Zaid bin Tsabit


cara-global.blogspot.com: Dia adalah Abu Dhahhak, seorang pemimpin besar, penulis wahyu, gurunya para pembaca Al Qur`an, ahli ilmu faraidh, mufti Madinah, Abu Sa’id dan Abu Kharijah Al Khazraji An-Najjari Al Anshari

Dia termasuk sahabat yang memiliki hujjah yang kuat. Umar bin Khaththab pernah menyerahkan urusan Madinah kepadanya jika dia menunaikan ibadah haji. Dia juga sahabat yang mengurus pembagian harta rampasan pada saat perang Yarmuk. Ayahnya terbunuh sebelum hijrah pada waktu perang Bu’ats, sehingga Zaid menjadi yatim. 


Dia termasuk anak yang cerdas, sehingga ketika Nabi SAW hijrah, Zaid masuk Islam pada saat dia baru berusia 11 tahun. 

Diriwayatkan dari Kharijah, dari ayahnya, dia berkata: Nabi SAW dibawa kepadaku saat beliau sampai di Madinah, lalu mereka berkata, “Ya Rasulullah, ini adalah anak dari keturunan bani Najjar. Dia telah membaca apa yang diturunkan kepadamu, yaitu Al Qur`an, sebanyak 17 surah.” Aku kemudian membacakannya di hadapan beliau, lalu beliau pun takjub akan hal itu, maka  beliau bersabda, “Wahai Zaid, belajarlah kitab Yahudi untukku. Demi Allah, aku tidak merasa aman jika mereka mengacaukan Kitabku.”
Aku pun mempelajarinya. Tidak sampai setengah bulan aku sudah mampu  mendalaminya. Kemudian aku menulis surat kepada Rasulullah SAW agar beliau menulis surat kepada mereka. 

Diriwayatkan dari Tsabit bin Ubaid, bahwa Zaid berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Apakah kamu bisa bahasa Suryani?” Aku menjawab, “Tidak.” Nabi SAW bersabda, “Pelajarilah!” Aku pun mempelajarinya dan sanggup menguasainya selama 17 hari.

Ubaid bin As-Sabbaq berkata: Zaid menceritakan kepadaku bahwa Abu Bakar pernah berkata kepadanya, “Kamu pemuda cerdas yang sempurna. Kamu juga telah menuliskan wahyu Rasulullah SAW dan mengikuti Al Qur`an, maka sekarang kumpulkan Al Qur`an itu!” Aku berkata, “Bagaimana mereka melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah?” Dia menjawab, “Demi Allah, ini lebih baik.” 

Abu Bakar masih terus datang memintaku hingga Allah SWT membukakan hatiku seperti halnya hati Abu Bakar dan Umar yang telah dibukakan. Aku kemudian mulai melacak Al Qur`an dan mengumpulkannya, ada yang tertulis pada kulit, pelepah kurma, daun-daunan, dan dada orang-orang yang menghafalnya.

Diriwayatkan dari Anas, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Di antara umatku yang paling pandai tentang ilmu faraidh adalah Zaid bin Tsabit.”

Diriwayatkan oleh Asy-Sya’bi, dia berkata, “Zaid menguasai dua perkara, yaitu Al Qur`an dan ilmu faraidh.” 
Diriwayatkan Abu Sa’id, dia berkata, “Ketika Rasulullah SAW wafat, para khatib Anshar berdiri dan berkata, ‘Seorang dari golongan kami dan seorang dari golongan kalian’. Zaid lalu berdiri dan berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah SAW termasuk golongan Muhajirin dan kami adalah penolongnya, maka sebaiknya yang menjadi pemimpin adalah golongan Muhajirin dan kami penolongnya’. Abu Bakar kemudian menjawab, ‘Terima kasih wahai sekalian kaum Anshar, tepat sekali ucapanmu itu. Seandainya kamu mengatakan yang lain maka kami tidak akan berdamai dengan kalian’.”

Kharijah bin Zaid berkata, “Sejak Umar menjadi pengganti Ayahku, aku memetikkan buah kurma dari kebun untuknya ketika ia datang.”

Diriwayatkan dari Abu Salamah, bahwa Ibnu Abbas menghampiri Zaid bin Tsabit dengan kendaraannya, kemudian memboncengnya, seraya berkata, “Paculah wahai putra paman Rasulullah!” Dia berkata, “Seperti inilah yang dilakukan oleh para ulama dan pembesar kita.” 

Diriwayatkan dari Az-Zuhri, dia berkata: Kami mendapat berita bahwa jika Zaid ditanya tentang sesuatu maka dia menjawab, “Apakah ini sudah terjadi?” Jika mereka menjawab, “Ya,” maka dia akan menjelaskan sesuatu yang diketahuinya. Jika mereka menjawab, “Tidak,” maka dia berkata, “Tunggulah sampai itu terjadi.” 

Diriwayatkan dari Tsabit bin Ubaid, dia berkata, “Zaid bin Tsabit adalah orang yang paling lucu dan paling pendiam di keluarganya menurut para kaum.”

Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, dia berkata, “Ketika Zaid bin Tsabit keluar hendak menunaikan shalat Jum’at, dia bertemu dengan orang yang kembali ke rumah masing-masing, maka dia berkata kepada mereka, ‘Orang yang tidak malu kepada manusia adalah orang yang tidak malu kepada Allah’.”

Diriwayatkan dari Amar bin Abu Amar, dia berkata, “Ketika Zaid meninggal, kami duduk bersama Ibnu Abbas di bawah pohon yang teduh, dia berkata, ‘Seperti inilah kepergian ulama, dan pada hari ini telah terkubur ilmu yang banyak’.”

Diriwayatkan dari Makhul, dia berkata, “Ubadah bin Ash-Shamit menyuruh seorang nabthi untuk memegang kendaraannya ketika di Baitul Maqdis, tetapi dia enggan, maka dia memukul dan melukainya. Umar lalu menengahinya seraya berkata, ‘Apa yang mendorongmu melakukan perbuatan ini?’ Dia menjawab, ‘Aku menyuruhnya dan dia tidak mau, sampai aku jengkel’. Mendengar itu, Umar berkata, ‘Duduklah kamu untuk dihukum qishash’. Zaid berkata, ‘Apakah kamu lebih membela budakmu daripada saudara laki-lakimu sendiri?’ Umar kemudian tidak jadi memukulnya, tetapi membayar diyat untuknya.”

Di antara kemuliaan Zaid adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq sangat mengandalkannya dalam penulisan Al Qur`an yang masih dalam bentuk lembaran-lembaran lalu mengumpulkannya dari mulut-mulut para pembesar, kulit, dan pelepah daun kurma. Mereka berusaha menjaga lembaran-lembaran tersebut sejenak di rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kemudian diserahkan kepada Umar Al Faruq, lalu diserahkan kepada Ummul Mukminin Hafshah. Setelah itu Utsman menganjurkan kepada Zaid dan seorang pria Quraisy untuk menulis mushaf Utsmani, yang pada saat ini di dunia telah diperbanyak, yang jumlahnya lebih dari satu juta mushaf, dan tidak ada kitab selain itu di tangan umat Islam. Segala puji bagi Allah.
Zaid meninggal tahun 45 Hijriyah, dalam usia 56 tahun.  

sumber: an-nubala