Abu Ad-Darda’


cara-global.blogspot.com: Dia adalah Abu Ad-Darda` Uwaimir bin Zaid bin Qais Al Anshari Al Khazraji.
Dia seorang pemimpin teladan, hakim Damaskus, sahabat Rasulullah SAW, hakim umat ini, dan penghulu para pembaca Al Qur`an di Damaskus. 

Beliau termasuk sahabat yang berguru kepada Nabi SAW dan belum pernah ada berita yang menyatakan bahwa dia berguru kepada orang lain. Selain itu, beliau termasuk salah sahabat yang mengumpulkan Al Qur`an pada masa Rasulullah SAW. Dia juga pernah mengajar membaca bagi penduduk Damaskus pada masa kekhalifahan Utsman dan masa sebelumnya, kemudian menutup usianya tiga tahun sebelum Utsman. 


Diriwayatkan dari Khaitsamah, dia berkata: Abu Ad-Darda` pernah berkata, “Sebelum Rasulullah SAW diutus sebagai nabi, aku seorang pedagang. Ketika Islam datang, aku berusaha menyatukan antara berdagang dengan ibadah, tetapi keduanya tidak bisa disatukan, maka aku meninggalkan perdagangan dan lebih mementingkan ibadah.” 

Menurut aku, yang lebih baik adalah mengumpulkan keduanya dengan jihad. Itulah yang dikatakannya dan itulah jalan yang ditempuh oleh para salaf dan sufi. Tidak diragukan lagi, tabiat manusia berbeda-beda dalam hal ini, ada yang mampu mengumpulkan keduanya (seperti Ash-Shiddiq, Abdurrahman bin Auf, dan Ibnu Al Mubarak), dan ada pula yang tidak mampu menggabungkan keduanya. Bahkan ada yang mampu pada awalnya tapi kemudian melemah, atau sebaliknya. Semua itu diperbolehkan selama tidak sampai melalaikan hak istri dan keluarga. 

Abu Az-Zahiriyah berkata, “Abu Ad-Darda` adalah salah satu sahabat Anshar yang terakhir masuk Islam. Dulu dia penyembah berhala, tetapi kemudian Ibnu Rawahah dan Muhammad bin Maslamah memasuki rumahnya lalu menghancurkan berhalanya. Setelah itu dia kembali dan mengumpulkan berhala-berhala itu seraya berkata, “Celakalah kamu, mengapa tidak kau larang! Mengapa kamu tidak bisa membela dirimu sendiri!” Ummu Ad-Darda` lalu berkata, “Seandainya dia bisa memberi manfaat atau membela seseorang, tentu dia bisa mempertahankan dirinya sendiri dan dapat memberi manfaat.” Abu Ad-Darda` lantas berkata, “Siapkan air untukku di tempat mandi!” Kemudian dia mandi, memakai pakaian, lalu pergi menemui Rasulullah SAW dan bertemu dengan Ibnu Rawahah yang menyambutnya, lantas berkata, “Ya Rasulullah, ini Abu Ad-Darda`. Aku tidak melihatnya kecuali dia ingin mencari kita?” Rasulullah SAW bersabda, “Dia datang untuk masuk Islam. Sesungguhnya Tuhanku berjanji kepadaku bahwa Abu Ad-Darda` akan masuk Islam.” 

Diriwayatkan dari Makhul, bahwa para sahabat berkata, “Orang yang paling kasih di antara kami adalah Abu Bakar, orang yang paling pandai bicaranya adalah Umar, orang yang paling dipercaya di antara kami adalah Abu Ubaidah, orang yang paling tahu tentang halal dan haram di antara kami adalah Mu’adz, orang yang paling bagus bacaannya di antara kami adalah Ubai, orang yang paling banyak ilmunya di antara kami adalah Ibnu Mas’ud, dan Uwaimir Abu Ad-Darda` mengikuti mereka dalam sisi kecerdasan akal.” 
Ibnu Ishaq berkata, “Para sahabat berkata, ‘Kami mengikuti ilmu dan amal Abu Ad-Darda`’.” 

Aun bin Abu Juhaifah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa Rasulullah SAW mempersaudarakan Salman dengan Abu Ad-Darda`, kemudian Salman mengunjunginya, ternyata Ummu Ad-Darda` terlihat mengenakan pakaian lusuh. Salman pun bertanya, “Ada apa denganmu?” Ummu Ad-Darda` menjawab, “Saudaramu itu tidak lagi membutuhkan kehidupan dunia, pada malam hari  dia hanya beribadah dan pada siang hari dia berpuasa.” 

Tak lama kemudian Abu Ad-Darda` datang menyambutnya. Dia lalu menyuguhkan makanan kepada Salman. Salman berkata kepadanya, “Makanlah!” Abu Ad-Darda` menjawab, “Aku sedang berpuasa.” Salman berkata, “Aku bersumpah atasmu agar kamu berbuka.” Abu Ad-Darda` pun makan bersamanya. Salman kemudian menginap di rumahnya. Ketika malam tiba, Abu Ad-Darda` ingin bangun, maka Salman mencegahnya dengan berkata, “Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atas dirimu, Tuhanmu mempunyai hak atas dirimu, dan keluargamu mempunyai hak atas dirimu. Berpuasalah dan berbukalah, shalatlah, dan datangilah istrimu. Penuhilah hak setiap yang mempunyai hak.” 

Ketika Subuh menjelang, Salman berkata, “Sekarang bangunlah sekehendakmu.” Mereka berdua kemudian bangun, berwudhu, lalu keluar untuk melaksanakan shalat. Setelah selesai shalat, Abu Ad-Darda` memberitahu perkataan Salman tersebut kepada Rasulullah SAW, beliau lalu bersabda, “Wahai Abu Ad-Darda`, sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atas dirimu, sebagaimana yang dikatakan Salman kepadamu.” 

Khalid bin Ma’dan mengatakan bahwa Ibnu Umar pernah berkata, “Mereka menceritakan kepada kami tentang dua orang yang berakal.” Khalid bertanya, “Siapakah dua orang yang berakal itu?” Ibnu Umar menjawab, “Mu’adz dan Abu Ad-Darda`.” 

Diriwayatkan dari Muhammad bin Ka’ab, dia berkata, “Ada lima sahabat pengumpul Al Qur`an, yaitu Mu’adz, Ubadah bin Ash-Shamit, Abu Ad-Darda`, Ubai, dan Ayub. Pada zaman Khalifah Umar, Yazid bin Abu Sufyan menulis surat kepada Umar bahwa penduduk Syam sangat banyak, sampai-sampai memenuhi setiap sudut kota, sehingga dibutuhkan orang untuk mengajarkan Al Qur`an serta agama kepada mereka. Oleh karena itu, bantulah dengan mengirim orang-orang yang bisa mengajari mereka Al Qur`an. 

Umar kemudian memanggil kelima orang tersebut, lalu berkata, “Saudaramu minta tolong kepadaku agar dicarikan orang yang dapat mengajarkan Al Qur`an dan memberikan pemahaman agama kepada mereka, maka tolonglah aku meskipun hanya tiga orang dari kalian. Itu pun jika kalian bersedia. Jika ada tiga orang dari kalian tertarik dengan tawaran ini, maka pergilah!” Kemudian mereka berkata, “Kami tidak bisa pergi semua, karena Abu Ayub sudah berusia lanjut, sedangkan ini —Ubai— sedang sakit.” 
Akhirnya Mu’adz, Ubadah, dan Abu Ad-Darda` yang berangkat ke sana. 

Umar berpesan, “Mulailah dari Himsh, kalian akan menjumpai tipe manusia yang beragam. Di antara mereka ada yang cerdas. Apabila kalian melihat hal itu maka arahkanlah penduduknya untuk belajar kepadanya, dan jika kalian merasa mereka sudah mampu, maka salah satu dari kalian harus tinggal di Himsh, lalu satunya lagi pergi ke Damaskus, dan yang satunya lagi ke Palestina.” 

Muhammad bin Ka’ab berkata, “Mereka kemudian pergi ke Himsh. Ketika mereka merasa penduduknya telah mampu ditinggalkan, Ubadah bin Ash-Shamit tinggal bersama mereka, sedangkan Abu Ad-Darda` pergi ke Damaskus, dan Mu’adz pergi ke Palestina hingga kemudian dia meninggal dunia karena terkena wabah pes. Setelah itu Ubadah pergi ke Palestina, lalu meninggal di sana. Abu Ad-Darda` sendiri menetap di Damaskus hingga akhirnya menutup usia di sana. 

Diriwayatkan dari Abu Laila, dia berkata: Abu Ad-Darda` pernah menulis surat kepada Maslamah bin Mukhalladah, “Semoga keselamatan senantiasa tercurah atas dirimu. Ammaba’du. Apabila seorang hamba melakukan maksiat kepada Allah, maka dia akan dibenci oleh Allah, dan apabila dia telah dibenci Allah, maka dia akan dibenci hamba-hamba-Nya.” 

Diriwayatkan dari Abu Ad-Darda`, dia berkata, “Aku telah memerintahkan kalian suatu perkara yang aku sendiri tidak melaksanakannya, tetapi semoga Allah mengganjariku.” 

Diriwayatkan dari Muslim bin Misykam, bahwa Abu Ad-Darda` berkata kepadaku, “Hitunglah orang yang ada di majelis kita.” Aku menjawab, “Jumlah mereka kurang lebih 1600 orang.” Mereka belajar membaca dan mereka berlomba-lomba sepuluh orang-sepuluh orang. Setelah shalat Subuh, dia mengerjakan shalat sunah lalu membaca satu juz. Mereka mengelilinginya untuk mendengarkan lafazh-lafazhnya. Ketika itu Ibnu Amir berada di depan mereka. 

Hisyam bin Ammar berkata: Yazid bin Malik  menceritakan kepada kami dari ayahnya, dia berkata, “Suatu ketika setelah Abu Ad-Darda` melaksanakan shalat, mengajarkan bacaan Al Qur`an, dan membacanya sendiri, dia bangkit dan bertanya kepada para sahabatnya, ‘Apakah ada walimah atau aqiqah yang akan kita hadiri?’ Jika mereka menjawab ya, maka dia saat itu tidak akan berpuasa, tetapi jika mereka menjawab tidak, maka dia akan berkata, ‘Ya Allah, aku sedang berpuasa’. Dialah orang pertama yang membuat halaqah171 untuk belajar membaca Al Qur`an.” 

Diriwayatkan dari Yazid bin Mu’awiyah, dia berkata, “Abu Ad-Darda` adalah seorang ahli fikih yang dapat mengobati penyakit.” 

Diriwayatkan dari Salim bin Abu Ja’d, bahwa Abu Ad-Darda` pernah berkata, “Mengapa aku melihat ulama kalian pergi (meninggal) tetapi orang-orang bodoh di antara kalian tidak belajar? Belajarlah, karena orang yang berilmu dan orang yang mencari ilmu bersekutu dalam pahala.” 

Diriwayatkan dari Maimun bin Mihran, bahwa Abu Ad-Darda` pernah berkata, “Orang yang tidak mengetahui itu celaka satu kali, sedangkan orang yang tahu namun tidak mengamalkan, celaka tujuh kali.” 
Diriwayatkan dari Aun bin Abdullah, dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Ummu Ad-Darda`, ‘Ibadah apa yang paling banyak dilakukan Abu Ad-Darda`?’ Dia menjawab, ‘Tafakkur dan i’tibar (mengambil pelajaran)’.” 

Diriwayatkan dari Abu Ad-Darda`, dia berkata, “Bertafakkur satu jam lebih baik daripada bangun malam.” 
Diriwayatkan dari Ibnu Halyas, bahwa Abu Ad-Darda` —yang tidak henti-hentinya berdzikir— pernah ditanya, “Berapa kali engkau bertasbih setiap hari?” Dia menjawab, “Seratus ribu kali, kecuali jari-jariku salah.” 

Diriwayatkan dari Abu Al Bukhturi, dia berkata, “Ketika Abu Ad-Darda` memasak menggunakan periuknya, tiba-tiba aku mendengar suara seperti isak tangis anak kecil dalam periuk itu. Kemudian ketika periuk itu kering lalu dikembalikan ke tempatnya, tidak ada sedikit air pun di dalamnya. Abu Ad-Darda` lantas memanggil, ‘Wahai Salman, lihatlah apa yang kamu dan bapakmu belum pernah lihat!’ Salman kemudian berkata kepadanya, ‘Jika engkau diam, niscaya engkau akan mendengar ayat-ayat Tuhanmu yang agung’.”

Diriwayatkan dari Bilal bin Sa’ad, bahwa Abu Ad-Darda` pernah berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari hati yang bercabang.” Kemudian ada yang bertanya, “Apa maksud dari hati yang bercabang?” Dia menjawab, “Harta disediakan untukku di setiap lembah.”

Diriwayatkan dari Abu Ad-Darda`, dia berkata, “Kalau tidak karena tiga hal, aku tidak senang hidup, yaitu menahan dahaga pada siang hari yang panas, sujud pada waktu malam, dan berkumpul dengan orang-orang yang membicarakan hal-hal yang baik, sebagaimana baiknya buah yang sedang ranum.”

Huraiz bin Utsman berkata: Ketika Rasyid bin Sa’id berbincang-bincang dengan kami, dia berkata, “Seorang laki-laki pernah datang menemui kepada Abu Ad-Darda`, kemudian dia berkata, ‘Berilah wasiat kepadaku!’ Abu Ad-Darda` berkata, ‘Ingatlah Allah baik pada waktu gembira maupun sedih. Jika kamu ingat orang-orang yang meninggal, maka jadikanlah dirimu seakan-akan salah satu dari mereka, dan ketika dirimu memuliakan kehidupan dunia, maka lihatlah kepada akhir tempat kembalinya’.”

Diriwayatkan dari Abdullan bin Murrah, bahwa Abu Ad-Darda` berkata, “Sembahlah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, anggaplah dirimu termasuk orang-orang yang telah mati, jauhilah doa orang yang teraniaya, dan ingatlah bahwa nikmat sedikit yang membuat dirimu merasa cukup, lebih baik daripada nikmat yang banyak tapi menyebabkan dirimu lupa daratan, karena kebaikan tidak akan binasa dan dosa tidak akan dilupakan.”

Diriwayatkan dari Abu Ad-Darda`, dia berkata, “Jauhilah doa orang yang teraniaya, karena doa mereka naik kepada Allah seperti kilatan cahaya.”

Diriwayatkan dari Lukman bin Amir, bahwa Abu Ad-Darda` pernah berkata, “Orang-orang kaya makan, kita juga makan, mereka minum, kita juga minum, mereka memakai baju, kita juga memakai baju, mereka naik kendaraan, kita juga naik kendaraan, mereka mempunyai harta yang lebih yang mereka lihat, kita pun juga bisa melihatnya bersama mereka, namun mereka akan dihisab karena harta tersebut, sedangkan kita bebas dari tanggung jawab tersebut.”

Diriwayatkan dari Ibnu Jubair, dari ayahnya, dia berkata, “Ketika Cyprus ditaklukkan, seorang tawanan lewat di depan Abu Ad-Darda`. Tiba-tiba Abu Ad-Darda` menangis, maka aku berkata kepadanya, ‘Apakah kamu menangis pada saat seperti ini, yang Allah memuliakan agama Islam dan pengikutnya?’ Dia menjawab, ‘Wahai Jubair, umat ini menjadi rendah dan hina jika mereka durhaka kepada Allah, sehingga seperti yang kamu lihat, mereka menjadi umat yang paling hina karena mereka berbuat maksiat kepada Allah’.”

Diriwayatkan dari Ummu Ad-Darda`, dia berkata: Abu Ad-Darda` memiliki 360 kekasih karena Allah yang senantiasa ia doakan pada saat shalat. Aku lalu bertanya kepadanya mengenai hal itu, kemudian Abu Ad-Darda` menjawab, “Setiap kali seorang hamba mendoakan saudaranya yang sedang tidak berada di hadapannya, maka Allah akan mewakilkan dua malaikat kepadanya, lantas berkata, ‘Kamu juga memperoleh hal yang sama.’ Tentunya, aku senang jika malaikat mendoakanku?”

Ummu Ad-Darda` berkata, “Menjelang ajalnya, Abu Ad-Darda` sempat berkata, ‘Siapa yang telah beramal untuk menghadapi hari seperti hari yang aku hadapi ini? Siapa yang telah beramal untuk menghadapi tidur seperti tidur yang aku alami ini?’.”

Abu Ad-Darda` wafat pada tahun 32 Hijriyah.
Ketika Na’yu bin Mas’ud datang menemui Abu Ad-Darda`, dia berkata, “Tidak ada orang yang dapat menyamai Abu Ad-Darda`.”

Ada yang mengatakan bahwa jumlah orang yang belajar di majelis Abu Ad-Darda` lebih dari seribu orang, dan setiap sepuluh orang saling mengajarkan kepada yang lain. Abu Ad-Darda` berkeliling di antara mereka sambil berdiri. Apabila salah seorang di antara mereka ada yang hendak menetapkan suatu hukum, maka dia meminta pendapat Abu Ad-Darda`, lalu dia menjelaskan permasalahan itu kepadanya.”

Diriwayatkan dari Abu Ad-Darda`, dia berkata, “Orang yang sering mengingat mati, maka rasa senang dan dengkinya menjadi berkurang.”

sumber: an-nubala