Abu Ayub Al Anshari


cara-global.blogspot.com: Dia adalah Abu Ayub Al Anshari Al Khazraji, An-Najjari dan Al Badri.
Nama aslinya adalah Khalid bin Zaid bin Kulaib.

Dia seorang pemimpin besar yang diutus oleh Nabi SAW secara khusus untuk singgah di bani Najjar hingga dibangunkan untuknya kamar untuk Ummul Mukminin Saudah dan sebuah masjid yang mulia. 


Diriwayatkan dari Ayub, dari Muhammad, dia berkata, “Ayub ikut serta dalam perang Badar, kemudian tidak pernah tertinggal dalam peperangan yang lain kecuali selama satu tahun. Dia telah dijadikan sebagai pemimpin tentara sejak berusia muda. Dia kemudian merasa tidak enak lalu berkata, ‘Tidak apa-apa bagiku jika ada yang ingin menggantiku’. Setelah itu dia sakit, lalu kepemimpinan dipegang oleh Yazid bin Mu’awiyah. Yazid menjenguknya seraya berkata, ‘Apakah kamu punya keinginan?’ Abu Ayub menjawab, ‘Ya, jika aku mati maka bawalah aku ke negeri musuh jika kamu bisa. Jika tidak bisa maka kuburlah aku kemudian pulanglah’.

Setelah dia wafat Yazid membawanya ke negeri musuh kemudian menguburnya. Dia berkata, ‘Allah SWT berfirman, انْفِرُوْا خِفَافًا وَثِقَالاً “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat”. (Qs. At-Taubah [9]: 41) Jadi, tidak ada jalan lain, aku harus berangkat, walaupun terasa berat’.”

Al Waqidi berkata, “Abu Ayub meninggal ketika Yazid berperang pada masa kekhalifahan ayahnya, melawan Konstantinopel.” 

Aku mendapat berita bahwa orang-orang Romawi sangat mengagungkan kuburannya, mengunjunginya, dan meminta hujan kepadanya. Hal itu diceritakan oleh Urwah dan sekelompok jamaah di negeri Badar.
Ibnu Ishaq berkata, “Abu Ayub ikut dalam bai’at Aqabah yang kedua.”

Al Khathib berkata, “Dia ikut memerangi orang-orang Khawarij bersama Ali.”
Diriwayatkan dari Abu Ruhm, ia berkata: Abu Ayub pernah bercerita kepadanya, bahwa Rasulullah SAW pernah singgah di rumahku bagian bawah, sedangkan aku berada di dalam kamar, lalu aku menuangkan air di dalam kamar, setelah itu aku dan Ibnu Ayub keluar dengan membawa selimut kami dan juga air, lalu kami turun. Aku lalu berkata, “Ya Rasulullah, tidak sepantasnya kami berada di atasmu, pindahlah ke kamar.” Beliau kemudian mengambil perbekalannya —yang ketika itu hanya sedikit— lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, jika engkau mendapat kiriman makanan, maka aku memperhatikannya. Kemudian jika aku melihat bekas jarimu, aku pun meletakkan tanganku ke dalamnya.”

Diriwayatkan dari Salim, dia berkata, “Aku menikah, lalu Ayahku mengundang orang-orang, yang di antara mereka ada Abu Ayub. Mereka kemudian menutup rumahku dengan kain penghalang berwarna hijau. Tak lama kemudian datang Abu Ayub sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu dia melihat ternyata rumah tertutup. Dia berkata, ‘Wahai Abdullah, apakah kalian yang menutupi dinding?’ Ayahku menjawab sambil tersipu malu, ‘Kami dikalahkan oleh wanita-wanita wahai Abu Ayub’. Dia berkata, ‘Siapa yang aku takutkan untuk dikalahkan wanita maka aku tidak menjamin mereka tidak mengalahkanmu. Aku tidak akan masuk rumahmu dan tidak akan memakan makananmu’.”

Diriwayatkan dari Habib bin Abu Tsabit, bahwa Abu Ayub pernah menghadap Ibnu Abbas di Bashrah, lalu dia mengosongkan rumahnya, kemudian berkata, “Aku akan memperlakukanmu sebagaimana kamu memperlakukan Rasulullah SAW, berapa utangmu?” Dia menjawab, “Dua puluh ribu.” Dia pun memberinya empat puluh ribu, dua puluh budak, dan perabotan rumah tangga.
Abu Ayub wafat tahun 52 Hijriyah.

sumber: an-nubala