan perjuangan. Di antara kabilah ada kelompok yang suka merusak. Ibnu Tumart mengundang para pimpinan kabilah dan menasihat mereka. Dia berkata, “Agama kalian tidak akan berdiri kecuali dengan melarang yang mungkar. Carilah setiap pembuat kerusakan, lalu laranglah dia membuat kerusakan. Jika dia tidak berhenti membuat kerusakan, catatlah namanya.” Kemudian Ibnu Tumart memperingatkan untuk kedua kalinya. Dia melihat nama-nama yang berulangkali melakukan kejahatan. Dia menyisihkan nama-nama tersebut. Kemudian dia mengumpulkan semua kabilah dan menghimbau agar tak satupun di antara mereka absen. Ibnu Tumart menyerahkan nama-nama itu kepada Al Basyir. Al Basyir melihat dengan seksama nama-nama itu. Kemudian dia mengurutkan anggota kabilah satu per satu. Jika dia temukan namanya di dalam daftar, dia jadikan di sebelah kiri. Dan ketika dia tidak temukan namanya di dalam daftar, dia jadikan di sebelah kanan. Kemudian dia memerintahkan untuk mengikat orang-orang di sebelah kirinya dan berkata kepada kerabat mereka, “Mereka adalah orang-orang malang dari ahli neraka.” Kemudian setiap kabilah mengatakan sesuatu kepada anggota mereka yang malang dan membunuhnya. Itu adalah kejadian luar biasa. Ibnu Tumart berkata, “Dengan begini, agama kalian menjadi benar dan perkara kalian menjadi kuat.”
Pada awal tahun 524 H, Ibnu Tumart menyiapkan dua puluh ribu pasukan yang dipimpin oleh Al Basyir dan Abdul Mukmin. Perang meletus dan kelompok Al Muwahhidun merasa kewalahan. Al Basyir tewas. Perang berlanjut hingga malam hari. Abdul Mukmin shalat bersama pasukannya agar dijauhkan dari ketakutan (shalat al Khauf). Pasukan yang masih bertahan tinggal di sebuah taman yang disebut Al Buhairah. Sebanyak tiga belas ribu pasukan lari. Kala itu Ibnu Tumart sedang sakit. Dia mewasiatkan para pengikutnya agar mereka mengikuti Abdul Mukmin. Ibnu Tumart memberi gelar kepada Abdul Mukmin Amirul Mukminin dan berkata, “Dialah yang akan menaklukkan negeri itu. Belalah dia dengan jiwa dan harta kalian!” Ibnu Tumart meninggal pada tahun 524 H.
Alyasa’ bin Hazm berkata, “Ibnu Tumart menamakan kelompok Al Murabithun sebagai Al Mujassimun. Penduduk Maroko hanya beragama dengan menyucikan Allah dari sifat yang tidak wajib bagi-Nya, menetapkan sifat yang wajib bagi-Nya dan tidak membahas sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh akal.” Hingga Alyasa’ berkata, “Lalu Ibnu Tumart mengafirkan mereka karena tidak tahun makna inti aradh (zat sifat) dan esensi (jauhar). Barangsiapa yang tidak tahu keduanya, maka dia tidak tahu antara makhluk dan Pencipta (Al Khaliq). Barangsiapa tidak hijrah dan berperang bersamanya, maka halal darahnya karena marahnya Ibnu Tumart adalah karena Allah.”
Ibnu Khallikan berkata, “Makam Ibnu Tumart di gunung Mashmad dihormati. Dia meninggal pada usia tua. Dia makan roti dengan minyak dan sedikit lemak dari hasil jahitan saudara perempuannya. Dia tidak berubah dari makan roti tersebut ketika dia kaya. Pada suatu hari dia melihat para pengikutnya senang dengan harta rampasan yang banyak, lalu dia memerintahkan untuk membakar mereka semua. Dia berkata, ‘Barangsiapa menginginkan dunia, maka ini bagiannya. Barangsiapa menginginkan akhirat, maka dia akan mendapatkan balasan di sisi Allah.’ Ibnu Tumart banyak mengucapkan banyak pepatah:
Jauhilah dunia karena sesungguhnya kamu
Keluar menuju dunia dengan keadaan tak membawa apa-apa
Ibnu Tumart tidak pernah menaklukkan satu negeri pun. Tapi dia membuat aturan-aturan dan persiapan, kemudian tiba-tiba ajal menjemputnya. Abdul Mukmin menaklukkan banyak negeri setelahnya.
Sebuah pendapat mengatakan, “Bahwasanya Ibnu Tumart menyembunyikan beberapa orang di kuburan para pendeta. Dia datang kepada sekelompok orang untuk menunjukkan tanda kepada mereka. Dia menyeru, ‘Wahai orang-orang yang telah mati, jawablah!’ Mereka menjawab, ‘Engkaulah Al Mahdi yang ma’shum. Engkau dan engkau.’ Ibnu Tumart khawatir kalau tipuannya terbongkar. Kemudian dia mengubur mereka di kuburan itu hingga mereka mati.”
Bagaimanapun juga, Ibnu Tumart adalah salah seorang ahli ilmu. Dia menginginkan sesuatu dan akhirnya dia mendapatkannya. Dia mengambil perhatian orang-orang Barbar dengan klaim tidak pernah berdosa atau bersalah. Dia menumpahkan darah sebagaimana orang-orang Khawarij. 
-----------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Artikel Terkait Ibnu Tumart