Imad Ad-Daulah bin Hud


Dia adalah salah satu penguasa Andalusia pada tahun lima ratusan. Dia berasal dari keluarga kerajaan yang menguasai Andalusia Timur. Ketika orang-orang Mulatstsamun menguasai Andalusia, Yusuf bin Tasyifin membiarkan Ibnu Daud. Ketika Ali bin Yusuf berkuasa setelah ayahnya, para menterinya menyarankan untuk mengambil kekuasaan dari Ibnu Daud. Mereka berkata kepadanya, “Harta-harta Al Mustanshir Al Ubaidi yang ada di Mesir berpindah ke tangan Bani Hud semuanya.” Mereka berkata, “Agama menyuruhmu mengalahkan mereka karena mereka berdamai dengan bangsa Romawi.” Kemudian Ali bin Yusuf mengutus Amir Abu Bakar bin Tiflut memimpin pasukan. Imad Ad-Daulah berlindung di Ruthah79 dan menulis surat kepada Ali bin Tasyifin mengajak berdamai. Imad Ad-daulah berkata, “Ayahmu telah memberi teladan baik kepadamu. Kami tahu konsekuensi buruk dari tindakanmu. Allah menjadi sandaran bagi orang yang bersamaku. Cukuplah bagi kami Allah.” Kemudian Ali bin Yusuf memerintahkan untuk tidak menyerang. Tidak lama setelah itu sekelompok jamaah nasrani menggiringnya di Zaragoza. Ibnu Rudzmir, penguasa kerajaan Arghunah yang terletak di sebelah timur Andalusia, adalah seorang pendeta. Dia menguasai negeri kekuasaan Ibnu Hud. Imad Ad-Daulah menerima hanya tinggal di rumahnya saja. Ibnu Rudzmir hanya membawa sedikit pasukan yang siap tempur menghadapi jutaan pasukan.
Al yasa’ bin Hazm berkata, “Abu Al Qasim Hilal salah seorang tokoh Arab menceritakan kepadaku tentang Imad Ad-Daulah, ‘Antara aku dan orang-orang murabithun ada suatu hal yang membuatku datang kepada Ibnu Rudzmir. Dia menyambutku dan memberiku upah besar. Aku ikut bersamanya dalam sebuah perang. Pada perang itu kudanya terluka. Aku berhenti dan melindunginya dari serangan. Ketika kami pergi menuju ke Risyqah, Ibnu Rudzmir memerintahkan untuk membuatkan gelas dari emas yang dihias dengan permata. Dia menulis pada gelas tersebut, ‘Hanya orang yang menolong Sultan yang memakainya.’ Pada suatu hari aku menghadap. Dia mengeluarkan gelas itu, mengisinya dengan minuman dan memberikannya kepadaku di hadapan seribu prajurit berkuda. Aku melihat leher mereka menjadi hitam karena karat pakaian perang. Aku menyeru dan berkata, “Orang selainku lebih berhak untuk minuman ini.” Ibnu Rudzmir berkata, “Hanya orang yang melakukan perbuatan sepertimu lah yang akan meminumnya.” Hilal dalam riwayat ini datang dari desa Hilal bin Amir. Dia kembali untuk berperang bersama kita. Ketika di medan perang, Hilal bagaikan gunung yang membentang yang menahan kesolidan tentara. Dia juga seorang pahlawan pemberani. Dalam pertempuran dia berkata, “Adakah yang lain?” Aku melihat Allah mengaruniai bangsa untuknya dan dia dijaga oleh pasukan berkuda. Abu Al Qasim Hilal menceritakan kepadaku tentang keadilan Ibnu Rudzmir, “Aku bersamanya di daerah Ruthah. Imad Ad-Daulah memerintahkan menterinya Abu Muhammad Abdullah bin Hamusyk untuk pergi ke sana. Salah seorang prajurit berkuda Ibnu Rudzmir meminta mengajak perang tanding dengan Ibnu Hamusyk. Ibnu Rudzmir berkata, ‘Jangan. Dia adalah tamu kita.’ Ibnu Hamusyk mendengar kata-kata itu. Ibnu Rudzmir membiarkannya. Dia berkata, ‘Aku harus mengajaknya berduel.’ Kemudian dia memerintahkan prajurit berkuda tadi untuk maju. Ibnu Rudzmir berkata, “Dia adalah orang Romawi paling berani pada zamannya.” Abdullah pergi menuju Ruthah dan di belakangnya ada seorang romawi bersenjata. Ibnu Hamusyk tidak memakai pakaian dan helm pelindung. Dia mengambil tombak dari pengawalnya. Dia mengarahkan ke arah orang Romawi itu. Keduanya saling menyerang. Kemudian Ibnu Hamusyk mengalahkannya. Allah telah menolongnya. Prajurit berkuda itu kehilangan kendali dan akhirnya jatuh ke tanah. Ibnu Hamusyk menikamnya dan akhirnya membunuhnya. Ibnu Rudzmir menyaksikan itu dari kejauhan. Orang-orang Romawi ingin menyerang Ibnu Hamusyk, tetapi Ibnu Rudzmir mencegah mereka. Pengawal Ibnu Hamusyk turun, mencela prajurit berkuda itu dan mengambil kudanya. Dia pergi tanpa menoleh sedikitpun ke arah kami. Aku tidak tahu mana yang aku kagumi, keadilan Ibnu Rudzmir atau Ibnu Hamusyk?”
Ibnu Rudzmir mengepung Zaragoza dalam waktu yang lama. Dia menguasai banyak benteng kota itu. Ketika panglima Abu Abdullah Muhammad bin Ghalbun tahu apa yang dilakukan bangsa Romawi di negeri itu, dia menuju ke Dauruqah, benteng Ayub dan Malinah. Dia memobilisasi pasukan untuk menghadapai Ibnu Rudzmir. Abu Bakar bin Tiflut menguasai Zaragoza. Sedangkan Ibnu Ghalbun lebih berlaku bijak dan adil. Dia berjuang dan didukung oleh pasukan. Aku berpendapat dia adalah orang tinggi sekali. Aku pernah bertemu dengannya. Dia sangat benci dengan Ibnu Rudzmir. Pada suatu saat dia pernah bertemu dengan seribu pasukan berkuda Ibnu Rudzmir. Pecahlah perang antara dua pasukan dalam waktu yang lama. Ibnu Ghalbun menyerang Ibnu Rudzmir dan menurunkannya dari kudanya. Para pengikut Ibnu Rudzmir menahannya. Akhirnya mereka kalah. Ibnu Rudzmir selamat bersama pasukan sebanyak dua ratusan orang. Sedangkan Ibnu Tiflut mengirimkan surat kepada Ibnu Ghalbun dan menipunya. Dia menganjurkannya untuk menghadap Amirul Muslimin Ali bin Yusuf. Putranya Abu Al Mutharrif menggantikan posisinya sebagai Khalifah di negerinya. Dia termasuk pahlawan yang diperhitungkan juga. Muhammad tiba di Marakusy dan dia ditahan. Dia dipaksa melepaskan negerinya untuk orang-orang Murabithun. Dia mengikuti arahan itu karena patuh kepada ayahnya. Dia dan pasukan pergi menuju barat Andalusia. Ibnu Rudzmir senang dengan berita itu. Dia mengepung Zaragoza dan membuat dua menara besar dari kayu. Ketika penduduk Zaragoza putus asa mengharapkan bantuan, mereka merobohkan dua menara tersebut dan mereka saling berperang. Mereka menulis surat kepada Ibnu Tasyifin mengabarkan hal itu. Ibnu Tiflut meninggal pada tahun 511 H. Ibnu Tasyifin mengutus saudaranya Tamim bin Yusuf untuk menyelamatkan mereka. Tamim datang dengan pasukan besar. Ibnu Rudzmir mengecam pasukannya. Penduduk Zaragoza senang dengan kedatangan Tamim.
Ibnu Rudzmir pergi menuju Madinah dan menguasainya. Sekelompok pejuang berkuda dan pejalan kaki mengadakan perlawanan terhadapnya. Ibnu Rudzmir menyerang mereka dan membunuh banyak orang di antara mereka. Kemudian dia mengelak bertempur dengan musuh dan bertolak menuju arah Muralah. Negeri itu sedang goncang. Penduduknya meminta jaminan keamanan darinya dengan syarat-syarat tertentu. Ibnu Rudzmir dikenal sebagai orang yang tepat janji. Seorang yang aku percayai menceritakan kepadaku tentang Ibnu Rudzmir bahwa seorang pria mempunyai seorang putri yang sangat cantik. Dia kehilangan putrinya. Dia memberitahu bahwa seorang pimpinan Romawi keluar membawa putrinya ke Zaragoza. Kedua orang tua dan kerabatnya mengikuti pimpinan Romawi itu. Mereka mengadu kepada Ibnu Rudzmir. Ibnu Rudzmir menghadirkan pimpinan Romawi tersebut dan berkata, “Aku mendapat pengaduan buruk. Bagaimana kamu bisa lakukan ini terhadap orang yang ada di sampingku?” Orang Romawi itu berkata, “Jangan tergesa-gesa. Wanita itu masuk agama kita. Wanita itu didatangkan. Wanita itu tidak menghiraukan orangtuanya. Dia telah murtad. Ketika Ibnu Rudzmir masuk kota Zaragoza, dia membiarkan penduduknya mendirikan shalat di masjid selama tujuh tahun. Setelah itu dia mengepung Qutundah80 setelah menduduki Zaragoza dua tahun. Pada akhir tahun 514 H, Abdullah bin Hayunah ingin menyerang Ibnu Rudzmir dengan pasukannya termasuk Qadhi Al Mariyyah Abu Abdillah bin Al Farra` dan Abu Ali Sukkarah. Ibnu Rudzmir menghadapi mereka. Korban berguguran termasuk Qadhi Al Mariyyah Abu Abdillah bin Al Farra` dan Abu Ali Sukkarah. Ibnu Rudzmir membuatkan mereka makam kemudian negeri itu diserahkan kepadanya. Pada masa itu Ibnu Rudzmir menguasai Dauruqah, benteng Ayyub, Tharsunah dan dua ratus lebih daerah berpagar. Tidak lebih dari tiga kota yang masih belum dikuasainya. Daerah Laridah, Ifraghah dan Thurthusyah masih dikuasai oleh Bani Hud. Dalam sepuluh hari penyerangan, Ibnu Rudzmir belum berhasil menguasai kota-kota tersebut. Laridah dipimpin oleh Al Humam Al Bathal Abu Ahmad dan Ifraghah dipimpin oleh Az-Zahid Al Mujahid Muhammad Mardanisy Al Judzami kakek dari Amir Muhammad bin Sa’ad.
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Artikel Terkait Imad Ad-Daulah bin Hud