Hudzaifah bin Al Yaman


cara-global.blogspot.com: Dia salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal cerdas dan penyimpan rahasia.175
Dia bernama asli Hisl —ada pula yang mengatakan Husail— Ibnu Jabir Al Abasi Al Yamani, Abu Abdullah. 
Dia sekutu kaum Anshar dan termasuk tokoh kaum Muhajirin.

Dikarenakan ayahnya (Hisl) pernah menumpahkan darah kaumnya, maka dia lari ke Madinah dan bersekutu dengan bani Abdul Asyhal. Setelah itu kaumnya menyebutnya Al Yaman lantaran persekutuannya dengan kaum Yaman, padahal mereka orang-orang Anshar.


Dia dan putranya —yaitu Hudzaifah— ikut perang Uhud dan mati syahid pada hari itu. Dia dibunuh oleh sebagian sahabat karena faktor kesalahpahaman, sementara dia sendiri tidak mengetahuinya, karena pasukan bersembunyi di medan peperangan dan mereka menutup wajah mereka. Jika mereka tidak mempunyai tanda yang jelas, bisa-bisa dia dibunuh saudaranya sendiri dan tidak merasa.

Ketika mereka menolong Al Yaman, tiba-tiba Hudzaifah berteriak, “Ayah! Ayah! Wahai kaumku!” Dia dibunuh secara tidak disengaja, maka Hudzaifah mengeluarkan uang untuk membayar diyatnya. 

Diriwayatkan dari Abu Yahya, dia berkata, “Seorang pria pernah bertanya kepada Hudzaifah saat aku berada di sampingnya, ‘Apakah kemunafikan itu?’ Dia menjawab, ‘Jika kamu berbicara tentang Islam tetapi kamu tidak mengamalkannya’.”

Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, bahwa Umar pernah menulis surat yang isinya menitahkan Hudzaifah untuk menjadi wali di Mada‘in, Umar berkata, “Dengarkan dan taatilah dia, serta berilah jika dia meminta kepada kalian.” 

Setelah itu dia keluar dari hadapan Umar dengan mengendarai keledai yang kurus, sambil membawa bekal di bawahnya. Ketika sampai, orang-orang Dahaqin menyambutnya, sementara dia hanya membawa roti dan sepotong daging di tangannya.

Hudzaifah dipercaya memimpin Mada‘in. Dia menetap di Mada‘in sampai terbunuhnya Utsman, lalu wafat 40 hari setelah peristiwa terbunuhnya Utsman.

Hudzaifah berkata, “Ketika tidak ada hal yang menghalangiku untuk turut dalam perang Badar, maka aku dan Bapakku keluar. Orang-orang kafir Quraisy ketika menghadang kami berkata, ‘Apakah kalian ingin bergabung dengan Muhammad?’ Kami menjawab, ‘Kami tidak menginginkan apa pun kecuali Madinah.’ Mereka kemudian mengambil janji kami, bahwa kami boleh pergi ke Madinah tetapi tidak boleh berperang bersama Nabi SAW. Setelah itu kami memberitahukan hal itu kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda, ‘Kita akan memenuhi janji mereka dan meminta pertolongan kepada Allah, semoga Dia memberikan kemenangan kepada kita’.”

Nabi SAW pernah membisikkan nama-nama orang munafik kepada Hudzaifah dan fitnah-fitnah yang akan mereka lakukan kepada umat.

Hudzaifah adalah sahabat yang diutus Rasulullah SAW pada malam perang Ahzab untuk menyelidiki kondisi musuh, dan ditangannya kota Dainawar ditaklukkan. 
Dia memiliki banyak keistimewaan. Semoga Allah meridhainya.

Hudzaifah pernah berkata, “Nabi Muhammad SAW menarik lenganku lantas bersabda, ‘Cara menggunakan sarung itu seperti ini, jika tidak mau maka turunkan sedikit, jika tidak mau maka tidak ada hak bagi sarung di bawah mata kaki’.” 
Dalam redaksi lain disebutkan, “Sarung tidak boleh diturunkan melebihi mata kaki.”

Diriwayatkan dari Az-Zuhri, bahwa Abu Idris memberitahukan kepadaku bahwa Hudzaifah berkata, “Demi Allah, aku orang yang paling tahu tentang fitnah yang terjadi antara waktu aku hidup sampai Hari Kiamat.” 
Hudzaifah berkata, “Orang-orang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang keburukan karena aku takut keburukan itu akan menimpaku.”

Diriwayatkan dari Hudzaifah, dia berkata, “Ketika Rasulullah SAW bermukim bersama kami, beliau bercerita tentang hal-hal yang akan terjadi sampai Hari Kiamat, maka orang-orang yang menjaganya akan menjaganya dan orang-orang yang melupakannya akan lupa.”

Menurut aku, Nabi SAW pernah berbicara secara pelan dan menafsirkan ucapan beliau. Seandainya beliau menjelaskan dalam majelisnya itu, maka ucapan beliau tidak mungkin cukup dirangkum dalam sebuah bagian. Lalu beliau menyebutkan kejadian yang paling besar yang seandainya kejadian itu terjadi, maka waktu satu tahun, bahkan bertahun-tahun, tidak akan cukup untuk membicarakannya. Renungkanlah hal itu!
Hudzaifah wafat di kota Mada‘in pada tahun 36 Hijriyah, saat sudah lanjut usia.

Diriwayatkan dari Abu Ashim Al Ghathafani, dia berkata, “Hudzaifah masih selalu meriwayatkan sebuah hadits hingga yang lain merasa ngeri. Lalu ada yang bertanya kepadanya, ‘Engkau ingin menyampaikan kepada kami bahwa akan ada penitisan pada kami!’ Beliau menjawab, ‘Ya, pada diri kalian ada titisan, yaitu kera dan babi’.”

Diriwayatkan dari Bilal bin Yahya, dia berkata: Aku memperoleh berita bahwa Hudzaifah pernah berkata, “Tidak seorang sahabat pun yang mengalami peristiwa itu kecuali akan menjual sebagian agamanya dengan yang lain.” Mereka berkata, “Engkau sendiri?” Dia menjawab, “Demi Allah, aku akan masuk kepada salah satu dari mereka —tidak ada seorang pun kecuali pada dirinya terdapat kebaikan dan kejelekan— lalu aku menyebut kebaikan-kebaikannya dan menghindari yang lain. Apabila seseorang dari mereka mengundangku makan maka aku menjawab, ‘Aku berpuasa’, padahal aku tidak berpuasa.”

Diriwayatkan dari Al Hasan, dia berkata: Ketika ajal menjemput Hudzaifah, dia sempat berkata, “Kekasih akan datang ketika dibutuhkan, tidak beruntung orang yang menyesal! Bukankah setelahku adalah sesuatu yang aku ketahui? Segala puji bagi Allah yang telah melewatkan fitnah-fitnah dariku! Menuntunnya dan menyelesaikannya.”

Diriwayatkan dari An-Nazzal bin Sabrah, dia berkata: Aku pernah bertanya kepada Abu Mas’ud Al Anshari, “Apa yang diucapkan Hudzaifah menjelang ajalnya?” Dia menjawab, “Menjelang Subuh dia mengucapkan, ‘Aku berlindung kepada Allah dari pagi sampai siang’, sebanyak tiga kali. Kemudian dia berkata, ‘Belilah dua baju berwarna putih untukku, karena keduanya tidak akan meninggalkanku kecuali sebentar, kemudian diganti dengan yang lebih bagus, atau justru dirampas dengan cara yang tidak bagus’.”

sumber: an-nubala